Rendezvous

13-tahun adalah rentang waktu yang cukup lama untuk sebuah pertemanan. Tetapi seperti kodratnya, waktu itu akan terasa singkat dan seperti baru kemaren saja rasanya bertemu dengan wajah-wajah yang ada di tempat makan ini. Ya, hari ini ada janji makan siang dengan teman-teman seangkatan pada saat masuk Medco. Cukup lama sudah rasanya tidak pernah bertegur sapa, hanya sesekali di ruang maya bernama grup WA. Tak ada yang berubah, candaan dan leluconnya masih sama dengan 13 tahun lalu, dan bawaanya sebuah reuni cerita pasti seputar kejadian-kejadian lucu nan epic. Perubahan yang nyata tentunya ada di fisik, usia-usia sekarang ini adalah usia dimana metabolisme tubuh dan pencernaan mulai berubah, dan akan menghasilkan perut-perut yang mulai menyembul. Sebuah hukum alam.

MZ, kalaulah Karni Ilyas punya jargon hukum adalah panglima , kalau kawan satu ini science adalah panglima dan sekarang pun kesan itu masih sama bahkan makin bertambah seiring pengalamannya berkarir di perusahaan minyak terkenal asal Inggris itu.

Eko, wah kawan ini ilmu nyepetnya nya masih ada, aku kira bakal hilang setelah bertahun-bertahun di Oman ternyata masih tetap 🙂

Aan, ini yang menarik juga, bertahun-tahun tak ketemu ternyata gaya makannya masih sama, pasti keringatan dan berpeluh kalau makan, sayang handuk putih spesialnya tak ikut dibawa.

Yiyi, makhluk paling cepat dalam hal apapun, makan pun mungkin tadi paling awal selesainya. Akhir-akhir ini kabarnya makin cinta sama hal-hal yang berbau “promo”.

William, masya Allah kawan ini semakin mantap sisi religinya, pangling tadi ketika pertama ketemu, aku kira aku bertemu dengan Ust Khalid Basalamah. Istiqomah brother!!!

Mail, yang namanya Ismail itu selalu pintar, termasuk almarhum ayah. Ini adik kelas sebenarnya, tapi urusan ilmu jauh diatas. Kulitnya sekarang sedikit menghitam sepertinya banyak aktifitas outdoor, dengan projek-projek infrastruktur yang sekarang digelutinya selain berkarir di Medco.

Danar, kalemnya gak berubah dari dulu, diantara yang datang hari ini, bersama Yiyi dan William dialah yang badannya masih rata di bagian perut.

Rivo a.k.a Gori, baru balik dari S2 Australi dengan rambut bagian tengah yang sudah menunjukkan tanda-tanda memudar :), tapi badannya masih tetap gede sih. Semoga dapat menemukan tempat berkarir yang baru kawan.

Iton, kawan ini juga makin makmur sepertinya, dari dulu punya banyak usaha sampingan sekarang kabarnya jualan susu kurma juga.

Masih ada beberapa teman yang tidak bisa hadir : Ewing kapan nikah oi, juragan Toto yang ditengarai punya properti di kawasan elit Bintaro, Windi yang kabarnya udah jadi bos di Pertamina, Bulq si mysterious guy, Suhu awak Jon yang selalu jenius, Andek yang sekarang punya resort di Pacitan sana, Aidil yang selalu mirip Pak Amri, Satya kawan yang paling assertive, masih di Abu Dhabi apa udah balik ke Garut? , Klal kawan pertama yang kepikiran buat S2 yang kabarnya makin sukses di ENI dan Ibenk yang dulu sempat berdebat makan di warteg itu sehat mana dibanding makan di parkiran Bidakara dan Kecuk yang sedang international assignment di Oman dan tentu si Kadut yang udah jago Petrel sekarang.

Terlalu singkat untuk cerita banyak hal dalam pertemuan kali ini. Karena sekian tahun tak bersua pasti banyak hal-hal yang terjadi serta pengalaman baik dalam hidup dan karir yang bisa dibagi.  Semoga di pertemuan berikutnya waktu untuk itu ada dan kita bisa berkumpul semuanya. Sukses selalu kawan-kawan !!!

