Feeds:
Posts
Comments

Maksimal

Hari ini untuk suatu keperluan saya menggunakan jasa ojek online yang lagi naik nama itu. Untuk beberapa kasus memang lebih menguntungkan dibanding jika menggunakan angkutan umum, taksi apa lagi. Karena lebih cepat sampai tujuan dan pasti lebih murah.

Sepanjang perjalanan untuk mengisi kebosanan di tengah teriknya cuaca saya ajak ngobrol drivernya. Dia sudah 6 bulanan bergabung dengan jasa ojek online ini dimana sebelumnya lebih aktif sebagai ojek pangkalan. Mulailah saya bertanya bagaimana cerita awal bisa join di usaha ini. Yah dulu untuk bergabung nya saja butuh perjuangan mas, bayangkan saja setiap hari untuk wilayah Depok hanya disediakan 50 formulir pendafataran, sedangkan setiap hari busa 400 sampai 500 pelamar aku nya. Gila..itu berarti 1 orang kita2 harus mengalahkan 8 sampai 10 orang lainnya. Iya mas..dan saya kalo bisa dibilang benar benar beruntung saat itu. Karena saat pendaftaran posisi hari itu tinggal satu apa dua, dan saya sudah putus asa. Tiba tiba saya melihat ada rombongan supervisor yang lewat langsung saja hampiri dengan membawa formulir yang sudah saya isi. Eh namanya udah rejeki kali ya..itu supervisor tanpa banyak tanya cuma bilang kamu bisa bawa motor dan pekerjaan sebelumnya apa.? Bisa pak..dan saya sebelumnya ojek pangkalan, dia langsung bilang OK kamu boleh gabung.  Wah doa saya hari itu di kabulkan Allah mas.

Saya tertegun dan bahagia dengar penjelasan itu diantara bisingnya lalu lintas, klakson bersahutan dan mungkin kutukan kutukan akan hari ini. Terus setelah menggeluti pekerjaan ini bagaimana rasanya Pak? Tanya saya selanjutnya. Yah namanya pekerjaan mas..prinsip saya mah apa saja jalani saja dengan ikhlas dengan maksimal. Kerjakan semuanya dengan sebaik baiknya. Masalah rezeki dan penghasilan ya sampai saat ini walau berat masih bisa untuk hiduo dan membayar cicilan.

Untuk kedua kalinya saya tertegun dengan jawaban yang hebat dari orang orang yang mungkin kita anggap sederhana. Diam adalah pilihan selanjutnya sampai ke tempat tujuan saya. Lalu lintas masih riuh, klakson bersahutan.

Priti, Melo dan Tahun Baru

2015-12-31-22-11-07--364204847

Malam Priti, sapa Melo..kucing jantan yang mengaku paling cakep di komplek ini. Priti kucing betina, tidak seperti Melo, Priti memang diakui sebagai kucing betina yang paling manis. Bulu putih nya yang halus dan dikombinasikan bulu warna hitam bergelombang membuat kucing kucing jantan di komplek tergila-gila. Belum lagi matanya yang lentik dan ramah itu dan suara meong nya yang aduhai..menambah kesempurnaan Priti dimata para jantan. Sedangkan Melo..kucing berbulu coklat muda bercampur putih adalah salah satu kucing jantan komplek pemuja Priti. Tubuhnya tidak begitu tegap dan besar jauh kalah jika dibandingkan Bob, jawara komplek. Tapi sifat ramah, supel, gaul dan suka menolong nya itu yang membuat Melo disukai banyak kucing lain di komplek, termasuk Priti, mungkin.

Pernah suatu hari..si Mako kucing kurus di serang Dog, anjing yang suka berkeliaran di komplek, dengan gagahnya Melo membantu dan melawan Dog, dan aksinya itu sudah mejadi cerita terkenal di kawasan ini.

