Feeds:
Posts
Comments

Jum’at pagi, sehabis mandi dan ketika hendak berangkat ke kantor, istriku berteriak..” sayang,,Rendra meninggal”!!!…Ah akhirnya seniman besar itu berpulang menghadap-Nya, tak bisa melawan yang namanya ajal.

Aku pribadi tidak terlalu mengenal karya-karya WS Rendra tapi aku tahu bahwa dia adalah seniman besar, sastrawan terkenal yang mungkin akan susah ditemui yang seperti beliau di generasi sekarang atau berikutnya. Aku tak heran kenapa salah seorang penulis favoritku Seno Gumira terispirasi oleh Rendra untuk menjadi seorang sastrawan atau seniman.

Aku lebih mengenal karya Rendra melalui syair-syair yang dia tulis bersama grup musik Kantata Taqwa bersama Iwan Fals. Puisi-puisi nya di lagu Kesaksian, Anak Zaman dll terasa begitu megah, dan mewakili penderitaan rakyat yang kehilangan haknya, rakyat yang kehilangan kesejahteraannya. Cobalah dengar lagu-lagu itu, maknai dalam-dalam, kau akan bisa merinding dan menangis dan merasa tidak berguna karena belum berbuat apa-apa untuk mereka.

Selamat Jalan Burung Merak

Selamat Jalan Willy dari Jogja

Karyamu akan terus hidup di negri ini

Semoga tenang dan bahagia di alam sana…

Boomerang nyayi lagi

O ya…Biarkan kami bernyanyi..
Tuk lepas kan semua… resah yang ada di hati…

Itu ada penggalan lirik lagu Oya oleh Boomerang. Aku beli album kedua mereka itu waktu masih SMP tapi kasetnya sudah hilang dipinjam orang (huh!). Boomerang termasuk salah satu band Indonesia kesukaanku, karena memang lagu-lagunya asik dan rock banget. Di setiap album selain lagu-lagu yang kencang pasti disisipin beberapa lagu yang slow dan kental baladanya.

Dan ketika tahun 2009 di bulan Maret – April ini, akhirnya Boomerang merilis album baru mereka “Suara Jalanan” . Mereka kembali di bawah naungan Log Zhlebour setelah sebelumnya sempat pisah di album Urbanustic. Di album ini Boomerang resmi merekrut Andry Franzy yang merupkan ex gitaris Power Slaves untuk didaulat menggantikan gitaris sebelumnya yang telah menjadi ikon band ini, Jhon Paul Ivan. Mungkin para Boomers ada yang nggak suka, sedih Ivan cabut dari band ini. Tapi nggak masalahkan, Boomerang harus ada walau tanpa Ivan. Aku piker Roy, Henry dan Farid berusaha untuk mencari gitaris yang beda style nya dengan Ivan dan itu ada di diri Andry. Dari segi teknik pun Andry juga mantap, nggak perlu diragukan.

Ketika membeli CD album baru ini, aku sudah yakin pasti lagu-lagu di album ini bagus-bagus dan ternyata memang demikian,,nggak nyesal deh beli albumnya. Di album ini ada 11 lagu baru :

1 .Hallo Sahabatku
2. Aurora
3. Suara Jalanan
4. Seumur Hidupku
5. Pantang Menyerah
6. Cyrus
7. Massa 33
8. Ujung Nafas
9. Superior Syndrome
10.Tetap Bernyanyi
11.Cicak Bin Kadal

Lagu pertama “Hallo Sahabatku” seakan menggambarkan Boomerang ingin menyapa fans nya yang telah 5 tahun tak ketemu dalam wujud album. Lagu yang sedikit slow dan kental baladanya adalah “Aurora” dan “Seumur Hidupku”. Ya sejenis dengan lagu-lagu hits mereka seperti Kasih, Pelangi, Kehadiranmu…
Sedangkan lagu Suara Jalanan,,,wow kencang dan rock abis, cocok untuk jadi penyemangat para demonstran yang tidak puas dengan tirani kekuasaan he he he . Ada satu lagu yang kental dengan nada Jawa Timur, “Massa 33”. Asik punya,, mungkin kalo dibawakan suporter Persebaya di stadion Tambak Sari bakal seru he he he . Pokoknya album baru ini bagus lah,,nggak kalah ama K.O dan Xtravaganza.

Aku tulis sedikit teantang album baru Boomerang ini bukan apa-apa. Aku senang sekali soalnya sudah lama aku menunggu band-band rock lama mengeluarkan album baru mereka. Bosan telingaku mendengar lagu pop-melayu “menye-menye”, menghiba-hiba, yang lagi menjamur dan disukai di Indonesia….

Rock still alive…

Caddy

Sebutlah namanya Arip. Dia seorang anak kecil mungkin usianya belum mencapai belasan tahun, paling banter kelas 2 atau 3 SD. Aku mengenalnya ketika kantorku mengadakan acara mancing bersama di daerah Karawang Barat sana. Acara ini sekalian untuk melepas beberapa pegawai yang sudah masuk masa purnakarya. Arip, begitu dia mengenalkan namanya ketika aku tanya “ siapa namamu Dik ?”. Arip menjadi “caddy” di kelompok mancing ku. Aku tak tahu apa istilah di dunia permancingan untuk seseorang yang membantu kita dalam memancing, jadi kuambil saja istilah caddy dari olahraga golf yang mewah itu.

Bagi ku yang tidak mengerti dengan dunia memancing merasa amat tertolong dengan adanya si Arip ini. Tangan-tangan kecil nya itu sangat lincah ketika memasangkan umpan. Atau ketika membantu ku membereskan benang pancing yang kusut. Awal-awal aku memancing tak satu ekor ikan pun yang dapat. Akhirnya si Arip dengan ilmunya mengajarkan, “Om, kalau mau dapat taruh umpan di tengah kolam dan perhatikan pelampung ketika mulai tenggelam, itulah waktu yang tepat untuk pancing ditarik”. Pernah juga ketika pelampungku rusak dan tidak dapat dijadikan indikator umpan kita sedang dimakan atau tidak, si Arip menyuruhku untuk tidak bingung dan perhatikan saja dengan seksama benang pancing yang terapung di atas air, begitu bergerak tarik katanya. Dan aku praktekkan ternyata benar aku dapat ikan.

