cerita tentang Jogja

Malam, disertai hujan gerimis, sehari setelah aku menyelesaikan ujian akhir masa SMU (ebtanas). Suatu malam yang akan menjadi awal bagiku untuk meninggalkan kota tempat dimana aku lahir dan dibesarkan, Pekanbaru. Malam itu kepergian ku dilepas tangis ibuku. Sementara bapak hanya tenang dan diam, namun aku yakin ada gemuruh di dadanya ketika melihat anak laki-lakinya yang bertahun-bertahun bersama akan segera berangkat menuntut ilmu di kota lain. Selamat tinggal wajah-wajah terkasih, yang lama kelamaan semakin hilang dari balik kaca oto bus ku.

Jogjakarta, sebelum matahari berpijar aku sampai. Jalanan masih sepi dan bangunan-bangunan kota tidak tampak begitu jelas, hanya lampu-lampu jalan saja yang sepertinya menyambut kedatangan ku.

Ini adalah untuk yang kedua kalinya. Tiga tahun yang lalu, saat liburan panjang SMP, untuk pertama kalinya aku sampai di Jogjakarta. Impresi yang timbul pertama kali saat itu adalah, bahwa kota ini begitu sederhana, dan sangat mengasyikkan. Aku masih ingat ketika aku jalan-jalan di komplek UGM, para mahasiswa banyak yang menggunakan sepeda, dan saat itulah aku berniat suatu saat nanti aku harus ke kota ini kembali untuk melanjutkan sekolahku. Dan hari ini angan itu terwujud sudah.

Perlu kujelaskan lagi kenapa aku memilih kota ini sebagai persinggahanku. Seperti yang kusebut di atas, kota ini sederhana. Tidak begitu banyak bangunan-bangunan tinggi yang dapat menghalangi pandangan kita ke langit biru. Jumlah mobilpun tampaknya kalah dengan jumlah sepeda motor yang benar-benar menguasai jalanan Jogja. Bohong kalau di Jogja ini tidak ada orang kaya, konglomerat atau pengusaha sukses. Pasti ada bahkan mungkin banyak. Namun kesan kaya itu tidak terlihat di kota ini, atau mungkin karena pergaulanku yang tidak sampai ke lingkungan elit tersebut. Kesederhanaan Jogja menurutku secara tidak langsung tercermin dari biaya hidup yang cukup murah, dan ini termasuk alasan kenapa aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Jogja. Bukan di Bandung atau Jakarta. Aku berpikir dengan begini orang tuaku tidak terlalu berat menanggung biaya kuliah dan hidupku. Kasihan, bapak sudah terlalu lelah mencari uang.
Perasaan aman menjadi sebuah nilai yang amat berharga yang diberikan Jogja bagi pendatang seperti ku. Aku tidak tahu banyak kota lain tapi kalau dibandingkan dengan kota kelahiranku, Pekanbaru, begitu terasa perbedaannya. Di kota asalku, ketika kita melewati sebuah jalan atau gang yang baru pertama kali kita lewati dan di jalan atau gang tersebut ada anak-anak muda yang lagi kumpul-kumpul biasanya kita akan merasa cemas karena tidak jarang mereka akan menindas orang baru di wilayah mereka. Bisa dengan minta uang atau barang berharga. Juga, ketika keluar di malam hari sebaiknya jangan terlalu malam (di atas jam 9 malam) karena lingkungannya tidak terlalu aman, intinya kita selalu merasa was-was. Nah, kondisi dan perasaan seperti di atas tidak pernah aku alami selama di Jogja. Alhamdulillah aku tidak pernah mengalami tindak kriminal, walaupun di setiap kota termasuk Jogja pasti ada yang disebut preman, gali atau apapun namanya. Kita bisa melewati gang-gang atau jalan yang baru pertama kali kita datangi dengan perasaan aman, dan kalaupun ada anak-anak muda yang sedang kumpul-kumpul ya tinggal bilang permisi, kulo nuwun. Tidak jarang juga aku keluar dari kos menjelang tengah malam untuk sekedar makan di lesehan, warung bubur kacang ijo (burjo) atau angkringan. Walaupun sepi, jalanan Jogja tetap terasa aman untuk di lewati. Tempat makan seperti warung burjo dan angkringan adalah tempat-tempat yang sering aku kunjungi. Waktu yang tepat untuk datang adalah malam hari dan biasanya aku datang dengan teman-teman kos. Untuk makanan, tidak ada masalah. Memang ciri masakan khas Jogja dan Jawa umumnya adalah rasa manisnya lebih terasa. Berbeda dengan daerahku yang mana ciri masakannya adalah pedas. Dan tidak perlu khawatir karena di Jogja warung makan yang menawarkan aneka rasa tersebar di setiap penjuru kota. Ada tempat lain yang sering aku kunjungi yaitu tempat penyewaan komik di daerah Gejayan. Aku bisa memuaskan dunia fantasiku dengan membaca komik. Aku juga suka sekali mengunjungi deretan pantai Selatan, seperti Pantai Kerakal, Sundak dan Putih. Pantai-pantai ini lebih sepi dibandingkan Parangtritis . Menikmati angin pantai sambil makan ikan bakar. Wuenak tenan. Dan yang terakhir aku suka juga menyambangi Kaliurang . Sekedar duduk di gardu pandangnya melihat Gunung Merapi dari dekat. Udara pegunungan memang selalu menyejukkan.