Malam Priti..ujar Melo untuk yang kedua kalinya. Hai Melo..jawab Priti sambil mengusap muka cantiknya pelan dengan kaki kanan depannya. Priti, apa yang kau lakukan dirumah, ayo sini keluar menikmati malam. Ah..diluar dingin Melo..aku lebih suka disini, lebih hangat. Lagian tiap malam juga seperti itu..dingin.  Ayolah Priti..ujar Melo. Malam ini adalah malam tahun baru, apakah kau tidak tahu?? Memang kenapa dengan malam tahun baru, tidak ada bedanya dengan malam-malam yang lain. Hanya angka nya saja yang berubah bertambah satu. Iya sih Priti, tapi tetap saja malam ini spesial dan hanya ada sekali setahun. Tiap malam bisa dibuat spesial..kalau kita mau kilah Priti lagi. Iya iya kau benar Priti, tapi ayolah..malam ini berbeda. Tidak kah kau lihat orang orang menyambut gembira malam ini..dimana mana orang keluar rumah, bersama teman..keluarga dan orang orang terdekat. Aku yakin tuanmu juga seperti itu kan? Tidak kata Priti..tuanku dan keluarganya hanya berkumpul di rumah. Makan bersama, nonton TV dan ngobrol ngobrol seputar hari. Coba kau perhatikan Melo, perayaan yang orang orang itu lakukan tampak sia sia, membakar petasan..kembang api, pesta pesta, hura hura, untuk apa itu semua. Apa esok hari mereka akan berubah dengan itu, sudahlah besok matahari juga akan muncul dari Timur seperti biasa, pagi indah itu juga akan datang. Itu kehidupan manusia..apalagi kehidupan kucing seperti kita Melo, lebih tidak akan ada yang berubah. Jadi lupakan saja niatmu untuk merayakan malam ini.

Ah Priti ujar Melo..jangan terlalu skeptis dan apatis akan segala hal..memang mungkin tidak akan ada yang berubah dengan kehidupan manusia manusia itu esok harinya. Tetapi ini memang adalah waktu yang pas untuk bersuka cita, berbahagia dan saling berbagi rasa. Tiap hari yang aku dengar dan liat kehidupan manusia manusia itu sudah diwarnai kesusahan, kemuraman, ketidakadilan, keluh kesah dan sejuta kekecewaan lainnya, jadi tidak salahnya kalau malam ini mereka bergembira sejenak, melepaskan muram durja dan beban hidup mereka yang hari kehari makin berat. Tapi tetap saja Melo, aku tidak suka dengan perayaan perayaan seperti tahun baru. Apanya yang dirayakan..yang jelas umur makin berkurang..itu pasti. Jadi buat apa itu semua. Priti ku yang manis..sudahlah sudah..kita ini kucing, kenapa juga kita pusing dengan urusan manusia-manusia itu. Aku menghargai cara pandang mu. Biarkan saja manusia-manusia itu dengan tingkah mereka. Tapi aku ingin sekali mengajak mu keluar malam ini..menikmati malam. Itu maksudku Melo, kau itu terlalu bodoh dan sentimentil..tidak perlu menunggu malam tahun baru yang berisik ini untuk mengajakki keluar, malam malam biasa pun kau bisa dan aku pasti akan mempertimbangkannya. Aku akan bersedia kecuali kalau kau ajak aku berpetualang ke kampung sebelah yang disana banyak tikus tikus sebesar diri ku, aku pasti akan menolak.

Melo tersenyum, tenang Priti aku tidak akan mengajakmu kesana. Malam ini aku hanya ingin mengajakmu ke atas atap rumah sana. Kita habiskan malam ini di sana. Kau akan kuperlihatkan malam pergantian tahun yang indah. Karena dari atas sana kita akan bisa melihat langit yang dihiasi warna warni kembang api. Dari atas kita akan bisa melihat penjuru kota yang terang dan meriah oleh pijar puluhan warna. Kau pasti akan terkagum kagum melihatnya walau pesona itu memanglah tidak lama, hanya sebentar. Tapi itu cukup akan menjadi kenangan buat mu. Dan pastinya buat ku juga. Gampangnya akan jadi kenangan indah kita berdua. Kau tau Melo, ujar Priti pelan.. sisi itu yang paling aku suka dari mu. Yang susah aku temukan pada diri kucing kucing jantan di komplek ini. Ayolah..mari kita naik ke atas ujar Priti. Mmm satu hal lagi Priti, pinta Melo. Bolehkah aku nanti di atas sambil melihat warna warni langit aku ingin membelai dan mengendus bulu bulu indah tubuh mu itu? Bodoh..!!! Kesal Priti..hal seperi itu tidak usah kau tanyakan lagi!!! Tapi dengan syarat kau jangan terlalu sering bertualang lagi ke kampung sebelah. Lebih seringlah melihat ku. Melo tersenyum bahagia..senyum kemenangan.

