Ramadhan (kecil) ku

Bulan ramadhan, bulan puasa, bulan yang selalu dinanti dan dirindukan. Bulan yang ternyata sudah hampir 27 kali aku lalui sepanjang hidupku. Dan saat ini aku teringat bagaimana ramadhan ku yang dulu, saat masih anak-anak.

Aku selalu bersemangat menyambutnya. Malam-malam ramadhanku akan dihiasi oleh aneka rupa makanan dan minuman. Aku akan semangat pergi ke mesjid di dekat rumah yang terletak di sebelah pasar untuk ikut taraweh sambil membawa buku catatan untuk mencatat ceramah ustadz yang menjadi tugas rutin dari sekolah setiap bulan ramadhan tiba. Setelah shalat Isya dan mencatat ceramah, aku lebih sering tidak ikut taraweh atau kabur waktu saat orang sujud pada rakaat pertama. Kemudian bergabung dengan teman-temanku untuk main petasan di luar mesjid. Setelah itu yang terjadi biasanya penjaga mesjid meneriaki dan mengejar-ngejar kami ha.. ha.. ha.. Atau saat bosan main petasan aku akan ke pasar dekat mesjid untuk membeli sate padang kesukaanku.

Setiap malam ketika akan pergi taraweh aku akan diberi uang oleh ibu atau bapakku. Ini sudah seperti menjadi kesepakatan bersama, sebagai hadiah sudah puasa seharian penuh. Siang harinya, saat berat-berat nya menjalankan puasa, setelah pulang sekolah, waktu ku sering dihabiskan di sebuah tempat penyewaan buku dan komik yang terletak di bagian pojok pasar. Membunuh waktu dengan membaca buku-buku Wiro Sableng, Dewa Mabuk, Pendekar Hina Kelana dan berbagai macam cerita silat lainnya termasuk Koo Ping Ho. Biasanya setelah dari tempat penyewaan buku itu aku selalu menyediakan waktu 1-2 jam untuk singgah ke tempat penyewaan video game (ding-dong). Setelah itu barulah pulang menunggu saat berbuka tiba. Tak jarang juga waktu siang aku habiskan dengan bermain ludo, halma atau ular tangga dengan kakak-kakakku atau teman-temanku. Ah,,,,apa masih ada anak2 sekarang main permainan itu? Pastinya anak-anak sekarang lebih tertarik dengan Play Station.

Dulu juga, ketika ramadhan tiba, aku dan teman-temanku sering main mercon. Mercon yang dimaksud disini adalah mercon yang kami rakit sendiri yang dibuat dari bekas busi sepeda motor yang sudah tidak dipakai. Bagian atas dari busi dikosongkan lubangnya yang nantinya akan diisi bubuk mesiu berupa serpihan pentolan kepala korek api dan diatasnya ditutupi kertas pematik korek api. Terakhir akan ditutup oleh baut yang ukurannya sesuai dengan lubang busi, baut tersebut diikat oleh kawat atau karet ke badan busi. Untuk mempercantik, bagian bawah busi akan kami sertakan rangkaian tali plastik yang sebelumnya diiris oleh paku, sehingga mercon kami seperti memiliki ekor yang meliuk-liuk ketika kami menerbangkan mercon kami ke angkasa. Memainkan mercon ini harus di jalanan beraspal agar setelah dilontarkan ke atas begitu kembali ke bawah rangkaian mercon akan bertemu dengan aspal jalan dan menghasilkan bunyi….buuuum….. Berikutnya ya tinggal menunggu orang dari dalam rumah keluar untuk mengusir kami karena kegaduhan yang kami ciptakan.

10 hari terakhir bulan ramadhan, menjelang lebaran, adalah waktu yang aku tunggu-tunggu. Karena saat-saat ini adalah saatnya bermain lilin, obor dan kembang api. Dan puncaknya terjadi pada malam ke 27. Rumah-rumah kami akan dipenuhi oleh cahaya lilin. Ada yang ditaruh di pot bunga, bambu atau di cabang dan ranting pepohonan. Semakin banyak cahaya lilin akan semakin membuat bangga. (Hhh… darimana dapatnya tradisi main lilin di malam bulan ramadhan ini, pastinya bukan ajaran agamaku tapi namanya anak-anak, aku dan temanku-temanku tidak mengerti). Anak-anak berlarian kesana-kemari sambil memutar-mutar kembang api. Kebiasaan yang selalu aku dan teman-temanku mainkan adalah lilin kami taruh di tempurung kelapa yang sudah dibersihkan. Kemudian lilin ini akan menjadi semacam sumber penerangan bagi kami untuk menyusuri pekarangan depan dan belakang rumah-rumah yang gelap, tapi kami tidak berani sampai ke hutan belakang rumah. Takut, terlalu gelap. Jalan beriringan sambil membawa lilin di gelap malam, menghindari gangguan angin jangan sampai membunuh cahaya lilin. Kadang kami saling berkejaran dan berusaha mematikan lilin milik teman. Jam 10 malam akhirnya waktu pulang tiba, badan penuh keringat, capek tapi hati senang Tinggal menunggu malam-malam berikutnya.