Di sebelah kolam yang dijadikan acara oleh kantorku terdapat lokasi outbond. Kebetulan sedang ada acara outbond anak-anak SD. Suara ibu guru terdengar jelas dari pengeras suara. “Anak-anak ayo sapa yang bisa azan ?” “Anak sholeh,,,sapa yang bisa do’a setelah azan?” Anak-anak SD yang ramai itu bersahut-sahutan, saya Bu, saya Bu. Kemudian terdengar lagi suara bu guru, ayo anak-anak, perlombaan tarik tambang segera dimulai. Untuk kelas lain mungkin bisa bermain futsal terlebih dahulu, atau bermain getek di kolam sebelah. Anak-anak SD itu tampak begitu antusias, begitu semangat dan begitu gembira.
Aku melirik ke si Arip. Ternyata benar, kegiatan outbond anak-anak SD yang usianya mungkin sepantaran dengannya, di sebelah kolam kami itu amat menarik perhatiannya. Di saat belum ada anggota kelompok memancing membutuhkan bantuannya, pasti dia berdiri melihat dengan seksama kegiatan outbond di sebelah. Tidak jarang pula dia melompati pagar pemisah kolamku dengan lapangan outbond untuk melihat lebih dekat lagi. Pasti menyenangkan ya Rip,,anak-anak itu, anak-anak yang seusiamu yang sedang mengikuti outbond. Anak-anak yang sedang melewati masa-masa kecil mereka yang indah. Bermain bersama-sama dan didampingi oleh Ayah Ibu mereka. Dijaga jangan sampai anak mereka cedera. Di foto dengan berbagai sudut agar dapat dilihat nanti di rumah atau diceritakan ke orang lain, pikirku…Sedangkan kau, Arip, tidak pernah memperoleh kesempatan seperti itu. hari Sabtu Minggu mu selalu dihabiskan di kolam pancing ini. Mencari upah sebagai seorang caddy. Yang mungkin uangnya dipakai buat membantu orang tua. Sabtu Minggumu selalu akrab dengan air, kolam, umpan, kail, ikan dan berbagai peralatan pancing lainnya. Kau mungkin tidak seberuntung mereka tapi kau punya pengetahuan tentang memancing yang mereka, anak-anak beruntung itu tidak miliki. Kau bisa dengan bebas menikmati sejuknya angin di kolam pemancingan ini dan melihat permukaan air kolam yang tenang yang selalu memantulkan birunya langit dan emasnya sinar matahari. Jangan terlalu sedih Rip, jalan didepanmu masih panjang, siapa tahu suatu waktu kelak kau memiliki empang dan saung seperti di sini. “Arip….” Sahutku, ayo kesini, lepaskan ikan dari mata pancingku, itu ikan ke tujuh yang yang ku dapat hari ini.

Saung Mang Ajo, 16 Maret 2009

KTP

Di lingkungan RT ku, setiap malam Minggu, selepas shalat Isya, adalah waktu untuk arisan. Arisan bapak-bapak yang mana aku selalu senang untuk menghadirinya. Karena acara ini menjadi salah satu media untuk bersilaturrahmi dengan warga lainnya. Sehingga kita bisa tahu bagaimana kabar masing-masing dan juga akan tahu apabila ada tetangga kita yang lagi mendapat musibah. Aku selalu semangat menghadirinya, biasanya kita berbicara tentang berbagai macam hal, mulai dari siaran sepakbola, memancing, masalah politik dan ekonomi, masalah kemacetan, masalah keamanan lingkungan dan berbagai hal lainnya.

Arisan malam itu tanggal 20 februari 2009. Kami arisan di gardu ronda, yang terletak dipojok lapangan badminton, disebelah mushalla. Setelah arisan hampir selesai, Pak Budi, selaku RT memberikan pengumuman tentang masalah Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang datang dari kelurahan, tentunya datang dari kecamatan, dan tentunya datang dari Pemda Depok dan munkin juga datang dari pusat. Isi pengumumannya adalah :
1. Bagi yang masih mempunyai KTP lama, yang berwarna kuning harus segera diperbaharui menjadi KTP baru yang berwarna biru.
2. Bagi yang sudah mempunyai KTP berwarna biru, warna background foto harus disesuaikan dengan tahun kelahiran. Bagi yang mempunyai tahun kelahiran genap (contoh : 1982), warna background foto harus biru, sedangkan yang tahun kelahirannya ganjil (contoh :1981), warna background foto harus merah. Perubahan ini paling lambat tanggal 26 Februari 2009. Apabila lewat dari tanggal yang sudah ditetapkan akan dikenakan denda sebesar Rp 50.000.

Aku kaget, heran mendengar pengumuman seperti ini. Pertanyaan-pertanyaan muncul dalam kepala dan bapak-bapak yang lain aku yakin juga sama. Semuanya pada menggerutu kesal.
Bagaimana tidak :
1. Pertanyaan paling besar adalah dasar dibuatnya sebuah peraturan atau kebijakan. Bagiku apasih pentingnya dibuat peraturan warna background foto harus dibeda-bedakan antara yang tahun kelahirannya genap dan ganjil. Tidak ada gunanya, bukannya yang penting kita sudah punya KTP dan terdaftar sebagai penghuni negri ini.
2. Untungnya bagi ku, kebetulan warna background foto di KTP ku merah, sesuai dengan tahun kelahiranku yang ganjil, 1981. Tapi bagi masyarakat lain yang warna background nya tidak sesuai dengan tahun kelahiran seperti peraturan di atas pasti merasa kesusahan. Mereka harus foto ulang lagi di studio foto, mencetak nya dan itu pastinya pakai duit kan? Dan di jaman sekarang foto di studio tidak ada yang murah. Mungkin bagi yang mengerti komputer sih bisa saja mengedit foto lama sehingga warna background bisa diubah sesuai dengan tahun kelahiran. Tapi itu pasti hanya sedikit orang yang bisa. Bagi masyarakat yang susah ekonominya pasti berpikir berkali-kali untuk mengikuti peraturan seperti ini. Mending duit buat foto lagi di studio itu digunakan buat membeli kebutuhan hidup.
3. Masalah sosialisasi peraturan yang terkesan terlambat. Pasti banyak masyarakat yang telat untuk memenuhi peraturan ini, dan mereka sudah ditunggu oleh denda sebesar Rp 50.000. Mending duit itu digunakan buat membeli kebutuhan hidup
4. Buang-buang waktu, untuk merubah KTP ini kita harus mendatangi RT dan RW untuk minta surat pengantar, kemudian baru bisa ke kelurahan untuk mengurus permohonan KTP baru. Ini buang-buang waktu namanya kan? Apalagi bagi orang-orang yang bekerja di luar rumah dari pagi sampai sore, sedangkan Sabtu-Minggu kantor kelurahan tutup,,aaaahhhh. Belum lagi di sana nanti bisa saja dikenakan biaya juga… aaahhh mengesalkan.