 

 

Advertisements
Posted in dunia kerja | Tagged | Leave a comment

Pogung

Kadang training itu bisa bias maknanya nya dengan liburan. Demikianlah yang terjadi ketika aku diminta menghadiri training di kota yang sarat dengan kenangan masa lalu, Jogjakarta. Kota yang sangat ramah dan menyenangkan dengan atmosfernya yang berbeda dengan kota lain yang pernah aku singgahi. Agenda wajib setiap menjejakkan kembali ke kota ini adalah aku pasti menyusuri jalan-jalan yang dulu sering aku lewati, atau tempat-tempat yang pernah didatangi. Dan kali ini selepas training, aku menyempatkan diri untuk menyusuri lagi labirin-labirin kawasan Pogung Dalangan, tempat kos ku dulu. Perubahan itu adalah sebuah keniscayaan, demikian juga kawasan ini. Dan yang paling tidak banyak berubah tentu saja selokan Mataram itu. Sepanjang arah selatan selokan Mataram ini dulunya berjejer tempat makan, usaha fotokopian dan warung-warung. Namun, kali ini mau tak mau mataku terfokus pada bangunan apartemen tinggi nan megah menjulang yang berdiri di sebelah jalan. Seperti kota-kota lain dimana banyak dijumpai kampus, kawasan ini pun sudah mulai bergeser dari kos-kosan menjadi apartemen sebagai alternatif untuk mahasiswa tinggal. Fenomena ini juga terlihat di kawasan Depok dekat tempat tinggal ku, dimana ada kampus UI dan Gunadarma yang pastinya diisi oleh banyak mahasiswa dan efeknya pembangunan apartemen semakin masif dilakukan. Kabarnya apartemen yang ada di selokan Mataram itu semua kamarnya sudah penuh terisi, dan juga  kabarnya kos-kosan seperti yang dulu aku huni makin tidak banyak peminatnya, orang-orang lebih memilih kos dengan fasilitas lengkap seperti AC dan kamar mandi didalam kamar walau mesti dengan sewa perbualan yang pastinya mahal. Ini efek domino, ketika subsidi untuk perguruan tinggi dicabut, mau tak mau kampus harus mencari cara untuk memenuhi anggaran belanja mereka, akhirnya biaya kuliah makin mahal dan yang bisa masuk tentu saja orang-orang yang ekonomi nya lebih baik. Dan pada umumnya mereka datang dari keluarga yang berkecukupan dengan standar hidup diatas rata-rata jika dibandingkan jaman ku dulu. Dan akhirnya standar hidup itu terbawa dengan standar hidup kos-kosan dengan fasilitas yang aku sebutkan tadi.

Tempat makan Pak Gogon, begitu dulu kami menyebutnya. Adalah sebuah tempat makan kecil yang terletak beberapa meter dari kosanku. Ketika aku melintas tempat ini masih ada, sayang aku tidak punya banyak waktu untuk kembali makan di warung ini dengan menu nasi pecel dan tempe goreng khas itu. Aku masih ingat setiap kali makan ke warung ini pasti akan disuguhi  suasana gelap yang temaram. Ini dia kosanku dulu, masih sama seperti dulu hanya bangunannya tampak lebih tua. Apakah masih ada yang kos disini atau sudah tak laku karena mahasiswa lebih memilih tempat kos dengan fasilitas “wah” tadi ? Niat ingin mampir dan ketemu ibu kos aku batalkan melihat rumah kos ini tertutup rapat, sepertinya Bapak dan Ibu Simun lagi pergi. Aku sangat menikmati masa-masa di sini, sore sering kami habiskan sekedar nongkrong di tangga menuju lantai dua sembari menikmati kopi dan menunggu senja. Tiga perempat impian ku dirancang di tempat ini, dari kamar kecil yang terletak di ujung di dekat kamar mandi yang jika jendela nya dibuka maka akan terdengar jelas suara keluarga ibu kos di bawah dan nyanyian cempreng dari kosan sebelah. Sisanya tak banyak berubah, hanya warung-warung makan dulu kerap aku singgahi yang kini rata-rata sudah berlantai dua dan tempat penyewaan komik dulu sepertinya sudah tidak ada. Tak ada lagi mungkin anak mahasiswa yang suka komik, mungkin berganti dengan racun media sosial.   Aku terus berjalan, dan labirin Pogung masih sama, sempit dan berkelok.

