Feeds:
Posts
Comments

Avatar

Menonton film AVATAR garapan James Cameron akan membuat kita tercengang-cengang dengan tekhnologi animasinya yang begitu canggih. Memang wajar dia menyiapkan film ini begitu lama, karena hasilnya memang sangat bagus. Planet Pandora yang digambarkan dengan gunung dan air terjun yang menggantung, atau hutan yang diisi aneka tumbuhan dan hewan-hewan yang aneh tapi indah, mistis, membuat kita berfikir apa kah memang ada kehidupan yang seperti digambarkan di film ini. Kalau ada mau juga rasanya berkunjung kesana. Jalan cerita serta animasi yang dibuat film ini membuat kita yang menonton seolah memang berada di planet tersebut.

Pantaslah kiranya asal setiap teman yang aku tanya bagaimana film AVATAR ? selalu jawabannya film yang bagus. Di film ini, James menceritakan manusia planet bumi yang ingin mengambil kekayaan alam berupa batu di sebuah planet bernama Pandora,yang nilainya sangat mahal. Untuk mendapatkan apa yang diinginkan, manusia bumi melakukan segala cara termasuk memusnahkan komponen alam dari planet tersebut, mulai dari suku Na’vi, penduduk asli planet tersebut, hutan-hutan nya, hewan-hewan sampai dewa-dewa nya. Walau akhir dari film ini bisa kita tebak, bahwa kebaikan pasti akan selalu menang. Sehingga planet Pandora bisa selamat dari kerakusan manusia bumi. Walau sudah mengorbankan banyak hal.

Tetap saja bagiku ide kerakusan manusia, makhluk penunggu bumi menjadi kesan tersendiri dari film ini. Apakah film ini ingin menggambarkan bahwa wujud kerakusan manusia bumi di masa depan adalah seperti ini. Padahal kerakusan manusia saat ini,, di zaman ini saja sudah sangat banya dan membuat ngeri. Mulai dari kerakusan pejabat-pejabat kita yang tidak cukup-cukupnya dengan gaji mereka yang sudah besar tapi masih saja melakukan korupsi. Kerakusan jaksa dan aparat penegak hukum lainnya. Kerakusan pusat – pusat perbelanjaan yang menggilas kios-kios kecil. Kerakusan pembangunan kota yang membuat banyak orang kehilangan tanahnya, kehilanggan haknya, tanpa tahu mau mengadu ke siapa. Kerakusan pembangunan kota yang membuat tidak ada lagi tempat bermain dan menghirup udara segar. Kerakusan pembagunan kota yang sampai menjamah ketentraman dan keasrian desa. Sampai kerakusan negara-negara besar menjajah negara-negara lain, hanya untuk menguasai sumber daya alamnya dengan embel-embel atas nama membela HAM atau membasmi terorisme. Mungkin sifat manusiawi kerakusan yang dimiliki oleh manusia bumi inilah yang ingin diangkat dari tema film ini. Beginilah wajah kerakusan manusia di masa depan nanti. Kadang aku berpikir kapan semua kerakusan ini berakhir, kapan keseimbangan itu datang dan kapan keadilan itu menghampiri. Entahlah, semoga aku masih ada pada saat itu tiba.

Akhirnya,,,

Akhirnya aku sempat juga menyaksikan konser bulanan Iwan Fals. Gila,, padahal konser itu tiap bulan diadakan di rumah Iwan di Jl. Desa Leuwinanggung No 19, Cimanggis tapi aku selalu tidak dapat mendatanginya. Ada saja halangan, bulan kemaren aku lagi training ke Bali, bulan sebelumnya ada nikahan teman, bulan sebelumnya keluar kota,,,pokoknya ada saja aktifitas weekend akhir bulan yang ntah kenapa selalu bertepatan dengan jadwal konser  Iwan.

Untuk kali ini aku sudah menetapkan untuk datang, walau seharian sudah jalan bareng keluarga dan baru sampai di rumah jam 1.30 siang.  Konser Iwan akan dimulai pukul 3 sore. Aku langsung bersiap-siap, menyalakan motor dan segera melaju ke kawasan Cimanggis. Jarak Cimanggis-Depok tidak begitu jauh, kira-kira 1 jam lah waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke rumah Iwan.