Mungkin bagi orang-orang yang punya uang dan waktu banyak, hal-hal yang aku sebutkan diatas tidak akan jadi masalah. Tapi coba lah lihat disekitar kita, rakyat masih banyak yang susah untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Berjuang untuk makan hari ini, entah untuk esok. O..kalian yang berwenang membuat peraturan, tolonglah buat peraturan yang tidak menyusahkan rakyat lagi. Tentunya kalian tidak ingin kami, rakyat ini berburuk sangka bahwa peraturan ini hanya sekedar dagelan semata, bahan proyek untuk mendapat penghasilan tambahan. Ah….

Surat buat Anakku

Surat ini aku buat, untuk aku sampaikan, mungkin secepatnya ketika kau bisa mendengar dan memahami sesuatu, atau kalau tidak suatu saat kelak ketika kau buka blog ku ini….

Malam, menjelang jam 10 penantian itu akhirnya datang. Engkau lahir ke dunia ini dengan selamat. Sayang aku tidak bisa melihat secara langsung dan mendengar tangisan pertama mu. Tapi aku yakin kau akan menangis keras menandakan kau telah hadir di dunia ini. Anak laki-laki ku yang selalu ku nantikan. Anak yang kelak akan meneruskan garis keturunan ku, meneruskan marga.

Waktu memang tak terasa, kemaren aku masih SD, SMP, SMU Kuliah dan berkerja, sekarang aku sudah memiliki anak. Memang siklus kehidupan selalu begitu, selalu berulang, ada yang pergi ada yang datang ke dunia ini. Kelahiran mu ini menjadi hadiah yang paling istimewa di penghujung tahun 2008. Bertambah istimewa lagi ketika kepulangan mu dari rumah sakit menuju rumah kita diiringi takbir yang berkumandang di seluruh penjuru kota. Kau lahir berdekatan dengan hari raya Idul Adha.

Anakku, ketika kau lahir dan kukabarkan berita gembira ini. Semua keluarga kita, teman-teman ayah dan bunda mu mengirimkan pesan atau telfon menyelamati kelahiranmu dan mendoakan agar kau selalu menjadi anak yang shaleh, menjadi bintang di keluarga kita, berguna bagi agama dan masyarakat dan menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. Dan itu juga yang selalu aku doakan di setiap shalatku. Aku tak tahu, apa yang telah di garis Tuhan tentang rezeki mu, jodohmu dan ajalmu kelak. Itu rahasia yang Maha Kuasa, kita hanya bisa berusaha dan menjalaninya. Tapi tentunya segala yang baik aku harapkan terjadi padamu.

Kau kuberi nama Alif Raqilla Lubis. Alif, huruf pertama dalam abjad arab. Karena kau anak pertamaku, cocoklah kiranya. Disamping itu, bentuk huruf Alif yang lurus aku harapkan kau menjadi anak yang selalu menempuh jalan yang lurus (istiqamah) . Bentuk huruf itu juga menurutku mewakili sifat tegar dan mandiri. Raqilla itu artinya selalu berbuat kebaikan. Sedangkan Lubis itu marga kita, marga dari nenek moyang kita dan merupakan identitas kita sebagai orang Batak. Jadi kalau digabung, namamu itu berarti anak pertamaku yang menempuh jalan lurus dan selalu berbuat kebaikan. Nama ini aku anggap baik dan semoga doa yang terbawa oleh nama ini kelak menjadi kenyataan. Sekarang kau belum mengerti karena kau masih hanya bisa tidur tenang dengan wajah indahmu itu.

Membesarkan mu dan mendidikmu menjadi anak yang baik merupakan sebuah tanggung jawab yang besar bagi kami, orang tuamu. Aku selalu dihantui rasa takut apakah kami orang tuamu yang keduanya bekerja ini, nanti bakal dapat memberi kasih sayang yang banyak buatmu. Aku takut kami pergi kerja engkau masih tertidur dan ketika pulang, kau sudah menunggu dengan harapan dapat berbagi kasih kami malah kecapean dan memilih untuk tidur. Aku takut kami tak bisa memperhatikan perkembangan jiwamu, dan tidak dapat mendampingimu saat kau menonton televisi. Aku takut waktu mu banyak dihabiskan di depan pesawat kotak itu karena sekarang ini banyak sekali acara-acara yang tak ada gunanya untuk ditonton. Maafkan kami, tapi aku janji akan mendidik mu sebaik-baiknya sampai suatu saat nanti engkau memutuskan jalan hidupmu sendiri.

Aku teringat akan sebuah materi ceramah dari ustad bahwa ada 3 nasehat Lukman yang terkenal yang diberikannya kepada anaknya :

  1. Jangan pernah menyekutukan Allah, dalam bentuk apapun. Karena Dia adalah yang Maha Esa.
  2. Selalu tegakkan shalat. Shalat merupakan identitas kita sebagai orang Islam. Aku pun masih berusaha untuk menegakkan shalat tepat waktu.
  3. Jangan pernah sombong. Sombong adalah sifat yang tidak baik karena sifat itu hanya milik Tuhan. Dan yakinlah kalau kau punya sifat sombong kau tidak akan dapat bergaul dengan baik di lingkungan masyarakat mu kelak. Tetaplah membumi dan menginjak tanah.

Terakhir, selamat datang ke dunia baru ini anakku. Semoga kau menjadi anak yang shaleh, menjadi bintang di keluarga ini dan memberikan manfaat bagi agama dan masyarakat.

Jauh jalan yang harus kau tempuh

Mungkin samar atau mungkin terang

Tajam kerikil setiap saat menunggu

Engkau Lewat dengan kaki tak bersepatu

Duduk sini nak, dekat pada bapak

Jangan kau ganggu ibumu

Turunlah lekas dari pangkuannya

Engkau lelaki kelak sendiri

(NAK by Iwan Fals)

Doa di Atas Atap

Tahun pun akan segera berganti. Beberapa jam ke depan kita akan memasuki tahun 2009, tahun apakah ini ? anjing, tikus, babi hutan, ayam jago, ah perduli setan. Sedari siang tadi, jalanan di sekitar kawasan rumahku sudah mulai ramai dengan hilir mudik orang. Ada yang berombongan dengan mobil entah kemana, ada yang konvoi dengan motor entah kemana. Di sepanjang jalan, di bagian trotoar diisi oleh para penjual jagung lengkap dengan arang dan alat pembakar jagung. Berharap memperoleh rezeki di penghujung tahun. Sedangkan para penjual kembang api dan petasan sudah seminggu lebih dulu mengisi ruas-ruas jalan. Aku tidak menyiapkan apa-apa untuk menyambut tahun baru kali ini, karena memang bukan budayaku. Aku hanya akan menghabiskan malam ini bersama keluarga ku.

