si kulit bundar

Seumur hidupku hanya inilah olahraga yang paling aku senangi, baik menontonnya apalagi memainkannya. Yah, itu dia sepakbola, olahraga orang kebanyakan. Tak perduli mau berapa lawan berapa, di tanah atau di rumput, pakai sepatu apa nggak asal ada kesempatan pasti aku akan main. Selalu teringat masa-masa kecil dulu, ketika SD  apabila waktu istirahat tiba kami sering habiskan dengan bermain bola di lapangan semen sebelah gedung. Lebih sering dengan menggunakan bola plastik atau bola tenis karena pada saat itu jarang anak yang mempunyai  bola  kaki  yang benar sebenarnya. Alhasil setelah itu pasti masuk kelas dengan baju yang basah oleh keringat.

Saat SMP pun tiba. Ketika SMP kesempatan bermain bola semakin sering apalagi ketika pas jam nya olahraga . Ketika jam olahraga, guru olahraganya, yang secara fisik tidak seperti guru olahraga selalu menawarkan kepada anak laki-laki mau main bola basket atau bola kaki, yah jelas kami jawab bola kaki, si guru pun kemudian berlalu. Ah alangkah gampangnya menjadi seorang guru olah raga, kupikir. Tapi tak perduli, yang penting hari ini aku bisa  berlari-lari dengan bola. Oh ya bagaimana dengan rombonga n anak-anak cewek ? apa olahraga pada saat itu? Ah ini lebih menyedihkan, karena si guru punya angkot yang menjadi kendaraan nya dari rumah-sekolah (pp), teman-teman cewek ku didaulat untuk membersihkan itu angkot. Saat ini aku pikir itu benar0benar sebuah pembodohan dan perbudakan. Tapi apadaya aku yang SMP kelas satu saat itu tidak mengerti apa itu pembodohan, aku terlalu sibuk berlari-lari dengan bola.

Saat SMA pun tiba, saat yang bagi kebanyakan orang adalah saat-saat yang paling indah dalam hidup, saat hari-hari diwarnai dengan cinta, saat diri merasa sudah memiliki kebebasan secara defacto dan deyure. Tamat SMP dengan nilai yang lumayan dan itu cukup untuk masuk ke 2 SMA Negeri terbaik SMA A dan SMA B di kotaku, Pekanbaru. Bingung menetukan pilihan, sama bagusnya.  Sore hari berdua dengan teman kami kunjungi kedua sekolah itu dan akhirnya aku putuskan untuk masuk SMA B karena  ada lapangan sepakbola disebelah gedungnya. Berlebihan ya..? terserah. Kegilaan akan sepakbola makin menjadi-jadi. Hampir tiap hari, sore sepulang sekolah selalu dihabiskan bermain bola dengan teman-teman bahkan pernah besoknya akan ujian sorenya aku masih berlari-lari dengan bola. Saat SMA ini, main bola sering aku dan teman-teman ku jadikan bahan taruhan. Menantang anak SMA lain, siapa yang kalah harus bayar beberapa ratus ribu. Tak jarang kami hanya modal nekad, tak punya uang tapi nantangin SMA lain dengan kepercayaan diri yang segunung bakal menang. Apabila kalah mengandalkan alasan akan dibayar lusa tau besok tapi kenyataannya nggak akan pernah dibayar atau dibayar hanya setengahnya.

Saat kuliah pun tiba. Jogja jadi pelabuhannya. Di saat ini jarang bermain bola, hanya ketika ada event pertandingan olaharaga antar angkatan di kampus. Menyedihkan, skill sepakbola yang selama ini sudah dipunyai menghilang karena jarang digunakan pada saat kuliah. Maklumlah lebih sering ke kampus, praktikum, mengerjakan laporan, dan bersemedi di kamar kos. Maaf cerita pada saat kuliah dicukupkan dulu.

Saat bekerja pun tiba. Kota kusut Jakarta jadi pelabuhannya. Untunglah aku masuk ke perusahaan yang kegiatan sepakbolanya lumayan aktif dan sampai saat ini menjadi salah satu alasan aku menyukai lingkungan kerja ku. Berlebihan ya..? terserah. Disinilah aku menemukan perbedaan sepakbola yang selama ini aku kenal. Di Jakarta sepakbola memang menjadi olahraga yang mahal dan susah. Susahnya menemukan lapangan bola yang bebas dipakai untuk bermain karena lapangan yang ada lebih sering dirubah bentuk menjadi bangunan persegi tak beraturan : gedung. Mahalnya karena untuk bermain bola akhirnya tidak di lapangan besar tapi lapangan kecil yang dibatasi pembatas, beralaskan rumput sintetis, dan harus disewa  beberapa ratus ribu perjam, ya itulah Futsal yang saat ini  menjadi trend di kota-kota besar seperti Jakarta yang kusut ini. Mungkin inilah yang diramalkan Bang Iwan, “sepakbola menjadi barang yang mahal, milik mereka yang punya uang saja”. Tapi tak apalah,  dengan menyisihkan pengeluaran perbulan aku pun masih dapat berlari-lari dengan bola. Walau dengan napas yang tidak sepanjang dulu, kaki yang tidak sekuat dulu .

Saat berlari-lari dengan bola, saat bisa mencetak gol indah, saat bisa mengecoh lawan, saat bermain bola, saat dimana masalah-masalah seputaran hidup bisa terlupakan, walau hanya untuk sejenak…..terimakasih bagi yang telah menciptakan olahraga ini

adios football lovers..

Advertisements

About kalasenja

sedang mempersiapkan senja paling indah untuk pulang...
This entry was posted in aku dan sekitar and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to si kulit bundar

  1. zen says:

    dulu, saat masih jadi pemain bola (amatir), yg namanya “hutang-susah-sedih-patahhati-dkk” akan musnah begitu saya sudah di atas lapangan dengan kaki dibungkus sepatu Lotto model lama. sekarang, saat ndak lagi main bola, nonton MU main bisa bikin saya melupakan semua persoalan hidup.

    ente benar, bro: terimakasih utk yg sudah menciptakan sepakbola!

  2. kalasenja says:

    berarti aku masih sedikit beruntung zen,,masih bisa main bola walo mahal (futsal) dan walau udah susah lari,,perut makin berisisi ni,,:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s