Aku mengenal lagu Iwan Fals waktu masih duduk di kelas 6 SD. Dulu, di rumahku ada seorang laki-laki yang bekerja membantu ayah menjalankan usaha bengkel. Biasa nya malam-malam sehabis aku belajar aku sering main ke kamar nya. Sekedar main karena dia sudah kuanggap seperti saudara sendiri. Di kamar yang agak temaram itu lah aku dikenalkan dengan lagu-lagu Iwan Fals yang diputar dari sebuah radio tape yang sederhana. Kalau nggak salah lagu yang pertama kali dikenalkan padaku adalah Air Mata Api.  Waktu berikutnya aku semakin menyukai lagu-lagu Iwan yang selalu menyuarakan ketidak adilan, membela kaum-kaum terpinggir  dan menggambarkan kondisi sosial yang benar-benar nyata. Sampai sekarang, sampai nanti.

Sebenarnya pertama kali aku melihat konser Iwan Fals adalah di Jogja, tempat dulu aku kuliah. Waktu itu Iwan konser bareng Slank di Stadion Mandala Krida. Bisa dibayangkan konser yang terjadi,,benar-benar ramai karena kedua ikon musik itu mempunyai massa yang besar, Oi dan Slankers.

Aku sampai di Leuwinangung sekitar pukul 3 kurang. Wuih ternyata sudah ramai dengan orang, sudah pasti mereka semua ini para fans nya Iwan, bisa dilihat dari atribut yang mereka pakai, mulai dari kaos, tas, stiker di motor yang bergambar Iwan atau dari spanduk Oi yang mereka bawa. Di sepanjang jalan menuju tempat konser di rumah Iwan, dipenuhi oleh para penjual yang menjual barang-barang yang berbau Iwan, mulai dari kaos, tas, stiker, poster, kalender 2010, gantungan kunci dan lain-lain. Karena masih ada waktu aku sempatkan untuk membeli beberapa barang. Konser bulanan Iwan ini ternyata banyak mendatang kan rezeki bagi para pedagang seperti ini, dan juga buat warga kampung sekitar rumah Iwan, yang banyak juga berjualan makanan dan minuman atau para pemudanya yang mungkin ambil bagian untuk mengurusi parkir kendaraan.

Untuk persiapan konser aku membeli sebotol aqua, rokok (sampoerna a mild habis ,,,hiks ,,akhirnya beli Djarum, balik ke rokok jaman kuliah dulu) dan beberapa gorengan. Waktu hamper pukul 3, aku segera ngantri untuk beli tiket. Tiket konser bulanan Iwan Fals dijual seharga 40 rupiah. Antriannya tertib banget. Orang-orang ternyata sudah banyak juga di dalam rumah Iwan ini. Rumah Iwan luas,,kesannya natural banget karena banyak unsur batu dan warna nya yang abu-abu. Ah sial kenapa aku tidak bawa kamera,,akhirnya selama konser aku hanya mengandalkan kamare hp yang resolusinya amat terbatas dan nggak ada zoomnya hiks..    

Tempat konser berada di halaman belakang rumah Iwan, disekitar tempat konser kita bisa melihat foto-foto Iwan Fals, foto-foto aksi sosial dan hasil karya para pemenang “Karya Kita” yang diadakan tiap bulannya.

 

Akhirnya konser dimulai. Iwan keluar,,ah akhirnya aku bisa melihat secara dekat legenda hidup musik Indonesia itu. Berkaos hitam dan jeans biru,  Iwan menyapa penggemar, ia tampak sehat sehabis dari Mekkah. Orang ini kharismanya begitu kuat.