 

Detik-detik pergantian tahun pun tiba. Aku bergegas ke atap rumah : tempat favoritku. Aku sudah merencanakan ini, walau aku tidak begitu suka dengan perayaan tahun baru, tapi aku tetap tergoda untuk melihat langit di malam pergantian tahun. Dan benar saja, tepat pukul 00:00, di delapan penjuru mata angin, langit dihiasi oleh warna-warni kembang api yang disertai bunyi letusan. Indah, gelap langit malam berganti terang benderang warna-warni untuk beberapa saat. Aku menikmati semua itu sambil duduk di atas atap sembari mengepulkan asap ke angkasa. Ada juga 2 ekor kucing di atap yang hanya duduk manis, tidak mengerti tahun telah berganti.

 

Aku terbayang dengan saudara-saudara ku di bagian bumi yang lain, Palestina. Ya, sejak tahun baru Hijriyah kemaren, Israel tidak henti-hentinya melakukan agresinya ke pemukiman rakyat Palestina di Jalur Gaza. Rakyat Palestina mungkin tidak akan dapat menikmati malam pergantian tahun seperti di tempat ku atau di bagian bumi yang lain. Bukan suara dan warna-warni kembang api yang mereka dengar dan lihat tapi suara letusan rudal, roket, peluru. Lihat lah di TV, korban banyak jatuh dari masyarakat sipil, ibu-ibu dan anak-anak. Apakah mereka dapat menikmati budaya tahun baru ini, pastinya tidak.  

 

Masih duduk di atas atap, masih dihibur oleh warna-warni kembang api, aku menyelipkan doa di penghujung tahun. Doa yang yang berisi rasa syukur kepada Sang Maha Kuasa, Allah, atas segala rezeki, rahmat dan karunia yang begitu banyak diberikan kepadaku, kepada keluargaku sepanjang tahun 2008. Tak akan cukup menguraikan smuanya. Aku masih diberikan kemudahan rezeki di saat krisis global melanda dan banyak pegawai yang di PHK. Aku masih bisa nyaman berkendaraan disaat orang berjejalan di angkutan umum atau kehujanan di jalan. Aku masih bisa tinggal aman dan tentram di rumahku di saat orang lain terpaksa hidup di kolong jembatan atau pinggiran rel kereta api. Aku masih bisa makan 3 kali sehari disaat banyak orang kesusahan untuk makan. Aku masih bisa menyaksikan indahnya wajah anakku saat tidur di saat banyak orang meninggalkan anak mereka begitu saja karena tidak mau susah mengurusnya. Itu semua membuatku harus dapat menjadi orang yang bersyukur atas segala yang diberikan dan mentransferkan sebagian rezeki itu ke orang lain, supaya berkah.   Doa yang berisi semoga di tahun 2009 aku dapat menjadi orang yang lebih baik lagi. Doa yang berisi permohonan kepada sang Pencipta agar saudaraku di Palestina sana diberikan kekuatan, kesabaran dan pertolongan dalam menghadapi semua angkara murka yang tidak ingin Islam ada di muka bumi ini.

 

Rangkaian doa-doa ku ke langit selesai hampir berbarengan dengan warna-warni kembang api yang mulai hilang, langit mulai kembali gelap, sedangkan 2 ekor kucing di atap yang masih duduk manis, tidak mengerti tahun telah berganti.

 

 

Selamat Tahun Baru 2009

 

 

 

cerita tentang Jogja

Malam, disertai hujan gerimis, sehari setelah aku menyelesaikan ujian akhir masa SMU (ebtanas). Suatu malam yang akan menjadi awal bagiku untuk meninggalkan kota tempat dimana aku lahir dan dibesarkan, Pekanbaru. Malam itu kepergian ku dilepas tangis ibuku. Sementara bapak hanya tenang dan diam, namun aku yakin ada gemuruh di dadanya ketika melihat anak laki-lakinya yang bertahun-bertahun bersama akan segera berangkat menuntut ilmu di kota lain. Selamat tinggal wajah-wajah terkasih, yang lama kelamaan semakin hilang dari balik kaca oto bus ku.

Jogjakarta, sebelum matahari berpijar aku sampai. Jalanan masih sepi dan bangunan-bangunan kota tidak tampak begitu jelas, hanya lampu-lampu jalan saja yang sepertinya menyambut kedatangan ku.

Ini adalah untuk yang kedua kalinya. Tiga tahun yang lalu, saat liburan panjang SMP, untuk pertama kalinya aku sampai di Jogjakarta. Impresi yang timbul pertama kali saat itu adalah, bahwa kota ini begitu sederhana, dan sangat mengasyikkan. Aku masih ingat ketika aku jalan-jalan di komplek UGM, para mahasiswa banyak yang menggunakan sepeda, dan saat itulah aku berniat suatu saat nanti aku harus ke kota ini kembali untuk melanjutkan sekolahku. Dan hari ini angan itu terwujud sudah.

Perlu kujelaskan lagi kenapa aku memilih kota ini sebagai persinggahanku. Seperti yang kusebut di atas, kota ini sederhana. Tidak begitu banyak bangunan-bangunan tinggi yang dapat menghalangi pandangan kita ke langit biru. Jumlah mobilpun tampaknya kalah dengan jumlah sepeda motor yang benar-benar menguasai jalanan Jogja. Bohong kalau di Jogja ini tidak ada orang kaya, konglomerat atau pengusaha sukses. Pasti ada bahkan mungkin banyak. Namun kesan kaya itu tidak terlihat di kota ini, atau mungkin karena pergaulanku yang tidak sampai ke lingkungan elit tersebut. Kesederhanaan Jogja menurutku secara tidak langsung tercermin dari biaya hidup yang cukup murah, dan ini termasuk alasan kenapa aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Jogja. Bukan di Bandung atau Jakarta. Aku berpikir dengan begini orang tuaku tidak terlalu berat menanggung biaya kuliah dan hidupku. Kasihan, bapak sudah terlalu lelah mencari uang.
Perasaan aman menjadi sebuah nilai yang amat berharga yang diberikan Jogja bagi pendatang seperti ku. Aku tidak tahu banyak kota lain tapi kalau dibandingkan dengan kota kelahiranku, Pekanbaru, begitu terasa perbedaannya. Di kota asalku, ketika kita melewati sebuah jalan atau gang yang baru pertama kali kita lewati dan di jalan atau gang tersebut ada anak-anak muda yang lagi kumpul-kumpul biasanya kita akan merasa cemas karena tidak jarang mereka akan menindas orang baru di wilayah mereka. Bisa dengan minta uang atau barang berharga. Juga, ketika keluar di malam hari sebaiknya jangan terlalu malam (di atas jam 9 malam) karena lingkungannya tidak terlalu aman, intinya kita selalu merasa was-was. Nah, kondisi dan perasaan seperti di atas tidak pernah aku alami selama di Jogja. Alhamdulillah aku tidak pernah mengalami tindak kriminal, walaupun di setiap kota termasuk Jogja pasti ada yang disebut preman, gali atau apapun namanya. Kita bisa melewati gang-gang atau jalan yang baru pertama kali kita datangi dengan perasaan aman, dan kalaupun ada anak-anak muda yang sedang kumpul-kumpul ya tinggal bilang permisi, kulo nuwun. Tidak jarang juga aku keluar dari kos menjelang tengah malam untuk sekedar makan di lesehan, warung bubur kacang ijo (burjo) atau angkringan. Walaupun sepi, jalanan Jogja tetap terasa aman untuk di lewati. Tempat makan seperti warung burjo dan angkringan adalah tempat-tempat yang sering aku kunjungi. Waktu yang tepat untuk datang adalah malam hari dan biasanya aku datang dengan teman-teman kos. Untuk makanan, tidak ada masalah. Memang ciri masakan khas Jogja dan Jawa umumnya adalah rasa manisnya lebih terasa. Berbeda dengan daerahku yang mana ciri masakannya adalah pedas. Dan tidak perlu khawatir karena di Jogja warung makan yang menawarkan aneka rasa tersebar di setiap penjuru kota. Ada tempat lain yang sering aku kunjungi yaitu tempat penyewaan komik di daerah Gejayan. Aku bisa memuaskan dunia fantasiku dengan membaca komik. Aku juga suka sekali mengunjungi deretan pantai Selatan, seperti Pantai Kerakal, Sundak dan Putih. Pantai-pantai ini lebih sepi dibandingkan Parangtritis . Menikmati angin pantai sambil makan ikan bakar. Wuenak tenan. Dan yang terakhir aku suka juga menyambangi Kaliurang . Sekedar duduk di gardu pandangnya melihat Gunung Merapi dari dekat. Udara pegunungan memang selalu menyejukkan.

