Tak ada kata menyerah

Seperti pagi-pagi sebelumnya, pagi ini pun aku menyempatkan diri berkunjung ke Warung Tegal (warteg) yang terletak di sebelah kantorku di bilangan Jalan Gatot Subroto. Jam masih menunjukkan pukul 6.30, masih ada waktulah sekitar 20-30 menit untuk naik ke atas dan melakukan rutinitas kantor. Pagi yang dingin, dan dari jendela kaca warteg terlihat lalu-lalang manusia hilir mudik melakukan harinya. Setiap pagi, ya pemandangan inilah yang terlihat di sini. Pesanan kopi susu kesukaanku datang, setelah tegukan pertama, rokok kunyalakan. Kolaborasi yang nikmat. Tiba-tiba dibalik kaca jendela warteg yang pemandangnnya selalu itu-itu saja, manusia yang lalu-lalang, aku melihat seorang bapak tua mengendarai sepeda butut yang dibagian belakang sepedanya terlihat banyak tumpukan koran pagi hari ini. Bapak tua yang memakai topi biru yang menutupi rambut putihnya mengayuh sepeda tuanya dengan semangat. Ada yang aneh, tak sengaja mataku memperhatikan kedua tangannya yang memegang gagang kemudi sepeda. Tangan kanan tampak normal, namun tangan kiri, tangan kiri itu seperempat bagiannya selalu tertutup oleh lengan kemeja panjang lusuh, membuat ujung lengan kemeja itu berkibar-kibar tertiup angin pagi yang dingin. Tangan kiri itu ternyata cacat, hilang sebagian, namun tetap dapat mengambil bagian untuk mengemudikan sepeda tua yang membawa banyak tumpukan koran pagi hari ini. Salut, kata yang spontan keluar dari hatiku. Pikiranku langsung membandingkan kondisi bapak tua bertopi biru itu dengan kondisi pengemis-pengemis yang banyak aku jumpai di jalanan yang tak jarang kondisi mereka jauh lebih sempurna. Kukejar sepeda itu, Pak,,, beli koran satu, koran apa saja.

Warteg sebelah kantor 6.30-6.50 pagi

Advertisements

About kalasenja

sedang mempersiapkan senja paling indah untuk pulang...
This entry was posted in aku dan sekitar. Bookmark the permalink.

3 Responses to Tak ada kata menyerah

  1. nink says:

    Kamu memang selalu begitu… 🙂
    Langsung bertindak kalau sudah merasa terpesona dengan sesuatu. Kalau kubandingkan denganku, mungkin di awal kita sama…tapi sepertinya aku tidak akan memanggil Bapak itu. Mungkin suatu saat dia akan kupanggil, membeli korannya barang 1 atau 2 tapi pastinya tidak saat itu juga. Padahal, entah iya bisa bertemu lagi..

  2. igen says:

    i love this story, particulary the last sentence….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s