Si Midun dan tingkah laku TV sekarang.

Capture

Beberapa hari ini karena sakit, saya harus mengurung diri di kamar, membatasi komunikasi dengan luar. Kondisi seperti ini mau tidak mau, buku,film, serta jaringan internet menjadi hal yang harus ada di kamar, untuk dapat membunuh sesuatu yang bernama bosan. Seperti saat ini, saya memutuskanuntuk mencari hiburan dengan media yang ajaib, yang bernama Youtube. Kenapa ajaib karena sepertinya semua ada di Youtube, tinggal ketik dan hiburan pun tersaji di depan mata. Tinggal menikmati.

Satu film yang ingin saya putar kembali saat ini adalah “ Sengsara Membawa Nikmat” yang disutradarai oleh Asrul Sani dengan tokoh utamanya si Midun. Sebuah film yang diambil dari buku berjudul sama tulisan Tulis Sutan Sati, yang diterbitkan Balai pustaka pada tahun 1928. Mesin waktu pun berputar,, dulu saya masih kecil ketika serial ini booming dan menjadi tontonan yang sangat ditunggu orang-orang tiap minggunya. Saya ingat, setiap serial ini belum dimulai diputar kami sekeluarga sudah berkumpul rapi di depan tv kotak hitam putih kami. Menunggu dengan berdebar bagaimana kelanjutan cerita dari minggu sebelumnya. Kadang ada tetangga yang ikut serta, benar-benar suasana yang membuat kangen.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari jalan ceritanya. Setting pada masa penjajahan kolonial Belanda. Ada tokoh baik, yang alim, berpegang teguh pada agama, suka membela kebenaran dan ada tokoh jahat yang dengan segala cara mencoba menghancurkan yang baik. Dan akhirnya dengan segara kesabaran, keteguhan melewati banyak penderitaan dan cobaan, tokoh baik akhirnya menjadi pemenang dan bahagia. Tapi disitulah letak kehebatan dari film-film jaman dulu. Mereka jujur dalam menceritakan sesuatu, natural dan tidak berlebihan. Akting pemain kelas satu. Dan ini yang paling penting, banyak nilai moral didalam ceritanya yang ingin disampaikan ke penonton. Nilai ajaran agama, kepatuhan pada orang tua, kesabaran, cinta kasih, pershabatan dan banyak lagi lainnya. Belum lagi nilai budaya yang dibawa film ini dengan latar budaya Minang yang kental ikut menjadikan film ini semakin menarik untuk dilihat. Masih ingat tidak musik pembuka setiap kali serial ini mau mulai. Sampai sekarang saya masih ingat dan suka dengan komposisi musiknya, seindah, lembah,ngarai dan sawah –sawah alam Sumatra Barat.
Kadang saya berpikir, kemajuan zaman ikut menggerus nilai-nilai positip yang ada di zaman sebelumnya. Cobalah bandingkan kualitas tayangan TV sekarang dengan serial diatas. Memang sekarang stasiun TV banyak tapi pola hiburan yang ditampilkan adalah sama : yang penting orang suka, rating naik, iklan banyak, laba pun datang. Nilai moral, nilai edukasi itu sudah tidak berlaku. Nomor kesekian. Maka jangan heran kita saat ini disuguhkan dengan acara yang tidak bermutu, bercandanya berlebihan, goyangan tidak jelas, bergaya banci. Dan itu tiap hari, tiap minggu, tiap bulan, gila kan. Kita hancur di segala sisi, tidak hanya politik, supremasi hukum, ekonomi, budaya tapi juga dari segi hiburan. Dan hari ini saya baca berita, talkshow nya Deddy Corbuzier “Hitam Putih” yang menurut banyak orang termasuk talkshow yang bagus, karena memuat nilai-nilai inspirasi semakin di geser jadwal tayangnya, kalah prioritas dengan program yang tidak bermutu tapi ratingnya tinggi. Dan akhirnya atas nama prinsip serta idealisme, Deddy lebih memilih berhenti dan tidak melanjutkan lagi acara tersebut. Ini sebuah contoh dimana bisnis media tidak lagi mementingkan nilai edukasi dan moral yang saya sebutkan tadi, laba,rating dan keuntungan adalah nomor satu, diatas segalanya.

Saya yakin, bukan hanya saya saja yang merindukan tayangan dan hiburan yang berkualitas dari televisi. Banyak orang lain juga menginginkan yang sama. Apakah tidak pernah terpikirkan bagaimana efek hiburan yang tidak mendidik itu bagi anak-anak kita. Bukankah katanya mereka itu adalah generasi penerus bangsa ini. Tidak masalah tayangan yang mementingkan hiburan semata, tapi buatlah berimbang. Jadi kita sebagai konsumen masih punya ruang untuk memilih mana tayangan yang bagus mana hiburan yang sampah. Bagamana dengan tayangan musik, ? oh sama saja, sama saja hancurnya maksud saya. Mana ada acara musik yang berkualitas. Apalagi mengharapkan acara musik anak-anak yang pada jaman saya dulu masih bisa saya dapatkan. Kadang saya miris ketika melihat dan mendengar anak-anak kecil sekarang begitu fasihnya menyanyikan lagu dangdut koplo yang sama sekali belum pantas untuk seusia mereka. Dari mana mereka dapat, ya tentu saja dari acara televisi. Pernah ingat juga tidak zaman kita kecil dulu ada acara di TVRI tentang pelajaran menggambar yang di pandu oleh Pak Tino Sidin dengan topi baret khasnya. Sumpah, itu acara keren banget. Atau juga dulu sore hari ada acara cerdas cermat yang memperlombakan sekolah-sekolah, saya hampir tidak pernah absen untuk menontonnya, karena menambah pengetahuan dan sekaligus mengukur kemampuan saya secara individu. Menstimulus untuk lebih banyak belajar dan membaca.

Saya percaya, orang yang berkecimpung di dunia media terutama televisi pasti dapat membuat acara-acara seperti itu lagi, tidak susah, asal mau, dan melulu berpatok pada keuntungan finasial saja. Semoga masih ada orang-orang waras yang masih mau memberikan tayangan dan hiburan yang baik buat kita di masa mendatang. Amin.

Advertisements

About kalasenja

sedang mempersiapkan senja paling indah untuk pulang...
This entry was posted in aku dan sekitar and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Si Midun dan tingkah laku TV sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s