Sampai aku lulus kuliah di Teknik Geologi UGM, aku telah ada di Jogja kurang lebih 5 tahunan. Waktu yang cukup lama, tapi yang namanya waktu tetap tak terasa berlalunya. Kalau ditanya pengalaman yang berkesan selama di Jogja, aku pasti akan menjawab banyak namun salah satu yang menempati urutan teratas adalah pengalaman mendaki gunung bersama teman-teman kuliah. Bagiku yang lahir dan besar di Pekanbaru, yang namanya gunung adalah objek alam yang langka. Gunung hanya bisa dilihat apabila kita pergi ke Sumatra Barat atau Sumatra Utara. Sehingga sampai aku SMU pun aku tidak mengenal aktivitas pendakian gunung. Aku sangat menikmati saat mendaki gunung. Bayangkan, bersama-sama teman, kita dapat menghirup segarnya udara pegunungan, mencium wangi daun dan pepohonan, menikmati hangatnya secangkir kopi, sebungkus mi rebus dan rokok yang tentu tidak boleh lupa. Bayangkan, bersama teman-teman kita dapat merasakan susah dan lelahnya melewati lereng gunung dan merasakan puasnya setelah sampai di puncak. Namun, diantara beberapa kunjungan ke gunung, yang boleh dikatakan paling lucu adalah saat aku dan teman-teman kuliah (Bimo, Ciput, Lanang, Afnin) memutuskan untuk ke Gunung Bromo. Kami sudah mempersiapkan segala kebutuhan pendakian, dan dengan gagahnya melewati kota-kota menuju Jawa Timur sambil membawa carrier bag. Dasar tidak tahu informasi, ternyata yang namanya Gunung Bromo adalah gunung wisata, bahkan untuk ke puncaknya sudah banyak tersedia mobil Jeep yang siap mengangkut kita, tentunya bayar, dan jalan menuju puncak pun sudah diaspal bagus. Jadinya kami tidaklah menjadi pendaki gunung, tapi hanya mejadi turis lokal. Untuk turun dari puncak ke kaki gunung kami sudah kehabisan uang. Uang sudah banyak terpakai buat naik ke puncak tadi. Tidak cukup untuk menyewa Jeep lagi. Uang harus disisakan buat ongkos pulang ke Jogja nanti. Akhirnya kami menumpang mobil sayuran yang akan turun ke kaki gunung. Jalan menurun yang berkelok-kelok membuat perut ini mual. He.. he.. di sini aku dan Ciput saling berlomba menahan diri untuk tidak muntah.

Ada lagi sebuah pengalaman yang mengesankan. Aku suka mendengar musik dan lebih suka lagi apabila menyaksikannya secara langsung. Selama di Jogja, kesempatan untuk menyaksikan konser musik sangat banyak. Namun di antara konser-konser yang pernah aku saksikan yang paling berkesan adalah ketika melihat langsung konser salah satu band favoritku, Helloween. Dahsyat, permainan mereka benar-benar hebat. Jogja malam itu hingar-bingar dihentak musik cadas mereka.

Sebagai mahasiswa Teknik Geologi, kita diwajibkan untuk melakukan pemetaan mandiri. Aku mendapat wilayah pemetaan yang paling jauh saat itu. Bersama teman-teman ku (Eli, Putra, Dodol dan Jefri) kami melakukan pemetaan di wilayah Gombong, Prop. Jawa Tengah. Dari Jogja sekitar 4 jam apabila menggunakan sepeda motor. Daerah pemetaan ku berada di daerah pantai, dan sebuah pantai yang sering ku datangi adalah pantai Ayah.
Pantai yang sepi namun cukup indah. Ada sebuah ritual yang sering kulakukan selama pemetaan di Gombong. Di daerah pemetaan ku terdapat deretan perbukitan kars yang sangat luas. Begitu masuk Gombong kita pasti sudah bisa melihat deretan perbukitan ini. Setiap sore hari sebelum kembali ke basecamp, sehabis melakukan pemetaan biasanya aku meyempatkan diri untuk duduk di pinggir jalan yang langsung menghadap deretan perbukitan kars. Jalan dan perbukitan kars dipisahkan oleh daerah lembah. Di jalan inilah aku selalu menghabiskan sore sebelum senja. Menghilangkan kepenatan dan kejenuhan pemetaan sambil melihat indahnya deretan perbukitan kars.