 Tema konser kali ini adalah Keseimbangan. Tema yang bagus, karena tanpa adanya keseimbangan, segala sesuatu tidak akan jalan, bidang apapun itu. Konser dimulai dengan penganugerahan penghargaan kepada Iwan Fals dari majalah Rolling Stones karena lagu Bongkar menjadi lagu terbaik diantara 150 lagu Indonesia terbaik sepanjang masa. Selain Bongkar masih ada 9 lagu Iwan lainnya yang masuk dalam 150 lagu tersebut, diantaranya Galang Rambu Anarki, Wakil Rakyat, sisanya aku lupa. Panggung konser cukup megah dan artistik dengan adanya karikatur-karikatur dengan slogan-slogan bijak di atas panggung.  Diatas tempat penonton ada kain yang bernuansa coklat membentang lurus dari panggung hingga ke barisan VIP di belakang.  Konser dibuka Iwan dengan Lagu Besar dan Kecil, Iwan tampil sendiri dengan gitar akuistiknya. Mau atau tidak besar dan kecil pasti ada di dunia ini. Tapi apa harus, yang besar selalu menindas yang kecil.

Penonton sudah dari awal lagu ini bernyanyi bersama. Banyak juga yang bawa anak kecil untuk menyaksikan Iwan. Ah besok kalau anakku sudah agak gedean akan aku ajak juga. Dia harus kenal Iwan, dia harus tahu lagu-lagunya Iwan yang mungkin tak akan ada lagi penyanyi Indonesia seperti Iwan di masa depan,,apalagi sekarang,,,sialan, lagu Indonesia sekarang dipenuhi lagu-lagu yang nggak jelas, temanya kalau nggak cinta, selingkuh, pengkhianatan, mengikuti selera pasar, nggak ada idealisme bermusik,  dasar instant.

Lagu kedua adalah lagu Pulang Kerja, bersama lagu Cikal, lagu ini termasuk lagu yang susah aku mengerti maksudnya. Pada lagu ini satu persatu personel band Iwan keluar, ada Totok Tewel (gitar), Heirrie Buchaery (bass), Edi Daromi (keyboard) dan Deni Kurniawan (drum). Aduh tiupan harmonika Iwan benar-benar damai. Lagu berikutnya bisa dilihat di daftar lagu (dibawah).  Diantara lagu yang dibawakan Iwan sore itu yang paling asik adalah lagu Mimpi Yang Terbeli. Kencang dan orang pada menari semua..meneriakkan harga-harga barang yang melambung  tinggi yang susah untuk dibeli hanya mimpi yang terbeli. Puluhan tahun lalu Iwan ciptakan lagu ini tapi masih saja nyambung dengan kondisi sekarang. Oh ya satu lagu lagi yang asik,,Orang gila..

 Beberapa lagu yang slow juga dibawakan Iwan, dan biasanya kalau lagunya agak pelan temponya penonton akan serentak duduk sambil kemudian menyalakan rokok, demikian juga aku. Konser kali ini benar-benar mantap, selain sound nya yang apik, atraksi gitar aremania Totok Tewel ikut menghangatkan suasana. Sering menari-nari dan menghampiri penonton.

Seperti info yang aku baca, di setiap konser bulanan Iwan selalu menampilkan 2 bintang tamu untuk diajak berkolaborasi dengan Iwan. Kali ini bintang tamunya adalah B3 (AB three dulu) dan satu lagi, adalah vokalis idolaku,.,,,,Ipang. Ini sepertinya menjadi hari keberuntunganku,  selain bisa melihat konser  bulanan terakhir Iwan Fals di 2009  aku sekalian bisa lihat Ipang nyanyi. Ipang bawakan 3 lagu, satu lagu Iwan, PHK, lagu kedua Gak Ada matinya dan lagu Ada yang Hilang dari OST Realita cinta and rock’n roll. Suaranya Ipang itu loh,,,yang membuat lagu apapun yang dia bawakan jadi enak, dan laki-laki banget. Ipang tampil tidak bersama BIP tapi band baru yang mungkin dia pakai untuk mengerjakan proyek solonya. Pemain keyboardnya seperti pemain keyboard Steven and Coconut Treez, ntahlah.

Mata Dewa menjadi  lagu penutup konser ini, Iwan tampil bersama Ipang dan B3, dibawah hujan senja  yang datang dari sepertiga akhir konser tadi. Tearkahir Iwan menyampaikan terimakasih buat semua pihak yang telah membantu terlaksana konser bulanan selama thun 2009 ini. Moga-moga  tahun depan masih ada konser bulanan seperti ini. Aku Puas, benar-benar puas menyaksikan konser Iwan fals.