collec 1

Labirin Pogung

collec 2

Selokan Mataram yang tidak berubah dengan latar belakang apartemen mahasiswa di belakangnya.

pic 4

Wisma Pahlevi dari kejauhan, tempat kos dulu. 

Continue reading

Posted in aku dan sekitar, liburan, Uncategorized | Leave a comment

Puisi Untuk Arung..

Aku akan sampai pada saat dimana malam bisa aku tahklukkan

dan  terik matahari aku piaskan menjadi serpih serpih riak embun

Aku akan sampai pada gunung dan lembah yang akan aku jadikan tempat berlindung

dan rerumputan luas di Utara sana, aku jadikan tempat menghilangkan peluh kesah

Aku tidak takut dengan kesendirian, itu hanya akan membuat ku bebas berpikir

datang dan hilang adalah kepastian.

Aku akan sampai pada semua itu, membawa berita dari langit biru ke langit biru lainnya

bebas bergerak, berdentam dan berani

Karena namaku Arung,,,

(15 September 2018, Jakarta)

Posted in puisi | Tagged | Leave a comment

Californication (part 2)-Time stops at Monterey

Bayanganku tentang sebuah kota kecil yang tenang, dengan bentang alam yang indah terwakili ketika menginjakkan kaki di kota ini, Monterey. Monterey berjarak sekitar 137 km ke arah selatan dari San Francisco, kota dengan suasana pinggir laut dengan Monterey bay terhampar didepannya. Dari San Francisco aku menyusuri jalanan west coast yang rapi untuk mencapai Monterey. Secara administratif Monterey termasuk dalam bagian California, mempunyai luas total sekitar 31.74 km2 dengan luas daratannya 22.47 km2. Jumlah penduduk pada tahun 2010 adalah 27,810 jiwa dengan densitas kepadatan penduduk 1,266.54/km2.

Location of Monterey, California

Aku berada di Monterey ini sekitar 3 hari, dan itu cukup untuk membuat jatuh hati dengan suasana kotanya. Percayalah, kau akan jatuh cinta dengan kesederhanaan, ketenangan dan keindahan Monterey. Orang-orang di kota ini sangat santai dan menikmati hidup, bisa kita lihat dari aktivitas masyarakatnya, sore hari mereka akan habiskan dengan berolahraga, berlari atau bersepeda di sepanjang pantai dan ketika malam menjelang orang-orang akan banyak memadati Fisherman Wharf untuk menikmati aneka hidangan makanan sambil menyapa angin laut yang sejuk. Sore hari adalah sempurna di Monterey, kita bisa berjalan menyusuri pinggiran pelabuhan atau sekedar duduk memandang lautan dan burung-burung camar yang istirahat diatas bebatuan. Atau kalau lagi beruntung kita bisa merasakan kemeriahan festival yang suka diadakan di Monterey. Jika ada festival, maka jalanan akan dipenuhi barang-barang jualan mulai dari pakaian, makanan serta buah-buahan dengan harga yang bersahabat.

Welcome to Monterey

 

Blue ocean, blue sky

 

People enjoy walking along the bay

 

Ships, birds, we are seeing the same horizon

 

A Festival in Monterey

 

Expensive enough to get in, so just take a aphoto in front gate 🙂

Fisherman Wharf Monterey tentu saja tidak sebesar San Francisco, namun lagi-lagi kesederhanaan itu adalah nilai lebihnya. Kita bisa lebih intim menikmati matahari jatuh di ufuk barat ditemani sejuknya angin Pasifik. Malam hari, deretan gerai Fisherman Wharf tampak menghias diri, menawarkan berbagai hidangan dan masakan. Sepiring nasi dan beberapa potong sarden cukuplah untuk makan malamku sambil melihat deretan kapal-kapal yang membisu di pinggir pelabuhan.