Aku pikir, UGM, tempat ku kuliah termasuk salah satu universitas yang masih mewajibkan mahasiswanya untuk KKN. Aku termasuk telat untuk mengikuti KKN dibanding teman-teman geologi yang lain. Jadi, ketika KKN teman-teman kelompokku di dominasi oleh angkatan 2001 bahkan ada yang 2002. Tempat ku KKN tidaklah begitu jauh. Magelang kota yang gemilang, lebih kurang 1 jam dengan sepeda motor dari Jogja. Sebelum perempatan lampu merah yang menuju kawasan Candi Borobudur, belok kanan, lurus terus sampailah di desa tempat ku KKN, Desa Mungkid. Mungkin bagi mahasiswa yang lain KKN saat ini sudah tidak begitu penting, lebih baik dihapuskan sehingga tidak memberatkan mahasiswa. Tapi buatku, aku sangat senang dengan KKN. Aku akan ke Desa, sebuah lingkungan yang dapat membuat kita berhenti sejenak dari ramainya kota. Hari-hari pertama KKN belum begitu menyenangkan, karena masih dalam tahap adaptasi. Namun minggu-minggu berikutnya aku sudah membaur dengan masyarakat, bapak-bapak, pemuda dan anak-anak. Pemuda desa menurutku memegang peranan penting untuk sukses tidaknya program-program yang akan kita laksanakan selama KKN. Apabila kita dapat beradaptasi, mereka tidak akan sungkan membantu mewujudkan program kita. Malam-malam ku selama KKN sering dihabiskan di gardu ronda. Sehabis shalat Isya kumpul sama pemuda desa untuk sekedar ngobrol ngalor ngidul, gitaran atau main karambol. Menjelang tengah malam biasanya aku diajak pemuda desa untuk keliling rumah warga mengambil jimpitan. Jimpitan ini semacam upah untuk orang-orang yang menjaga keamanan dukuh, bisa berupa uang atau beras. Program-program ku selama KKN semuanya sukses terlaksana. Tapi entah mengapa aku tidak terlalu puas. Aku lebih puas dengan kenyataan bahwa aku pribadi dapat bergaul baik dengan masyarakat tempat aku KKN dan mereka juga menerimaku. Yang cukup mengharukan adalah ketika masa KKN kami selesai, hari itu kami akan kembali ke Jogja. Ketika kami berjalan menuju bus yang sudah menunggu, sepanjang jalan warga berbaris untuk menyalami kami satu-persatu. Ibu-ibu dan anak-anak terlihat menangis melepas kepergian kami. Namun satupun pemuda desa yang selama ini sudah bergaul dengan kami tak tampak batang hidungnya. Aneh,,apa mereka tidak tahu dan tak mau perduli kami akan pulang? Waktu berikutnya aku baru tahu kenapa mereka tak mau hadir saat kami akan meninggalkan desa. Ternyata mereka sedih sehingga mereka hanya melihat kami dari kejauhan dari tengah sawah. Aku tak akan pernah lupa masa-masa KKN ini.

Bicara mengenai obsesi. Obsesiku yang telah tercapai selama di Jogja adalah aku bisa lulus dengan target yang memang sudah kutetapkan yaitu 5 tahun. Obsesi lainnya adalah aku bisa memperoleh uang dengan hasil usahaku sendiri. Dulu, ketika aku masih SMU aku selalu bercita-cita ketika kuliah nanti aku harus bisa mencari uang dengan usaha sendiri. Uang yang aku peroleh memang tidak jauh dari lingkungan kuliah ku yaitu membantu mengerjakan proyek dosen. Dari hasil ikut proyek ini aku bisa membiayai hidupku tanpa minta kepada orang tua lagi. Obsesi berikutnya yang terwujud adalah, aku bisa ngeband bareng teman-temanku di SMU dulu. Tampil di beberapa festival walau tak pernah menang. Jadi band pengisi acara walau tak dibayar. Sebuah aktivitas yang bisa membuat hidupku ada variasinya. Tidak selalu disibukkan dengan urusan kuliah dan praktikum. Obsesi yang belum sempat terwujud selama di Jogja ada beberapa. Diantaranya adalah dulu aku punya keinginan mengelilingi pulau Jawa, dari satu kota ke kota lain. Obsesi ini tidak pernah terwujud. Yang lainnya adalah aku belum sempat menikmati semua seluk beluk budaya Jogjakarta. Padahal dulu ketika SMU, aku tahu Jogja adalah kota seni dan budaya, tapi sampai aku lulus aku tidak pernah menyaksikan pagelaran seni Joga baik berupa tarian, teater dan lain-lain. Menyedihkan.

Jogjakarta bisa dikatakan sebagai Indonesia mini. Karena di kota ini kita bisa menjumpai orang dari berbagai penjuru negeri. Begitu juga dengan teman-teman di kampusku. Orang-orang dari berbagai suku, agama dan ras ada di sekitarku. Aku punya teman yang asli dari Jogja, dari Jawa Barat sampai Jawa Timur, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Ambon, NTT, NTB dan bahkan dari Papua sana. Awal-awal masa kuliah aku belum dapat banyak bergaul. Permasalahan utama pada saat itu adalah masalah bahasa. Teman-teman lebih banyak berasal dari Jogja sehingga bahasa yang dipakai lebih sering bahasa Jawa. Jadi kalau mereka ngobrol sering tidak dapat kutangkap apa maksudnya. Namun seiring waktu lama-kelamaan aku mulai mengerti bahasa Jawa. Berbagai macam suku, ras dan agama tidak menjadi sebuah halangan bagiku untuk membina persahabatan di lingkungan kampus. Hal itu malah membuat wawasan kita berambah kaya. Aku bisa bertanya, Kalimantan seperti apa ya ? atau Papua seperti apa ya?.Yang agak sedikit mengganggu adalah apabila aku ditanya : “dari mana?” aku jawab “dari Pekanbaru”. Orang biasanya langsung menyimpulkan , oooo bapaknya kerja di Caltex ya,,,.

Aku rasa, untuk menceritakan Jogja pasti membutuhkan beribu kata. Yang pasti bagiku kota ini sangat menyenangkan. Kota yang disekitarnya mempunyai banyak tempat wisata yang akan sangat sayang apabila tidak kita kunjungi. Apabila kita menyukai wisata gunung, kita bisa ke Utara, meyambangi Gunung Merapi. Kalau suka wisata pantai, kita bisa ke Selatan melihat deretan pantai Selatan. Kita suka melihat candi, gampang, Candi Prambanan dan Borobudur tidak begitu jauh dari Kota Jogja. Kalau suka dengan hal-hal yang berbau sejarah, kita bisa mendatangi Keraton, tempat tinggal Sultan Hamengkubuwono, atau ke benteng Vredeburg. Untuk menuju keraton kita akan melewati sebuah jalan yang sangat terkenal dan menjadi identitas kota Jogja, Jalan Malioboro. Jalan yang sangat ramai oleh para penjual kaki lima yang menjajakan aneka barang seperti barang-barang kerajinan tangan, ukiran, pakaian dan lain-lain. Namun kondisi Maliboro saat ini tidak senyaman dahulu. Sekarang jalan ini terlalu ramai, terlalu bising oleh kendaraan yang lalu lalang yang akhirnya menciptakan kemacetan. Belum lagi becak dan delman yang juga sibuk lalu lalang seperti tidak mau kalah dengan kendaraan bermotor. Seharusnya pemerintah Daerag Istimewa Yogyakarta (DIY) segera memikirkan cara bagaimana membuat Malioboro seperti dulu lagi. Membuat kita merasa nyaman untuk berjalan-jalan di sepanjang jalan ini. Sedih kalau jalan yang menjadi identitas kota ini menjadi tak terurus dan tidak ada bedanya dengan jalan-jalan lain.