Oleh-oleh buat Alif, anakku, kubelikan sebuah baju bergambar Iwan fals, nanti kalau sudah besar aku ceritakan tentang sosok di balik kaus itu dan akan kudengarkan lagu-lagu Iwan yang mewakili orang-orang yang dipinggirkan.

 

 Daftar Lagu :

  1. Besar & Kecil
  2. Pulang Kerja
  3. Adzan Subuh Masih di Telinga
  4. Berapa
  5. Semoga Saja Kau Benar
  6. Tak Pernah Terbayangkan
  7. Ibu
  8. Emak (bareng B3)
  9. Cinta Sampai Mati (B3 dan Iwan)
  10. Jangan Tutup Dirimu (bareng B3
  11. Orang Gila
  12. Mimpi Yang Terbeli
  13. Bunga Matahari
  14. PHK (bareng Ipang)
  15. Gak Ada Matinya (Ipang dan Iwan)
  16. Ada Yang Hilang (Ipang dan Iwan)
  17. Pulanglah
  18. Oh Ya
  19. Mata Dewa (Iwan, Ipang dan B3)

Kuta Senja

Lombok

Lombok, so nice to meet you

Ini bagiku termasuk salah satu surga dunia. (kayak tahu aja surga itu seperti apa :) )

Lombok, sebuah pulau yang terletak di sebelah Baratnya Bali yang katanya merupakan saudara kembar perempuan Bali.  Akhirnya aku sempat menginjakkan kaki disini (aku ingat novi,moncos teman kuliah yang berasal dari pulau ini). Bukan untuk liburan tapi ada training  yang aku ikuti. Walaupun sebenarnya jauh hari sebelum training aku sudah membayangkan deretan pantai indah , angin segar, malam terang bulan dan music reggae J . Mau diceritakan materi  training nya ? sedikit aja mungkin.  Training yang aku ikuti tema  nya “deep water siliciclastic sediment” . Jadi di training ini kita diajarkan apa itu sediment laut dalam , bagaimana proses pembentukannya dan bagaimana aplikasinya terhadap eksplorasi hidrokarbon. Untuk Indonesia sendiri target-target laut dalam ini belum banyak oil company yang mengembangkannya , karena ekplorasi di laut dalam memerlukan biaya operasional yang sangat mahal dan teknik pengeboran yang cukup rumit. Mungkin baru ENI yang berhasil dengan lapangan Asternya. Proses sedimentasi yang dominan di laut dalam adalah tubidite, dimana sediment –sediment dari darat-shelf tertrasnport melewati slope (lereng bawah laut) untuk diendapkan di daerah yang relatif datar di bawah laut (basil floor fan). Disinilah kita akan menemukan reservoir (batuan yang menyimpan hidrokarbon) . Waktu pembentukan sediment-sediment ini adalah pada saat muka air laut turun atau dalam istilah sekuen stratigrafi disebut Low Stand System Tract (jadi ingat Pak Budianto Toha : susah benar mengerti mata kuliah bapak :) ).

Turbidite sendiri terjadi apabila ada kemiringan bidang pengendapan dan densitas sediment lebih besar dari air laut. Namun walau namanya endapan laut dalam, proses sedimentasinya identik dengan pengendapan di darat (fluvial system).  Aku rasa cukup sampai disini dulu keterangan mengenai materi training nya, kalau mau diskusi lebih detail silahkan hubungi aku.

Sekarang kita cerita tentang Lombok saja  ya :) . Pulau Lombok adalah salah satu pulau besar yang ada di Provinsi NTB. Kota Mataram yang sebagai ibu kota provinsi ada di Pulau ini. Penduduknya mayoritas Muslim diikuti kemudian oleh agama Hindu. Umat Hindu sendiri tinggal secara berkelompok, misalnya di daerah Cakranegara,  namun dari cerita yang aku dengar toleransi antar agama di Lombok sangat bagus.  Pintu masuk Lombok dimulai dengan sesampainya di Bandara Selaparang.