(Taufiq, Depok, malam tahun baru 2015)

 

Awan

images-5Aku adalah awan kecil. Yang berada diantara jutaan awan lainnya di atas sini. Aku suka berpikir kenapa aku bisa ada dan dari mana aku berasal. Aku ada di horizon yang tidak begitu tinggi. Ada jutaan awan lain yang ada diatasku, tapi cukuplah bagiku untuk melihat cakrawala. Awan awan diatasku biasanya lebih besar dan menggumpal. Bahkan diatas ku banyak ditemui awan awan yang besar seperti gunung.

Usia ku sudah puluhan tahun mungkin lebih. Dan banyak awan awan yang lebih tua dari ku. Kami para awan lebih banyak diam di posisi kami. Kalaupun bergerak itu cuma perlahan. Aku membenci nya..aku tidak suka diam di posisiku. Pernah beberapa kali aku memanggil temanku..sang angin untuk minta bantuannya meniupku dan membawa ku ke tempat lain yang jauh.

Aku ingin melihat belahan daerah lain kalau mungkin belahan dunia yang lain. Berkenalan dengan awan awan disana. Aku paling benci ketika ada pesawat yang menembusku karena akan merusak gugusan himpunan ku. Dan cukup waktu yang lama untuk mengembalikan ke bentukku semula.

Aku pernah dibawa angin ke suatu daerah yang indah. Dibawah ku laut biru dan ada beberapa ekor lumba lumba yang berenang beriringan. Diatas dan sekitarku tidak ada awan lain.. hanya aku seorang. Tepat di depanku terlihat pantai indah dengan pasirnya yang berwarna putih. Tak ada ombak, lautan begitu tenang. Dan di belakang pantai itu langsung disambut dengan barisan perbukitan hijau rimbun.

Aku ingat, saat itu pagi hari. Aku menyukai pagi. Itu adalah saat dimana hari akan dimulai, aku akan berusaha membuat bentuk ku seindah mungkin menyesuaikan dengan birunya langit. Agar bisa menemani manusia manusia dibawahku memulai waktu mereka. Bagiku pagi adalah senyuman, bukan hanya manusia, aku bisa melihat hewan dan tumbuh tumbuhan juga selalu menanti senyuman pagi hari. Aku selalu menyukai pagi, ketika cahaya matahari masuk ke sela sela pepohonan dan memberi salam pada rerumputan. Dan di pagi itulah aku menemukan tempat yang indah tersebut. Aku terbang perlahan kegirangan, menyusuri pantai berpasir putih dan mengitari deretan perbukitan itu. Tak ada waktu dan pengalaman yang lebih baik dari ini. Ini sempurna, melebihi cerita si Kinton, awan teman ku yang pernah mengunjungi suatu tempat yang indah juga. Aku ingin berlama lama disini dan kalau bisa tinggal disini, memandang dan menikmati pagi yang indah disini. Tetapi takdir ku berkata lain, aku harus meminta bantuan angin kembali untuk membawaku pulang ke tempat dimana aku datang, berhimpun berasama kumpulan awan lainnya.

(Desember 2015, ruang tunggu bandara)

Senja Ke-19

downloadPram sedang ada di jalanan berbukit, di sebuah daerah yang merupakan bagian dari kota tua bernama Barakuda. Saat itu sore hari menjelang senja. Jalan itu dihiasi rerumputan hijau musim penghujan dan pohon-pohon rimbun dengan daun-daun yang bergerak pelan ditiup angin.  Senja bagi Pram selalu mempesona, bagi Pram senja itu spesial karena teori yang dipercayainya senja adalah waktu penanda untuk pulang. Teori pertama. Senja adalah waktu yang menjadi batas antara terang dan gelap, teori kedua. Senja adalah waktu singkat yang agung dan megah dengan warna keemasannya yang berpadu dengan himpunan awan, tapi banyak orang yang mengacuhkannya, teori  Pram yang lain. Pram sering kali menghabiskan senja di tiap kesempatan yang dia punya, sekedar duduk-duduk sambil melihat ke ufuk Barat atau mengendarai motor tuanya sampai panggilan suci itu menggema, masuk ke rumah rumah, menembus jendela. Seperti saat ini, Pram duduk di pinggiran jalan menikmati senja dari ketinggian yang membuatnya bisa menyapu cakrawala barat, dan melihat kota di kejauhan yang mulai menyalakan lampu-lampu, menyambut malam. Ingatan Pram membawanya ke senja beberapa waktu yang lalu ketika ia menghabiskan waktu bersama sepasang masa teduh, kepunyaan Laras. Perempuan manis yang dia jumpai saat berjalan pertama kali di daerah perbukitan itu.