Terus terang, selama hidup di Jogja aku tidak terlalu banyak berinteraksi dengan masyarakat asli Jogja. Namanya anak kos, jadi lingkungan disekitarku adalah anak-anak kos yang sama sepertiku, pendatang dikota ini. Paling interaksi ku hanya seputar pemilik kos, pemilik kos sebelah, atau yang punya warung makan di dekat kos. Pola kehidupan di Jogja turut menciptakan nilai-nilai yang dapat kupelajari. Kesederhanaan. Di Jogja kita tidak akan dituntut berpenampilan necis, atau sekedar berprilaku yang menunjukkan kita orang kaya. Menurutku, disini tidak ada yang perduli. Aku melihat dan merasakan, di Jogja, khususnya di UGM, tidak semua mahasiswa datang dari keluarga yang ekonominya berada. Banyak yang pas-pasan atau di bawah. Sehingga jangan heran kalau aku dan mahasiswa di Jogja lainnya berusaha untuk menerapkan pola hidup sederhana. Mencari tempat kos yang tidak terlalu mahal dan diusahakan tidak terlalu jauh dari kampus sehingga untuk ke kampus bisa dengan jalan kaki, atau naik sepeda. Itu akan menghemat pengeluaran sebulan. Ternyata kesederhanaan menciptakan nilai turunannya, hemat. Makan di tempat-tempat yang tidak mahal dan jauh dari kesan mewah, yang syukurnya di Jogja tempat-tempat seperti ini banyak. Untuk pakaian pun tidak terlalu dipikirkan. Aku jarang membeli baju atau celana baru. Uang lebih baik digunakan untuk memfotokopi buku atau membayar praktikum. Untuk cara berpakaian aku punya pendapat bahwa di Jogja kita ta mau berpakaian atau bergaya apa saja. Mau bepakaian sepeti Don Juan, atau berpakaian lusuh, kumal dan kucel atau berpakaian apa adanya tidak akan ada yang perduli. Karena kota Jogja mempunyai karakter santai dan bebas berekspresi.

Lingkungan kampus dan kos-kosan yang dihuni oleh mahasiswa dari berbagai suku, agama dan ras dengan bermacam-macam latar belakang ekonomi dan sosial budaya, membuat aku harus memiliki sebuah nilai kehidupan yang sangat penting. Dalam lingkungan seperti itu kita harus mampu menciptakan pembauran sosial yang baik. Harus pandai membawa diri dalam pergaulan yang multietnik, karena belum tentu hal kita suka disukai oleh teman lain. Saling tenggang rasa dan saling berusaha untuk menciptakan kedamaian. Percayalah nilai-nilai seperti ini sangat penting untuk kita bawa di periode kehidupan berikutnya.

Aku begitu menyukai kehidupanku selama di Jogja. Kota ini benar-benar membuatku betah. Aku begitu meyukai masa-masa di saat aku ada di kosan. Bangun pagi hari, duduk diberanda sambil memutar musik, ditemani kopi atau teh, suasana pagi yang sempurna. Dan malam hari sebelum berangkat keperaduan, aku masih bisa menikmati alam malam Jogja dengan tenang sambil menghembuskan kepulan asap. Dan apabila bosan dengan itu aku masih bisa keluar bersama teman kos berkunjung ke warung burjo atau angkringan, sekedar ngobrol menghabiskan malam. Aku begitu merindukan masa-masa ketika di Jogja. Dan ketika mendengar lagu Jogjakarta oleh KLA PROJECT, seperti malam aku menuliskan ini, hanya ada satu perasaan, aku ingin pulang kembali ke Jogja walaupun hanya untuk sejenak. Sejak lulus kuliah, aku tidak pernah lagi datang ke Jogjakarta. Berbagai macam hambatan walaupun hati ini sangat ingin. Atau ketika aku mendengar Tony Q Rastafara menyanyikan lagu Jogjakarta terbayang kondisi Jogja yang adem ayem, tepo sliro. Dan seperti Tony Q senandungkan kenangan di Yogyakarta, dieling-eling, manise ora iso ilang. Tapi apakah Jogja masih seperti dahulu. Atau seperti yang dikabarkan teman bahwa Jogja sudah banyak berubah. Semakin banyak tempat perbelanjaan berkarakter mal, semakin banyak cafe yang lambat laun dapat menggusur warung rakyat seperti warung burjo atau angkringan. Aku takut Jogja euforia menghadapi moderenisasi dan menghilangkan karakter khasnya sebagai kota budaya, kota seni dan kota pelajar. Aku berharap Jogja di masa mendatang tetaplah Jogja seperti yang dulu. Tetap besahaja dan sederhana. Tetap sebagai kota yang kondusif untuk menuntut ilmu. Orang-orangnya tetap murah senyum saling perduli satu sama lain. Sehingga sampai selamanya Jogjakarta tetap berhati nyaman.

Panick on Sunday

Minggu pagi yang cerah,,aku sudah berniat untuk menghabiskan satu hari ini untuk bersantai-santai di rumah setelah sabtu kemaren aku habiskan dengan membersihkan kamar mandi dan bersih-bersih rumah, maklum sehabis lebaran pembantu lama baliknya ke rumah. Belum lagi sorenya bertatap muka kembali dengan teman-teman kuliah yang berkunjung ke Depok, dan malam yang ditutup dengan bersilaturahmi ke rumah saudara. Jadi hari Minggu ini tepatlah apabila aku habiskan dengan beristirahat seharian di rumah.