Tempat aku menginap selama training adalah di daerah Senggigi. Daerah ini merupakan pusat turis. Di sini kita sering menjumpai turis lalu-lalang, jalan kaki atau naik sepeda motor. Di sepanjang jalan Senggingi banyak kita jumpai café, restaurant, pub, karaoke dan hiburan malam lainnya. Di Lombok hanya di daerah Senggigi saja yang boleh ada tempat hiburan malam seperti di atas, tidak akan  kita jumpai di kota Mataram. Tapi tetap saja walau banyak café dan restaurant, aku dan teman-teman makannya di warung sejenis pecel lele atau nasi goreng,,,he he he mental mahasiswa masih terbawa sampai sekarang. Jangan takut berlama-lama makan di warung atau café sepanjang Senggigi, daerah ini cukup aman.  Makanan Lombok enak-enak,  kalau main ke Lombok harus coba ayam taliwang, sate bulayak dan sate rambige yang dijual di dekat bandara,,,pedaaaaas.

Pantai Senggigi sendiri merupakan pantai yang yang terkenal.  Dan view dari hotel langsung berhadapan dengan pantai ini. Jadi tahu sendiri, waktu sore menjelang sunset aku banyak habis kan di sini. Tapi malam lebih asik, kita bisa merasakan angin malam pantai yang dingin, dan meihat di lautan sana lampu-lampu perahu nelayan seperti kunang-kunang.  Nikmati saat ini dengan minuman dan tembakau,,,wuih ,,,damai sekali.

Setelah hari terakhir  training, kami diajak mengunjungi sebuah pantai lagi di Lombok, lokasinya di daerah selatan Lombok. Pantai Kuta dia punya nama, sama dengan nama pantai di Bali. Tapi pantai ini berbeda 360 derajat dengan pantai Kuta Bali. Kalau di Kuta Bali, pastinya sangat ramai dengan turis, dan deretan café, hotel, distro dan sebagainya, di Kuta Lombok justru sepi sekali, sangat eksotis dan aku rasa cocok sekali buat pasangan yang mau bulan madu, he he he . Pantai ini di apit oleh perbukitan yang sudah terabarasi oleh air laut. Kalau sekilas dilihat dari warna putih batuan di perbukiatannya sepertinya disisun oleh batu gamping. Yang membuat pantai ini sangat khas adalah pasirnya,,,kereeen,, warna putih dan di dominasi oleh fosil orbulina (bener nggak ya ?). Jadinya pasir nya besar-besar dan bulat,,,,Hotel satu-satunya di sini baru Novotel dan apabila ingin jajan di luar jauh. Oh ya jalan menuju ke pantai ini kita akan melewati dua kampung yang katanya setiap tahun sering berperang, kedua kampung itu hanya dipisahkan oleh jalan. Aku tak tahu persis apa yang menyebabkan kedua kampung ini selalu berperang, tapi mudah2an esok hari akan selalu damai. Bukannya Lombok identik dengan pantai, dan anak pantai suka damai,,,he he he.

Setelah dari Pantai Kuta, rombonga training lain akhirnya bersiap-siap pulang kembali ke kota Jakarta. Aku dan beberapa teman memisahkan diri, kami akan segera berangkat ke Gili Trawangan yang mana perjalanan ini aku anggap sebagai klimaks selama di Lombok.

 Pulau Gili Trawangan  merupakan salah satau dari deretan 3 pulau yang ada di sebelah Barat Pulau Lombok. Dua lainnya adalah Gili meno( di tengah) dan Gili Air.  Untuk ke Gili Trawangan kita bisa dari Bangsal. Ini merupakan tempat dimana perahu-perahu berkumpul untuk melakukan penyebrangan ke Gili Trawangan-Gili Meno dan Gili Air. Dari Pantai Kuta menuju Bangsal memakan waktu perjalanan sekitar 2 jam. Aku dan teman-teman menyewa perahu utnuk ke Gili Trawangan seharga 180 rb rupiah, kalau tidak sewa biayanya bisa lebih murah namun tidak langsung ke Gili Trawangan. Waktu penyebrangan ke Gili sebaiknya jangan terlalu siang karena ombak lumayan tinggi . Dari ke tiga pulau Gili tersebut, Gili Trawangan merupakan yang paling ramai. Kegiatan dan fasilitas pariwisata berpusat disini, sehingga wisatawan juga lebih banyak disini. Di Gili Trawangan aku dan teman-teman menyewa sebuah kamar yang murah meriah , per malamnya 425 rb,,,jadi kalau dibagi 6 cukup murah lah. Tapi konsekuensinya ya harus tidur berbaris 6 orang di satu kasur, seperti sate yang siap dibakar, he he he .