Sampai aku lulus kuliah di Teknik Geologi UGM, aku telah ada di Jogja kurang lebih 5 tahunan. Waktu yang cukup lama, tapi yang namanya waktu tetap tak terasa berlalunya. Kalau ditanya pengalaman yang berkesan selama di Jogja, aku pasti akan menjawab banyak namun salah satu yang menempati urutan teratas adalah pengalaman mendaki gunung bersama teman-teman kuliah. Bagiku yang lahir dan besar di Pekanbaru, yang namanya gunung adalah objek alam yang langka. Gunung hanya bisa dilihat apabila kita pergi ke Sumatra Barat atau Sumatra Utara. Sehingga sampai aku SMU pun aku tidak mengenal aktivitas pendakian gunung. Aku sangat menikmati saat mendaki gunung. Bayangkan, bersama-sama teman, kita dapat menghirup segarnya udara pegunungan, mencium wangi daun dan pepohonan, menikmati hangatnya secangkir kopi, sebungkus mi rebus dan rokok yang tentu tidak boleh lupa. Bayangkan, bersama teman-teman kita dapat merasakan susah dan lelahnya melewati lereng gunung dan merasakan puasnya setelah sampai di puncak. Namun, diantara beberapa kunjungan ke gunung, yang boleh dikatakan paling lucu adalah saat aku dan teman-teman kuliah (Bimo, Ciput, Lanang, Afnin) memutuskan untuk ke Gunung Bromo. Kami sudah mempersiapkan segala kebutuhan pendakian, dan dengan gagahnya melewati kota-kota menuju Jawa Timur sambil membawa carrier bag. Dasar tidak tahu informasi, ternyata yang namanya Gunung Bromo adalah gunung wisata, bahkan untuk ke puncaknya sudah banyak tersedia mobil Jeep yang siap mengangkut kita, tentunya bayar, dan jalan menuju puncak pun sudah diaspal bagus. Jadinya kami tidaklah menjadi pendaki gunung, tapi hanya mejadi turis lokal. Untuk turun dari puncak ke kaki gunung kami sudah kehabisan uang. Uang sudah banyak terpakai buat naik ke puncak tadi. Tidak cukup untuk menyewa Jeep lagi. Uang harus disisakan buat ongkos pulang ke Jogja nanti. Akhirnya kami menumpang mobil sayuran yang akan turun ke kaki gunung. Jalan menurun yang berkelok-kelok membuat perut ini mual. He.. he.. di sini aku dan Ciput saling berlomba menahan diri untuk tidak muntah.

Ada lagi sebuah pengalaman yang mengesankan. Aku suka mendengar musik dan lebih suka lagi apabila menyaksikannya secara langsung. Selama di Jogja, kesempatan untuk menyaksikan konser musik sangat banyak. Namun di antara konser-konser yang pernah aku saksikan yang paling berkesan adalah ketika melihat langsung konser salah satu band favoritku, Helloween. Dahsyat, permainan mereka benar-benar hebat. Jogja malam itu hingar-bingar dihentak musik cadas mereka.

Sebagai mahasiswa Teknik Geologi, kita diwajibkan untuk melakukan pemetaan mandiri. Aku mendapat wilayah pemetaan yang paling jauh saat itu. Bersama teman-teman ku (Eli, Putra, Dodol dan Jefri) kami melakukan pemetaan di wilayah Gombong, Prop. Jawa Tengah. Dari Jogja sekitar 4 jam apabila menggunakan sepeda motor. Daerah pemetaan ku berada di daerah pantai, dan sebuah pantai yang sering ku datangi adalah pantai Ayah.
Pantai yang sepi namun cukup indah. Ada sebuah ritual yang sering kulakukan selama pemetaan di Gombong. Di daerah pemetaan ku terdapat deretan perbukitan kars yang sangat luas. Begitu masuk Gombong kita pasti sudah bisa melihat deretan perbukitan ini. Setiap sore hari sebelum kembali ke basecamp, sehabis melakukan pemetaan biasanya aku meyempatkan diri untuk duduk di pinggir jalan yang langsung menghadap deretan perbukitan kars. Jalan dan perbukitan kars dipisahkan oleh daerah lembah. Di jalan inilah aku selalu menghabiskan sore sebelum senja. Menghilangkan kepenatan dan kejenuhan pemetaan sambil melihat indahnya deretan perbukitan kars.