Fisherman Wharf’s Monterey

 

Inside the Wharf’s

 

Searching for dinner

 

The Menu, Its always lovely when found the rice !!!

 

I wish I could stop this view for several hours, when the sun is falling down to the west

 

Time stops at Monterey

3 hari di kota ini aktivitas lebih banyak mengunjungi outcrop, sehingga aku tidak punya banyak waktu untuk mengunjungi tempat-tempat menarik di Monterey. Namun outcrop tak kalah dalam menyuguhkan keindahan alamnya, seperti misal saat aku berada pinggir west coast yang berbatu, dengan hamparan rerumputan dan mercu suar putih menjulang anggun diatasnya. Sementara langit tampak jernih biru diatas tanpa ada awan sedikitpun. Aku merasa pernah melihat lanskap seperti ini di sebuah kartu pos. Ada juga seorang lelaki tua duduk termenung memandang ke lautan lepas ditemani seekor anjing dengan bulu yang indah. Entah kenapa ingatanku membawa ke buku The old man and the sea karya Ernest Hemmingway.  Atau ketika melihat sepasang kekasih menysuri jalanan sepi seolah waktu ini adalah punya mereka. Semua itu tersaji ketika menuju ke lokasi outcrop.

Lighthouse

 

The old man and the sea

 

The world is ours

Perkenalan singkat dengan kota indah ini cukup memberi kenangan yang akan selalu diingat, namun waktu mengucapkan selamat tinggal datang saat pagi Monterey yang dingin, saat matahari penghujung musim panas mulai bergerak naik. Tujuan berikutnya, San Diego.

San Diego, I am coming !!!

Posted in dunia kerja, liburan, luar negri | Leave a comment

Tiga

November, bulan yang sama di tahun lalu ketika anak keduaku lahir, seorang perempuan cantik yang sudah lama dinantikan. Tahun ini, 2017 dibulan yang sama anak ke tiga lahir, seorang laki-laki. Banyak orang yang terkejut dengan kelahiran ini, baik saudara, orang tua ataupun teman, karena jaraknya begitu dekat dengan anak kedua, hanya beda setahun. Kami pun sebagai orang tua awalnya juga kaget karena tidak menyangka akan secepat ini. Namun, ini adalah rezeki, karunia dan amanah yang diberikan oleh Allah, harus bersyukur, selalu bersyukur. Apalagi dengan lahirnya anak ketiga ini kombinasi anak ku menjadi laki-laki-perempuan-laki-laki. Senja akan dijaga oleh dua orang saudara laki-lakinya.

Hari Selasa, tanggal 7 November 2007, pukul 8 lewat 10 menit anak ke tiga ini lahir dengan tagisan yang keras. Beda saat Senja lahir, kali ini aku tidak dapat menemani istri saat di ruang bersalin. Anak ke tiga ku ini aku beri nama Arung Raihanif Lubis. Seperti yang sebelumnya, dalam memilih nama aku membutuhkan waktu yang cukup lama karena ingin mendapatkan arti yang bagus dan sesuai dengan sosok anak ku nanti. Arung itu adalah kata dasar dari mengarungi, jadi aku ingin dia menjadi anak laki-laki yang berani mengarungi hidup ini, mau itu susah atau senang, pahit getir atau dengan kejayaan dia harus melewati semuanya. Tak pernah takut akan dunia dan segala macam urusannya. Mempunyai prinsip hidup yang teguh dan selalu kuat dalam menghadapi segala macam cobaan dan ujian.