Laras, sudah berapa kali kita menikmati senja ini. Apakah kau pernah menghitungnya..? Tanya Pram. Laras hanya diam dan baru menjawab ketika ada suara anak anak yang bersepeda riang menghampiri mereka. Aku tidak ingat, dan aku rasa itu bukan hal penting yang harus dihitung. Senja itu cukup dinikmati saja, seperti semua teori-teori mu tentang senja yang sering kau ucapkan padaku. Kenapa kau menanyakan itu.  Entahlah, aku sedikit cemas ujar Pram. Aku cemas,, waktu sepertinya makin tak banyak yang aku dan kau miliki untuk menikmati senja yang kita puja ini. Jam untuk hari dari pagi sampai sore itu memang sama, tapi aku merasa senja ini makin singkat, makin pendek, walau indah nya tetap sama. Dan ketika kita melewati  deretan pepohonan sepanjang jalan ini mereka tampak tersenyum mengejek, ingin mengatakan bahwa waktu ku semakin sempit. Laras bingung dan mengerutkan dahi, walau itu tidak mengubah keindahan sepasang mata teduhnya, bagian yang paling disukai Pram pada Laras. Kenapa Pram??, tanya Laras. Bukankah senja ini masih sama dengan senja-senja sebelumnya yang kita lihat, dia datang dengan warna keemasannya, yang tidak akan kita temukan langit begitu indahnya di waktu yang lain. Kalau singkat, memang itulah takdir dari sebuah senja, indah dan singkat. Dan karena itulah dia mempesona. Aku tau Laras, aku mengerti semua itu. Jangan ajarkan tentang senja padaku.

Penghujung 2016, kondisi perekonomian dalam negri terpuruk, mengikuti kondisi dunia, kondisi global. Berimbas ke berbagai sektor usaha, termasuk pertambangan dimana Pram bertahun-tahun sudah mengabdi sebagai buruh paruh waktu disana. Mutasi masih bagus, pemecatan sudah terjadi dimana-mana.

Laras hanya diam, ketika Pram berkata mungkin aku akan dipaksa pergi dari kota tua ini, dia seperti tidak akan membutuhkan ku lagi. Laras semakin terdiam, sepasang mata teduhnya menghantam tembok tembok rumah yang ada di antara deretan pepohonan rimbun itu. Aku tau,,aku mengerti ujar Laras, sambil menggenggam erat tangan Pram, semakin erat. Mengajak Pram menyaksikan senja yang jatuh di kota ini, menyapu cakrawala yang masih berwarna keemasan. Kumpulan burung burung membentuk formasi pulang.  Kota di ujung bawah sana mulai terang benderang seperti kunang kunang. Malam akan segera datang.

(25 Desember 2015)

Puisi Tengah Malam

Doa ada di kepala

Doa ada di hati

Mengalir dalam aliran darah

Membumbung ke angkasa menuju langit

Aku dipeluk pagi

Aku ditemani siang

Aku dipangku senja

Aku dibelai malam

Semua berputar dalam orbit, kehidupan

Disinilah semua berawal

Disini pasti akan berakhir

Sujud pada pemilik waktu

Terimakasih untuk wajah di surga

Simpuh untuk wajah di bumi

(Depok, 11 Oktober 2015)

 

Dua Satu

Pada suatu ketika

Matahari ada bersama bulan

Dalam suatu nyanyian pagi

Dalam ruang dimensi yang berbeda

Sebentar,, mungkin

Tapi cukup untuk memberikan pernyataan

Dua itu ada,,

(2 Desember 2015)

Salju

Salju terbaik telah lewat

Aku masih ingat saat warna putihnya

Jatuh di pelataran gedung gedung tua itu

Atau mengendap di atap rumah

Disaat seorang tua dengan syal birunya berjalan menahan dingin

kristal kristal salju ada di ujung ujung pinus

Menggantung seperti sebuah pertanyaan

Yang aku berikan saat kita berdiri di tengah jembatan

Memandang sungai yang membelah Wina

Ujung mata teduhmu hanya bergerak pelan

Mengikuti kelokan sungai

Membentur perbukitan utara yang diam

Masuk ke lembah lembah sunyi

Salju saat itu,,

Salju terbaik yang terlewatkan

(Depok, 8 Desember 2015)