Aku pikir, UGM, tempat ku kuliah termasuk salah satu universitas yang masih mewajibkan mahasiswanya untuk KKN. Aku termasuk telat untuk mengikuti KKN dibanding teman-teman geologi yang lain. Jadi, ketika KKN teman-teman kelompokku di dominasi oleh angkatan 2001 bahkan ada yang 2002. Tempat ku KKN tidaklah begitu jauh. Magelang kota yang gemilang, lebih kurang 1 jam dengan sepeda motor dari Jogja. Sebelum perempatan lampu merah yang menuju kawasan Candi Borobudur, belok kanan, lurus terus sampailah di desa tempat ku KKN, Desa Mungkid. Mungkin bagi mahasiswa yang lain KKN saat ini sudah tidak begitu penting, lebih baik dihapuskan sehingga tidak memberatkan mahasiswa. Tapi buatku, aku sangat senang dengan KKN. Aku akan ke Desa, sebuah lingkungan yang dapat membuat kita berhenti sejenak dari ramainya kota. Hari-hari pertama KKN belum begitu menyenangkan, karena masih dalam tahap adaptasi. Namun minggu-minggu berikutnya aku sudah membaur dengan masyarakat, bapak-bapak, pemuda dan anak-anak. Pemuda desa menurutku memegang peranan penting untuk sukses tidaknya program-program yang akan kita laksanakan selama KKN. Apabila kita dapat beradaptasi, mereka tidak akan sungkan membantu mewujudkan program kita. Malam-malam ku selama KKN sering dihabiskan di gardu ronda. Sehabis shalat Isya kumpul sama pemuda desa untuk sekedar ngobrol ngalor ngidul, gitaran atau main karambol. Menjelang tengah malam biasanya aku diajak pemuda desa untuk keliling rumah warga mengambil jimpitan. Jimpitan ini semacam upah untuk orang-orang yang menjaga keamanan dukuh, bisa berupa uang atau beras. Program-program ku selama KKN semuanya sukses terlaksana. Tapi entah mengapa aku tidak terlalu puas. Aku lebih puas dengan kenyataan bahwa aku pribadi dapat bergaul baik dengan masyarakat tempat aku KKN dan mereka juga menerimaku. Yang cukup mengharukan adalah ketika masa KKN kami selesai, hari itu kami akan kembali ke Jogja. Ketika kami berjalan menuju bus yang sudah menunggu, sepanjang jalan warga berbaris untuk menyalami kami satu-persatu. Ibu-ibu dan anak-anak terlihat menangis melepas kepergian kami. Namun satupun pemuda desa yang selama ini sudah bergaul dengan kami tak tampak batang hidungnya. Aneh,,apa mereka tidak tahu dan tak mau perduli kami akan pulang? Waktu berikutnya aku baru tahu kenapa mereka tak mau hadir saat kami akan meninggalkan desa. Ternyata mereka sedih sehingga mereka hanya melihat kami dari kejauhan dari tengah sawah. Aku tak akan pernah lupa masa-masa KKN ini.

Bicara mengenai obsesi. Obsesiku yang telah tercapai selama di Jogja adalah aku bisa lulus dengan target yang memang sudah kutetapkan yaitu 5 tahun. Obsesi lainnya adalah aku bisa memperoleh uang dengan hasil usahaku sendiri. Dulu, ketika aku masih SMU aku selalu bercita-cita ketika kuliah nanti aku harus bisa mencari uang dengan usaha sendiri. Uang yang aku peroleh memang tidak jauh dari lingkungan kuliah ku yaitu membantu mengerjakan proyek dosen. Dari hasil ikut proyek ini aku bisa membiayai hidupku tanpa minta kepada orang tua lagi. Obsesi berikutnya yang terwujud adalah, aku bisa ngeband bareng teman-temanku di SMU dulu. Tampil di beberapa festival walau tak pernah menang. Jadi band pengisi acara walau tak dibayar. Sebuah aktivitas yang bisa membuat hidupku ada variasinya. Tidak selalu disibukkan dengan urusan kuliah dan praktikum. Obsesi yang belum sempat terwujud selama di Jogja ada beberapa. Diantaranya adalah dulu aku punya keinginan mengelilingi pulau Jawa, dari satu kota ke kota lain. Obsesi ini tidak pernah terwujud. Yang lainnya adalah aku belum sempat menikmati semua seluk beluk budaya Jogjakarta. Padahal dulu ketika SMU, aku tahu Jogja adalah kota seni dan budaya, tapi sampai aku lulus aku tidak pernah menyaksikan pagelaran seni Joga baik berupa tarian, teater dan lain-lain. Menyedihkan.