Ketika sampai di Gili kira-kira pukul satu siang, kami sudah merencanakan sore ini akan snorkeling.  Karena cuaca masih panas, kami hanya menghabiskan waktu di kamar sambil ngobrol. Pengennya sih tidur siang tapi obrolan, minuman kaleng dan rokok mengalahkan hawa ngantuk. Sore tiba,,,ayo ke pantai,,,,,,,snorkling dimulai. Untuk  keindahan terumbu ternyata di Gili Trawangan kalah indah dari Pulai Putri (bagian dari Pulau Seribu) namun ikan disini lebih banyak. Memang kata orang untuk snorkling lebih bagus di Gili Air yang memiliki terumbu lebih indah. Menunggu sun set kami habiskan di pinggir pantai, sembari ngobrol, makan nasi, nikmati angin sore pantai yang sejuk,,,,ah benar-benar libur.

Malam hari di gili,,,,lampu-lampu café saling beradu kecantikan, walau tetap kalah dengan sinar bulan yang memantul di permukaan laut Gili. Malam hari waktunya para turis bule party,,,semuanya keluar semuanya tampak bersemangat untuk menghabiskan malam di pulau yang kecil ini. Aneka restoran, café, berbaris disepanjang jalanan Gili. Kami memilih makan malan di sebuah restoran Seafood. Biasa aja sih rasanya,,,tapi nggak apa-apalah , itung-itung menambah referensi makan di Gili setelah siang tadi kami makan di Warteg (ha ha ha di Gili juga ada Warteg,,mantap). Selesai makan, perut kenyang, langsung tidur ah,,,tapi itu bukan pilihan yang bijak Bro. mari kita habiskan malam di Gili. Menuju penginapan kami singgah di sebuah café reggae, yang mana house bandnya menyanyikan lagu-lagu reggae dari Bob Marley , Steven & Coconut treez dan yang lainnya. Memanglah, pantai tanpa reggae kurang sip rasanya….woi  yo..

Akhirnya kita harus segera tidur,,malam sudah larut. 

 Tapi ada satu lagi yang penting,,,ternyata menyusuri jalanan Gili Trawangan paling menyenangkan adalah waktu pagi jari,,dimana orang-orang masih pada tidur, tidak ada musik yang hingar bingar hanya ada suara sapu yang digerakkan para pemilik warung untuk membersihkan jalan,,atau suara canda anak-anak kecil Gili yang berlarian atau naik sepeda, suasananya begitu tenang, sepi dan damai. Ini lah hal terakhir yang aku nikmati di Gili sebelum segera menuju Lombok untuk terbang ke Jakarta,,,ah.

Jum’at pagi, sehabis mandi dan ketika hendak berangkat ke kantor, istriku berteriak..” sayang,,Rendra meninggal”!!!…Ah akhirnya seniman besar itu berpulang menghadap-Nya, tak bisa melawan yang namanya ajal.

Aku pribadi tidak terlalu mengenal karya-karya WS Rendra tapi aku tahu bahwa dia adalah seniman besar, sastrawan terkenal yang mungkin akan susah ditemui yang seperti beliau di generasi sekarang atau berikutnya. Aku tak heran kenapa salah seorang penulis favoritku Seno Gumira terispirasi oleh Rendra untuk menjadi seorang sastrawan atau seniman.

