Surat buat Anakku

Surat ini aku buat, untuk aku sampaikan, mungkin secepatnya ketika kau bisa mendengar dan memahami sesuatu, atau kalau tidak suatu saat kelak ketika kau buka blog ku ini….

Malam, menjelang jam 10 penantian itu akhirnya datang. Engkau lahir ke dunia ini dengan selamat. Sayang aku tidak bisa melihat secara langsung dan mendengar tangisan pertama mu. Tapi aku yakin kau akan menangis keras menandakan kau telah hadir di dunia ini. Anak laki-laki ku yang selalu ku nantikan. Anak yang kelak akan meneruskan garis keturunan ku, meneruskan marga.

Waktu memang tak terasa, kemaren aku masih SD, SMP, SMU Kuliah dan berkerja, sekarang aku sudah memiliki anak. Memang siklus kehidupan selalu begitu, selalu berulang, ada yang pergi ada yang datang ke dunia ini. Kelahiran mu ini menjadi hadiah yang paling istimewa di penghujung tahun 2008. Bertambah istimewa lagi ketika kepulangan mu dari rumah sakit menuju rumah kita diiringi takbir yang berkumandang di seluruh penjuru kota. Kau lahir berdekatan dengan hari raya Idul Adha.

Anakku, ketika kau lahir dan kukabarkan berita gembira ini. Semua keluarga kita, teman-teman ayah dan bunda mu mengirimkan pesan atau telfon menyelamati kelahiranmu dan mendoakan agar kau selalu menjadi anak yang shaleh, menjadi bintang di keluarga kita, berguna bagi agama dan masyarakat dan menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. Dan itu juga yang selalu aku doakan di setiap shalatku. Aku tak tahu, apa yang telah di garis Tuhan tentang rezeki mu, jodohmu dan ajalmu kelak. Itu rahasia yang Maha Kuasa, kita hanya bisa berusaha dan menjalaninya. Tapi tentunya segala yang baik aku harapkan terjadi padamu.

Kau kuberi nama Alif Raqilla Lubis. Alif, huruf pertama dalam abjad arab. Karena kau anak pertamaku, cocoklah kiranya. Disamping itu, bentuk huruf Alif yang lurus aku harapkan kau menjadi anak yang selalu menempuh jalan yang lurus (istiqamah) . Bentuk huruf itu juga menurutku mewakili sifat tegar dan mandiri. Raqilla itu artinya selalu berbuat kebaikan. Sedangkan Lubis itu marga kita, marga dari nenek moyang kita dan merupakan identitas kita sebagai orang Batak. Jadi kalau digabung, namamu itu berarti anak pertamaku yang menempuh jalan lurus dan selalu berbuat kebaikan. Nama ini aku anggap baik dan semoga doa yang terbawa oleh nama ini kelak menjadi kenyataan. Sekarang kau belum mengerti karena kau masih hanya bisa tidur tenang dengan wajah indahmu itu.

Membesarkan mu dan mendidikmu menjadi anak yang baik merupakan sebuah tanggung jawab yang besar bagi kami, orang tuamu. Aku selalu dihantui rasa takut apakah kami orang tuamu yang keduanya bekerja ini, nanti bakal dapat memberi kasih sayang yang banyak buatmu. Aku takut kami pergi kerja engkau masih tertidur dan ketika pulang, kau sudah menunggu dengan harapan dapat berbagi kasih kami malah kecapean dan memilih untuk tidur. Aku takut kami tak bisa memperhatikan perkembangan jiwamu, dan tidak dapat mendampingimu saat kau menonton televisi. Aku takut waktu mu banyak dihabiskan di depan pesawat kotak itu karena sekarang ini banyak sekali acara-acara yang tak ada gunanya untuk ditonton. Maafkan kami, tapi aku janji akan mendidik mu sebaik-baiknya sampai suatu saat nanti engkau memutuskan jalan hidupmu sendiri.

Aku teringat akan sebuah materi ceramah dari ustad bahwa ada 3 nasehat Lukman yang terkenal yang diberikannya kepada anaknya :

  1. Jangan pernah menyekutukan Allah, dalam bentuk apapun. Karena Dia adalah yang Maha Esa.
  2. Selalu tegakkan shalat. Shalat merupakan identitas kita sebagai orang Islam. Aku pun masih berusaha untuk menegakkan shalat tepat waktu.
  3. Jangan pernah sombong. Sombong adalah sifat yang tidak baik karena sifat itu hanya milik Tuhan. Dan yakinlah kalau kau punya sifat sombong kau tidak akan dapat bergaul dengan baik di lingkungan masyarakat mu kelak. Tetaplah membumi dan menginjak tanah.

Terakhir, selamat datang ke dunia baru ini anakku. Semoga kau menjadi anak yang shaleh, menjadi bintang di keluarga ini dan memberikan manfaat bagi agama dan masyarakat.

Jauh jalan yang harus kau tempuh

Mungkin samar atau mungkin terang

Tajam kerikil setiap saat menunggu

Engkau Lewat dengan kaki tak bersepatu

Duduk sini nak, dekat pada bapak

Jangan kau ganggu ibumu

Turunlah lekas dari pangkuannya

Engkau lelaki kelak sendiri

(NAK by Iwan Fals)

Advertisements

About kalasenja

sedang mempersiapkan senja paling indah untuk pulang...
This entry was posted in aku dan sekitar and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s