Jogjakarta bisa dikatakan sebagai Indonesia mini. Karena di kota ini kita bisa menjumpai orang dari berbagai penjuru negeri. Begitu juga dengan teman-teman di kampusku. Orang-orang dari berbagai suku, agama dan ras ada di sekitarku. Aku punya teman yang asli dari Jogja, dari Jawa Barat sampai Jawa Timur, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Ambon, NTT, NTB dan bahkan dari Papua sana. Awal-awal masa kuliah aku belum dapat banyak bergaul. Permasalahan utama pada saat itu adalah masalah bahasa. Teman-teman lebih banyak berasal dari Jogja sehingga bahasa yang dipakai lebih sering bahasa Jawa. Jadi kalau mereka ngobrol sering tidak dapat kutangkap apa maksudnya. Namun seiring waktu lama-kelamaan aku mulai mengerti bahasa Jawa. Berbagai macam suku, ras dan agama tidak menjadi sebuah halangan bagiku untuk membina persahabatan di lingkungan kampus. Hal itu malah membuat wawasan kita berambah kaya. Aku bisa bertanya, Kalimantan seperti apa ya ? atau Papua seperti apa ya?.Yang agak sedikit mengganggu adalah apabila aku ditanya : “dari mana?” aku jawab “dari Pekanbaru”. Orang biasanya langsung menyimpulkan , oooo bapaknya kerja di Caltex ya,,,.

Aku rasa, untuk menceritakan Jogja pasti membutuhkan beribu kata. Yang pasti bagiku kota ini sangat menyenangkan. Kota yang disekitarnya mempunyai banyak tempat wisata yang akan sangat sayang apabila tidak kita kunjungi. Apabila kita menyukai wisata gunung, kita bisa ke Utara, meyambangi Gunung Merapi. Kalau suka wisata pantai, kita bisa ke Selatan melihat deretan pantai Selatan. Kita suka melihat candi, gampang, Candi Prambanan dan Borobudur tidak begitu jauh dari Kota Jogja. Kalau suka dengan hal-hal yang berbau sejarah, kita bisa mendatangi Keraton, tempat tinggal Sultan Hamengkubuwono, atau ke benteng Vredeburg. Untuk menuju keraton kita akan melewati sebuah jalan yang sangat terkenal dan menjadi identitas kota Jogja, Jalan Malioboro. Jalan yang sangat ramai oleh para penjual kaki lima yang menjajakan aneka barang seperti barang-barang kerajinan tangan, ukiran, pakaian dan lain-lain. Namun kondisi Maliboro saat ini tidak senyaman dahulu. Sekarang jalan ini terlalu ramai, terlalu bising oleh kendaraan yang lalu lalang yang akhirnya menciptakan kemacetan. Belum lagi becak dan delman yang juga sibuk lalu lalang seperti tidak mau kalah dengan kendaraan bermotor. Seharusnya pemerintah Daerag Istimewa Yogyakarta (DIY) segera memikirkan cara bagaimana membuat Malioboro seperti dulu lagi. Membuat kita merasa nyaman untuk berjalan-jalan di sepanjang jalan ini. Sedih kalau jalan yang menjadi identitas kota ini menjadi tak terurus dan tidak ada bedanya dengan jalan-jalan lain.