Aku lebih mengenal karya Rendra melalui syair-syair yang dia tulis bersama grup musik Kantata Taqwa bersama Iwan Fals. Puisi-puisi nya di lagu Kesaksian, Anak Zaman dll terasa begitu megah, dan mewakili penderitaan rakyat yang kehilangan haknya, rakyat yang kehilangan kesejahteraannya. Cobalah dengar lagu-lagu itu, maknai dalam-dalam, kau akan bisa merinding dan menangis dan merasa tidak berguna karena belum berbuat apa-apa untuk mereka.

Selamat Jalan Burung Merak

Selamat Jalan Willy dari Jogja

Karyamu akan terus hidup di negri ini

Semoga tenang dan bahagia di alam sana…

Boomerang nyayi lagi

O ya…Biarkan kami bernyanyi..
Tuk lepas kan semua… resah yang ada di hati…

Itu ada penggalan lirik lagu Oya oleh Boomerang. Aku beli album kedua mereka itu waktu masih SMP tapi kasetnya sudah hilang dipinjam orang (huh!). Boomerang termasuk salah satu band Indonesia kesukaanku, karena memang lagu-lagunya asik dan rock banget. Di setiap album selain lagu-lagu yang kencang pasti disisipin beberapa lagu yang slow dan kental baladanya.

Dan ketika tahun 2009 di bulan Maret – April ini, akhirnya Boomerang merilis album baru mereka “Suara Jalanan” . Mereka kembali di bawah naungan Log Zhlebour setelah sebelumnya sempat pisah di album Urbanustic. Di album ini Boomerang resmi merekrut Andry Franzy yang merupkan ex gitaris Power Slaves untuk didaulat menggantikan gitaris sebelumnya yang telah menjadi ikon band ini, Jhon Paul Ivan. Mungkin para Boomers ada yang nggak suka, sedih Ivan cabut dari band ini. Tapi nggak masalahkan, Boomerang harus ada walau tanpa Ivan. Aku piker Roy, Henry dan Farid berusaha untuk mencari gitaris yang beda style nya dengan Ivan dan itu ada di diri Andry. Dari segi teknik pun Andry juga mantap, nggak perlu diragukan.

Ketika membeli CD album baru ini, aku sudah yakin pasti lagu-lagu di album ini bagus-bagus dan ternyata memang demikian,,nggak nyesal deh beli albumnya. Di album ini ada 11 lagu baru :

1 .Hallo Sahabatku
2. Aurora
3. Suara Jalanan
4. Seumur Hidupku
5. Pantang Menyerah
6. Cyrus
7. Massa 33
8. Ujung Nafas
9. Superior Syndrome
10.Tetap Bernyanyi
11.Cicak Bin Kadal

Lagu pertama “Hallo Sahabatku” seakan menggambarkan Boomerang ingin menyapa fans nya yang telah 5 tahun tak ketemu dalam wujud album. Lagu yang sedikit slow dan kental baladanya adalah “Aurora” dan “Seumur Hidupku”. Ya sejenis dengan lagu-lagu hits mereka seperti Kasih, Pelangi, Kehadiranmu…
Sedangkan lagu Suara Jalanan,,,wow kencang dan rock abis, cocok untuk jadi penyemangat para demonstran yang tidak puas dengan tirani kekuasaan he he he . Ada satu lagu yang kental dengan nada Jawa Timur, “Massa 33”. Asik punya,, mungkin kalo dibawakan suporter Persebaya di stadion Tambak Sari bakal seru he he he . Pokoknya album baru ini bagus lah,,nggak kalah ama K.O dan Xtravaganza.

Aku tulis sedikit teantang album baru Boomerang ini bukan apa-apa. Aku senang sekali soalnya sudah lama aku menunggu band-band rock lama mengeluarkan album baru mereka. Bosan telingaku mendengar lagu pop-melayu “menye-menye”, menghiba-hiba, yang lagi menjamur dan disukai di Indonesia….

Rock still alive…

Caddy

Sebutlah namanya Arip. Dia seorang anak kecil mungkin usianya belum mencapai belasan tahun, paling banter kelas 2 atau 3 SD. Aku mengenalnya ketika kantorku mengadakan acara mancing bersama di daerah Karawang Barat sana. Acara ini sekalian untuk melepas beberapa pegawai yang sudah masuk masa purnakarya. Arip, begitu dia mengenalkan namanya ketika aku tanya “ siapa namamu Dik ?”. Arip menjadi “caddy” di kelompok mancing ku. Aku tak tahu apa istilah di dunia permancingan untuk seseorang yang membantu kita dalam memancing, jadi kuambil saja istilah caddy dari olahraga golf yang mewah itu.