Bagaimana ia nanti mengarungi hidup ini, dunia yang penuh dengan segala macam cobaan, ujian dan godaan. Hanif adalah pegangan dan panduan untuk nya. Hanif ini punya banyak arti, namun kalau aku simpulkan berarti orang yang selalu lurus dan berbuat baik, berpegang teguh pada ajaran Islam yang dibawa sejak zaman Nabi Ibrahim,  menyerahkan diri dan segala urusan pada Allah, bertauhid pda Allah dan selalu menata perilakunya secara sempurna menurut Islam dan terus menerus mempertahankannnya secara teguh. Itulah kenapa aku sematkan kata ini sebagai lanjutan dari nama pertamanya, Arung, sehingga dalam mengarungi kehidupan ini ia punya pegangan yang kuat, yang lurus, yaitu ajaran agama Islam. Dengan begitu nantinya dia akan dapat meraih apapun yang dia inginkan dan yang baik untuk kehidupannya di dunia dan akhirat, itulah kombinasi kata Raih dinamanya.

Jadi kalau disimpulkan nama Arung Raihanif Lubis itu memiliki arti anak laki-laki yang kuat, berani dalam mengarungi hidup, apapun kondisi dan tantangannya dan selalu berada di jalan yang lurus, berpegang teguh dengan agama Allah sehingga dengan semua itu nantinya ia bisa meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Sekali lagi, nama itu adalah doa, dan semoga doa dari kami sebagai orang tua ini dia kabulkan oleh Allah Azza waJalla. Aaamiin.

 

Posted in aku dan sekitar, Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Duri

Duri, kota kecil nan kaya akan menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah perjalanan hidupku. Tidak lama aku bertugas disini, sekitar 1 tahun, namun bekas yang ditorehkan oleh kota ini cukup dalam dan membekas. Kau tidak akan pernah dapat menduga apa yang akan terjadi di kehidupanmu kelak. Kau tidak akan pernah menduga kau sampai pada titikmu sekarang ini, di hari ini. Demikian juga diriku, tak pernah terbayangkan aku akan bertugas di kota yang dulu ketika saat liburan sekolah sering aku datangi sembari mengunjungi abang. Kota panas, berdebu namun kaya (bukan masyarakatnya-red). Bukanlah hiburan megah yang ditawarkan kota ini, atau bentang alam yang elok yang memanjakan mata. Tapi waktu-waktu luang untuk menajamkan mata hati, pikiran, kesadaran dan cara pandang akan hidup yang diberikan kota ini. Siang adalah untuk mengejar hari sedangkan malam adalah waktu untuk berdiskusi dengan diri sendiri tentang segala hal. Tentang penciptaan, alam raya, masalah-masalah, sosok-sosok dunia, pengakuan, surga neraka dan tentang bayangan gelap kemarin. Banyak hikmah yang diambil dari persinggahaan sebentar ini, persinggahan yang awalnya sangat aku benci dan tak kusukai.

“….boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui,sedang kamu tidak mengetahui” (QS : Al-Baqarah :216)

 

Kumpulan foto-foto dibawah ini adalah sebagai bentuk kenangan akan waktu-waktu menyenangkan yang diberikan selama bertugas di kota ini. Sebuah diorama kemaren untuk menyambut hari depan yang lebih putih.

Wisma Intan, disini segalanya bermula dan berakhir

Lorong wisma, jadi saksi derap derap langkah pagi buta

Teras wisma, tempat diskusi malam hari

The room

Deretan wisma dari kejauhan

Sore hari selepas kantor

The camp

Rasanya ingin gelar tikar dan piknik disini

men sana in corpore sano

The office

Office mates

Break !!!

Banyak hutang budi sama bis kuning ini, Duri-Pekan

Pak Yas dan Pak Tom, teman dalam perjalanan setiap Jumat

Ada sajadah panjang terbentang, Mesjid Ushuluddin. Ternyata tempat paling tenang itu adalah Mesjid

Warung MAU, tempat membeli kebutuhan sehari-hari

Comissary

Tempat ngopi favorit, Zety Cafe

Chopper

Aku juga menemukan mu di sini, Senja !!!