Terus terang, selama hidup di Jogja aku tidak terlalu banyak berinteraksi dengan masyarakat asli Jogja. Namanya anak kos, jadi lingkungan disekitarku adalah anak-anak kos yang sama sepertiku, pendatang dikota ini. Paling interaksi ku hanya seputar pemilik kos, pemilik kos sebelah, atau yang punya warung makan di dekat kos. Pola kehidupan di Jogja turut menciptakan nilai-nilai yang dapat kupelajari. Kesederhanaan. Di Jogja kita tidak akan dituntut berpenampilan necis, atau sekedar berprilaku yang menunjukkan kita orang kaya. Menurutku, disini tidak ada yang perduli. Aku melihat dan merasakan, di Jogja, khususnya di UGM, tidak semua mahasiswa datang dari keluarga yang ekonominya berada. Banyak yang pas-pasan atau di bawah. Sehingga jangan heran kalau aku dan mahasiswa di Jogja lainnya berusaha untuk menerapkan pola hidup sederhana. Mencari tempat kos yang tidak terlalu mahal dan diusahakan tidak terlalu jauh dari kampus sehingga untuk ke kampus bisa dengan jalan kaki, atau naik sepeda. Itu akan menghemat pengeluaran sebulan. Ternyata kesederhanaan menciptakan nilai turunannya, hemat. Makan di tempat-tempat yang tidak mahal dan jauh dari kesan mewah, yang syukurnya di Jogja tempat-tempat seperti ini banyak. Untuk pakaian pun tidak terlalu dipikirkan. Aku jarang membeli baju atau celana baru. Uang lebih baik digunakan untuk memfotokopi buku atau membayar praktikum. Untuk cara berpakaian aku punya pendapat bahwa di Jogja kita ta mau berpakaian atau bergaya apa saja. Mau bepakaian sepeti Don Juan, atau berpakaian lusuh, kumal dan kucel atau berpakaian apa adanya tidak akan ada yang perduli. Karena kota Jogja mempunyai karakter santai dan bebas berekspresi.

Lingkungan kampus dan kos-kosan yang dihuni oleh mahasiswa dari berbagai suku, agama dan ras dengan bermacam-macam latar belakang ekonomi dan sosial budaya, membuat aku harus memiliki sebuah nilai kehidupan yang sangat penting. Dalam lingkungan seperti itu kita harus mampu menciptakan pembauran sosial yang baik. Harus pandai membawa diri dalam pergaulan yang multietnik, karena belum tentu hal kita suka disukai oleh teman lain. Saling tenggang rasa dan saling berusaha untuk menciptakan kedamaian. Percayalah nilai-nilai seperti ini sangat penting untuk kita bawa di periode kehidupan berikutnya.

Aku begitu menyukai kehidupanku selama di Jogja. Kota ini benar-benar membuatku betah. Aku begitu meyukai masa-masa di saat aku ada di kosan. Bangun pagi hari, duduk diberanda sambil memutar musik, ditemani kopi atau teh, suasana pagi yang sempurna. Dan malam hari sebelum berangkat keperaduan, aku masih bisa menikmati alam malam Jogja dengan tenang sambil menghembuskan kepulan asap. Dan apabila bosan dengan itu aku masih bisa keluar bersama teman kos berkunjung ke warung burjo atau angkringan, sekedar ngobrol menghabiskan malam. Aku begitu merindukan masa-masa ketika di Jogja. Dan ketika mendengar lagu Jogjakarta oleh KLA PROJECT, seperti malam aku menuliskan ini, hanya ada satu perasaan, aku ingin pulang kembali ke Jogja walaupun hanya untuk sejenak. Sejak lulus kuliah, aku tidak pernah lagi datang ke Jogjakarta. Berbagai macam hambatan walaupun hati ini sangat ingin. Atau ketika aku mendengar Tony Q Rastafara menyanyikan lagu Jogjakarta terbayang kondisi Jogja yang adem ayem, tepo sliro. Dan seperti Tony Q senandungkan kenangan di Yogyakarta, dieling-eling, manise ora iso ilang. Tapi apakah Jogja masih seperti dahulu. Atau seperti yang dikabarkan teman bahwa Jogja sudah banyak berubah. Semakin banyak tempat perbelanjaan berkarakter mal, semakin banyak cafe yang lambat laun dapat menggusur warung rakyat seperti warung burjo atau angkringan. Aku takut Jogja euforia menghadapi moderenisasi dan menghilangkan karakter khasnya sebagai kota budaya, kota seni dan kota pelajar. Aku berharap Jogja di masa mendatang tetaplah Jogja seperti yang dulu. Tetap besahaja dan sederhana. Tetap sebagai kota yang kondusif untuk menuntut ilmu. Orang-orangnya tetap murah senyum saling perduli satu sama lain. Sehingga sampai selamanya Jogjakarta tetap berhati nyaman.

Advertisements

About kalasenja

sedang mempersiapkan senja paling indah untuk pulang...
This entry was posted in aku dan sekitar and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to cerita tentang Jogja

  1. win1001 says:

    menarik sekali.. saya juga dr pekanbaru, dan berencana merantau ke jogja setelah selesai kuliah.. tulisan ini sangat membantu.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s