Bagi ku yang tidak mengerti dengan dunia memancing merasa amat tertolong dengan adanya si Arip ini. Tangan-tangan kecil nya itu sangat lincah ketika memasangkan umpan. Atau ketika membantu ku membereskan benang pancing yang kusut. Awal-awal aku memancing tak satu ekor ikan pun yang dapat. Akhirnya si Arip dengan ilmunya mengajarkan, “Om, kalau mau dapat taruh umpan di tengah kolam dan perhatikan pelampung ketika mulai tenggelam, itulah waktu yang tepat untuk pancing ditarik”. Pernah juga ketika pelampungku rusak dan tidak dapat dijadikan indikator umpan kita sedang dimakan atau tidak, si Arip menyuruhku untuk tidak bingung dan perhatikan saja dengan seksama benang pancing yang terapung di atas air, begitu bergerak tarik katanya. Dan aku praktekkan ternyata benar aku dapat ikan.

Di sebelah kolam yang dijadikan acara oleh kantorku terdapat lokasi outbond. Kebetulan sedang ada acara outbond anak-anak SD. Suara ibu guru terdengar jelas dari pengeras suara. “Anak-anak ayo sapa yang bisa azan ?” “Anak sholeh,,,sapa yang bisa do’a setelah azan?” Anak-anak SD yang ramai itu bersahut-sahutan, saya Bu, saya Bu. Kemudian terdengar lagi suara bu guru, ayo anak-anak, perlombaan tarik tambang segera dimulai. Untuk kelas lain mungkin bisa bermain futsal terlebih dahulu, atau bermain getek di kolam sebelah. Anak-anak SD itu tampak begitu antusias, begitu semangat dan begitu gembira.
Aku melirik ke si Arip. Ternyata benar, kegiatan outbond anak-anak SD yang usianya mungkin sepantaran dengannya, di sebelah kolam kami itu amat menarik perhatiannya. Di saat belum ada anggota kelompok memancing membutuhkan bantuannya, pasti dia berdiri melihat dengan seksama kegiatan outbond di sebelah. Tidak jarang pula dia melompati pagar pemisah kolamku dengan lapangan outbond untuk melihat lebih dekat lagi. Pasti menyenangkan ya Rip,,anak-anak itu, anak-anak yang seusiamu yang sedang mengikuti outbond. Anak-anak yang sedang melewati masa-masa kecil mereka yang indah. Bermain bersama-sama dan didampingi oleh Ayah Ibu mereka. Dijaga jangan sampai anak mereka cedera. Di foto dengan berbagai sudut agar dapat dilihat nanti di rumah atau diceritakan ke orang lain, pikirku…Sedangkan kau, Arip, tidak pernah memperoleh kesempatan seperti itu. hari Sabtu Minggu mu selalu dihabiskan di kolam pancing ini. Mencari upah sebagai seorang caddy. Yang mungkin uangnya dipakai buat membantu orang tua. Sabtu Minggumu selalu akrab dengan air, kolam, umpan, kail, ikan dan berbagai peralatan pancing lainnya. Kau mungkin tidak seberuntung mereka tapi kau punya pengetahuan tentang memancing yang mereka, anak-anak beruntung itu tidak miliki. Kau bisa dengan bebas menikmati sejuknya angin di kolam pemancingan ini dan melihat permukaan air kolam yang tenang yang selalu memantulkan birunya langit dan emasnya sinar matahari. Jangan terlalu sedih Rip, jalan didepanmu masih panjang, siapa tahu suatu waktu kelak kau memiliki empang dan saung seperti di sini. “Arip….” Sahutku, ayo kesini, lepaskan ikan dari mata pancingku, itu ikan ke tujuh yang yang ku dapat hari ini.

Saung Mang Ajo, 16 Maret 2009

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.