Pulang

 

 

Posted in dunia kerja | Leave a comment

Birth and Death

Kelahiran dan kematian yang berjarak setipis kertas. Kelahiran dan kematian yang terpisah dalam hitungan detik.

Hari ini, kembali berada di rumah sakit untuk persiapan lahiran anak ke tiga. Pagi sekitar pukul 07.30 aku sudah berdiri di depan kamar operasi. Istri sudah masuk kedalam bersama perawat untuk persiapan persalinan. Waktu anak kedua lahir aku berkesempatan masuk kedalam menemani istri, melihat segala proses keajaiban itu terjadi. Namun kali ini, karena ruang operasi penuh dengan pasien aku tidak diperkenankan masuk. 

Detik, menit berlalu. Kalimat-kalimat suci keluar melewati lorong lorong rumah sakit terus ke langit. Orang-orang lalu lalang dengan berbagai harapan. Rumah sakit sebenarnya adalah satu tempat dengan banyak cerita dan peristiwa. Satu tempat dengan banyak harapan dan pastinya doa doa seperti aku sekarang ini.

30 menit berlalu aku masih menunggu di depan kamar operasi. Seorang dokter muda lewat dengan bergegas, sepertinya akan ada tindakan di dalam. Jas putih itu benar-benar berwibawa. Aku jadi teringat ketika dulu masih sekolah selalu didoktrin ayah ibuku agar menjadi dokter seperti saudara kami yang orang tua dan semua anak-anak nya adalah dokter dan mempunyai kehidupan yang mapan. Ada semacam role model dan prototipe masa depan yang sudah dicanangkan orang tua ku, namun aku selalu menolak dan tidak tertarik dengan alasan yang sangat teramat naif, aku tak mau jadi dokter, pekerjaannya di ruangan dan selalu tampak rapi jawabku. Kadang kalau aku ingat jadi ketawa sendiri, dengan jawaban ala rebeletion anak muda tanggung dan mentah seperti itu.

Pintu kamar operasi terbuka, wajah seorang perawat dengan masker keluar dari balik pintu seraya berucap, suami nyonya Eka..silahkan masuk dan selamat ya bapak..anak nya sudah lahir. Mari ikut saya. Itu adalah kalimat yang paling dinanti hari ini, saat matahari masih dalam awal perjalanannya. Di depanku saat ini,  seorang anak laki-laki mungil dengan tangisan keras telah lahir ke dunia. Pertemuan pertama ini singkat, perawat mempersilahkan aku untuk ke ruang tunggu operasi karena masih ada tindakan lanjutan untuk bayiku. 

Ruang tunggu operasi, disini cukup penuh dengan orang. Aku duduk di kursi baris kedua dari depan. Baru saja duduk, seorang ibu berkerudung masuk ke dalam ruangan dengan wajah sedu sedan. Ia digandeng oleh seorang ibu lainnya, mungkin seorang kerabat. Mereka melewati kursi tempatku duduk. Lamat-lamat aku mendengar ucapan lirih ibu berkerudung itu, suamiku sudah meninggal. Kerabat nya dengan segala upaya mencoba menenangkan

Ruang tunggu operasi, ruang ini menjadi saksi betapa berita kelahiran yang aku miliki berjalan bersamaan dengan berita kematian milik si ibu. Betapa kelahiran dan kematian itu setipis kertas, teramat dekat. Kelahiran disambut suka, kematian disambut duka. Ada yang datang dan begitu pula akan ada yang pergi. Begitulah dunia. Ada saat hari kita lahir di dunia, akan datang pula hari dimana kita akan meninggalkan semuanya, meninggalkan semua hal yang kita miliki dan cintai. Bersiap untuk melakukan perjalan sunyi seorang diri. Tanpa ada siapapun. 

Sungguh, kelahiran dan kematian itu sangat tipis. Menjadi hikmah bagi orang-orang yang berfikir.

Posted in aku dan sekitar | Tagged , | Leave a comment