Ramadhan hampir berlalu,,,kue-kue untuk menyambut lebaran hampir selesai disiapkan ibuku. Rumahku yang tak berpagar sudah mulai dirapikan, rumput sudah dipotong sehingga tampak lebih rapi, pohon bonsai di depan rumah juga dirapikan sehingga tampak lebih bulat. Senangnya,,,,,,sebentar lagi, beberapa hari ke depan lebaran tiba. Ayah dan ibu juga sudah mempersiapkan baju baru untukku buat dipakai lebaran nanti.

Duk,duk,,duk,, beduk tanda waktu berbuka puasa berbunyi. Akhirnya puasa satu bulan penuh telah selesai. Aku bergegas makan kemudian shalat maghrib. Serba tak sabar, ingin segera keluar rumah berkumpul dengan teman-teman untuk melihat dan merasakan malam takbiran. Gema takbir di seluruh pelosok daerahku, sahut-menyahut mengagungkan kebesaran Illahi. Aku dan teman-temanku segera menyiapkan lilin, petasan dan kembang api untuk dinyalakan. Di daerah ku setiap malam takbiran selalu ada pawai mobil hias, biasanya berbentuk mesjid. Di dalam mobil akan banyak orang yang memukul beduk sambil meyuarakan takbir. Aku dan teman-temanku akan berbaris rapi dipinggiran jalan untuk melihat deretan mobil pawai melintas di depan rumah-rumah kami.

Pagi yang fitri menyingsing, takbir masih terdengar sejak dini hari sebelum subuh tadi. Ibu menyuruh bergegas mandi, shalat shubuh. Setelah itu kami sekeluarga akan makan bersama dan diakhiri saling bermaafan, ibuku selalu menangis pada momen ini.

Aku akan sangat bersedih apabila hari lebaran pertama hujan turun. Artinya aku tidak akan bisa shalat Ied di lapangan, aku lebih suka shalat Ied di lapangan daripada di mesjid, karena aku dan teman-temanku lebih bisa leluasa bermain. Karena usia kami yang masih kecil, kami sering disuruh tidak shalat dan dibiarkan bermain. Lapangan tempat aku, keluarga dan orang-orang di sekitar rumahku shalat Ied adalah sebuah lapangan sepak bola yang terletak di dalam sebuah komplek perusahaan minyak. Luas dan dikelilingi pepohonan hijau dan ada sebatang pohon beringin besar dengan batang berwarna kuning tua di depan lapangan ini. Sering aku mendengar cerita bahwa pohon beringin ini angker, ada penunggunya, banyak orang yang hilang di pohon ini. (budaya musyrik…..)

Aku tidak mengikuti shalat Ied, aku bermain bersama-sama teman seusiaku tidak jauh dari lapangan tepatnya di area tribun penonton. Ketika shalat Ied dimulai aku berhenti bermain aku lebih suka duduk tenang di tribun penonton dengan mata tertuju ke depan lapangan, ke hamparan ratusan manusia yang akan menghadap Tuhan. Kelompok shalat terbagi dua, bagian laki-laki dan bagian perempuan. Mataku lebih tertarik ke bagian perempuan. Ketika mereka sujud, akan terlihat ratusan barisan putih rapi dari mukena (telekung) mereka, seperti buih putih di laut biru. Aku selalu menunggu saat ini, dan selalu sedih apabila hujan turun di pagi hari, hari pertama lebaran.

Setelah itu aku pulang ke rumah dan berkunjung ke sanak-saudara dan tetangga untuk berlebaran, maaf bermaafan.

Akhirnya sepotong kenangan ramadhan masa kecil ini aku tutup.

Anakku… aku pun ingin kau punya banyak kenangan di masa kecilmu yang kelak dapat kau tulis atau kau ceritakan pada anak-anakmu, cucu-cucu ku.

Happy ramadhan…

Advertisements

About kalasenja

sedang mempersiapkan senja paling indah untuk pulang...
This entry was posted in aku dan sekitar and tagged . Bookmark the permalink.

5 Responses to Ramadhan (kecil) ku

  1. Alifia Alisarbi says:

    Aaahhhh kangen. Seperti itu juga masa kecil saya. Sampai sekarang mendengar kata ramadhan pun langsung terbayang-bayang rasanya ingin pulaaaaaang. Maksudnya pulang ke masa kecil dulu…

  2. ga ada bedanya permainan masa kecil kita bung…

    apalagi pas ramadhan, tapi dulu pada saat bulan rama dhan saya sempat curi2 minum air mentah karena ga kuat menahan haus…

    namanya juga anak-anak 🙂

  3. kalasenja says:

    @alifia : masa kecil benar2 menyenangkan

    @pemuda : ha ha ha,,kalau sekarang kebiasaan itu masih diteruskan? 🙂

  4. AL says:

    Saya masih nyuri-nyuri minum loh..tapi cuma pas lagi haid. Soalnya biar gak puasa, tetep aja seharian kehausan dan kelaparan. Kalau pergi-pergi mau minum biasanya pergi ke indomaret atau alfa beli sebotol frestea. Belinya gak masalah kalo cewe beli minum, apalagi saya peke jilbab, orang udah paham. Tapi minumnya lain cerita. Cari-cari tempat sepi atau masuk warnet terdekat lalu minum diam-diam di dalam bilik hihi…

  5. ekosulistio says:

    Wah..Bagus bgt ceritanya, sama dg critaku dulu..Ak kangen banget ma dg masa-masa kyk gt. btw ak pngin tau donk gimana cara bermain ludo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s