Angan –angan untuk bermalas-malasan di rumah ternyata belum menjadi kenyataan, aku masih punya pekerjaan rumah (PR). Aku harus menyelesaikan masalah kamar mandi.. Tutup lubang pembuangan air kamar mandi rusak dan beberapa hari ini tikus keluar masuk rumahku dari jalan ini, membuat rumah kotor dan tisu toilet bertebaran di mana-mana. Dasar si tikus!!!. Oke setelah berpikir beberapa saat, aku menemukan caranya, aku membeli dop (penutup pipa paralon, maaf kalo penulisannya salah) ukuran 1 inci yang seukuran dengan lubang pembuangan air kamar mandi. Dop tersebut aku lubangi dengan paku yang dipanaskan sehingga lebih mudah menembus dop yang terbuat dari bahan plastik. Lagi asik mengerjakan ini, tiba-tiba istri yang lagi mandi berteriak,,ayaaaank !!!! Air showernya kok nggak kencang. Kuhentikan pekerjaanku sementara dan pergi memeriksa pompa air. Di rumahku ada dua pompa, satu pompa yang menyedot air dari dalam tanah (minggu kemaren juga baru rusak huh !!!) dan satu lagi pompa yang berukuran lebih kecil yang berfungsi untuk mendorong air dari atas menara air ke dapur, kamar mandi dan lain-lain. Kalau tidak ada pompa pendorong ini air yang keluar dari kran akan kecil. Aku periksa,,, ternyata pompa ini yang rusak, biasanya kalau berfungsi bagus, ketika air dinyalakan mesin pompa akan berbunyi ciiit!!!..ciiit!! Kali ini dia tidak berbunyi sama sekali, mati total…Aaaaarrgghhh !!!, geramku marah,,,panik saat itu…dunia tiba-tiba menjadi gelap (berlebihan banget ya,,,,) kenapa satu masalah belum selesai,, datang lagi masalah lain. Aku kan mau niat bermalas-malasan hari Minggu ini. Dan kenapa selalu masalah air yang akhir-akhir ini menjadi permasalahan utama di rumah ini.

Aku jadi ingat iklan musyrik di TV,

A : ‘Piye Kabere ?’

B : ‘ gini-gini aja mbah..

A : ‘ kamu lahir kamis wage kan ? (kalo nggak salah ni), kamu nggak cocok kerja di air

Ketik Reg spasi Manjur untuk tahu peruntungan mu….

Huh dasar iklan tak mendidik…

Sambil menunggu istri selesai mandi aku kembali kerjakan pekerjaan membuat tutup lubang pembuangan air kamar mandi, walau fikiran masih bercabang ke masalah pompa pengencang air. Setengah jam berlalu pekerjaan ini selesai, aku coba di kamar mandi, ternyata bisa dipasang di lubang pembuangan air. Dan air yang mengalir dapat lewat, tidak tersumbat. Semoga dengan ini si tikus reseh itu kapok untuk masuk ke rumah. Aku beralih ke pekerjaan berikutnya,,pompa pengencang. Tapi aku ambil dulu sebotol minuman kaleng dari dalam kulkas dan menyalakan sebatang A mild, untuk menenangkan suasana hati yang kesal. Mesin kubuka, pegang sana pegang sini, mukul-mukul mesin tapi dia tetap diam dan tak ada tanda-tanda kehidupan. Mengesalkan, ah sepertinya harus ke tempat servis pompa. Akhirnya pipa-pipa penyambung pompa ke menara air di atas aku potong sehingga kini aku bisa membawanya ke servis pompa di pasar. Di tangan ahlinya di tempat servis, mesin pompa ku diperiksa dan ternyata kerusakan ada di bagian otomatis pompa tepatnya di bagian platinanya (sebelumnya juga pernah rusak). Bagian otomatis ini berfungsi untuk menghidupkan pompa ketika kran air dibuka. Begitu kran air ditutup, mesin pun secara otomatis akan mati. Aku protes pada tempat servis itu “ mas kok bisa rusak sih, saya kan baru beli otomatis ini di sini, paling 1-2 bulanan dan katanya mas kemaren ini barang yang paling bagus, harganya mahal pula.” Orang servis itu hanya bilang “ya gitu mas, kadang-kadang bisa cepat rusak” . Sialan ni orang batinku…”Ya sudah” kataku mesin ini saya bawa pulang lagi saja. Aku tidak langsung pulang, aku mampir ke tempat servis pompa tepat di sebelah servis pompa sialan itu untuk memberi otomatis yang baru. Aku beli otomatis pompa seharga 85 ribu, katanya sih bagus, Korea punya. Aku perhatikan baik-baik bagaimana cara memasangnya. Jadi nanti kalau suatu hari mesin ini rusak lagi aku tinggal membeli otomatis dan menggantinya sendiri, tidak perlu sampai memotong pipa yang nanti harus dirangkai lagi hanya untuk memudahkan membawa pompa ke tempat servis.

Mesin pompa pengencang air yang sudah benar aku bawa pulang ke rumah, sekarang tinggal merangkainya kembali dengan pipa dari atas menara air. Untuk itu hal yang di perlukan adalah sock drat luar 1 inci (1 buah), knee 1 inci (1 buah), sock sambung 1 inci (1 buah), pipa paralon 1 inci secukupya ( kok jadi seperti resep masakan ya…), lem pipa, gergaji pipa, kunci pas dan kunci pipa. Satu jam pekerjaan ini selesai. Kuteguk minuman kaleng dan nyalakan sebatang A mild sebagai episode penutup pekerjaan ku kali ini.. Kran kamar mandi dan dapur aku buka,,,

Horeeeeee….air kembali mengalir kencang. Seerrrrrrrr…..Puas,,,,,mandi nanti akan semakin menyenangkan.

Akhirnya hari minggu ini angan-angan untuk bermalas-malasan tidak kesampaian. Tak apalah …..

Lesson learn : jangan panik ketika banyak masalah-masalah kecil (rumah bocor, wc mampet, banyak tikus, pompa air mati dll) muncul di rumah walau itu datangnya bersamaan. Selesaikan satu-satu., mesti dapat diselesaikan…(every little thing’s gonna be alright, kata om bob Marley)

ending of ramadhan

Ramadhan habis di sebuah penghujung senja yang indah

Takbir mulai menghiasi menuju langit

Semoga esoknya fitri menjadi milik kita..

Selamat berlebaran kawan

Mohon maaf lahir batin atas semua kesalahan

Selamat mudik menuju kampung halaman

Semoga dapat bertemu wajah-wajah terkasih kembali….

Sebuah lagu religi baru dari UNGU, membuatku tersadar akan banyak nya nikmat yang diberikan oleh Allah pada diri ini. Harus bersyukur…..

Selalu ku sakiti engkau dengan dosaku

Kubalas segala kebaikan dengan kekurangan

Tiada pernah kumenyadari semuanya

Bahwa nafas yang kuhirup adalah kuasamu

Alhamdulillah kusyukuri semua

Terimakasihku ya Allah

Atas indahnya hidup

Alhamdulillah kusyukuri semua

Terimakasihku ya Rabbi

Atas rahmat dalam hidupku

Selalu kutinggalkan engkau dengan khilafku

Kubalas segala kemurahan dengan keburukan

Tiada pernah kumenyadari semuanya

Bahwa nafas yang kuhirup adalah kuasamu

Alhamdulillah kusyukuri semua

Terimakasihku ya Allah

Atas indahnya hidup

Alhamdulillah kusyukuri semua

Terimakasihku ya Rabbi

Atas rahmat dalam hidupku

Older Posts »