Taksi

Diujung malam. Malam yang aku anggap bisa menjadi akhir dari segalanya, mungkin terlalu berlebihan tapi itulah perasaan yang ada ketika sebuah serangan sakit kepala dahsyat menyerangku, diselingi mual yang begitu pekat. Peristiwa yang membuatku memutuskan untuk bergegas ke UGD sebuah rumah sakit. Sesampai di UGD, jarum suntik segera tertancap dan obatnya akan masuk ke peredaran darah dan akan (semoga) menang dalam perperangan melawan sumber penyakit. Beberapa jam lamanya terbaring sambil mendengar keluhan beberapa pasien yang datang dengan penyakit yang berbeda-beda. Terpujilah dokter dan para perawat yang memperoleh giliran jaga malam ini

Dokter menyaranku untuk pulang dengan memeberi bekal beberapa racikan obat. Dan di penghujung malam, aku melangkah gontai keluar dari ruang UGD menuju ke pinggir jalan untuk mencari taksi yang bisa mengantarkan ku ke rumah, pulang. Kuno, kenapa tidak disediakan petugas yang bisa memanggilkan taksi untuk pasien. Tidak akan seperti ku sekarang ini, gontai, menahan pusing dan angin dingin di penghujung malam.

Pak,Pak,,,tok tok,,,pintu taksi dipinggir jalan aku ketok, berharap supir taksi yang sedang tertidur pulas segera bangun dari mimpi nya. Akhirnya setelah beberapa kali ketukan tubuh itu bangun juga, sambil mengucek mata bertanya mau kemana? Dengan suara agak pelan menahan dingin aku berkata, minta diantar ke daerah “A”. Respon secepat kilat, langsung keluar dari mulutnya, disertai alasan yang sangat jelas dibuat-dibuat. Maaf mas, saya gak bisa saya harus jemput tamu lain yang udah janji minta diantar ke Bandara Cengkareng sekarang. Ini saja sudah agak telat saya jemputnya. Umpatan sempat keluar karena penolakan terhadap konsumen sudah terjadi di ujung sebuah malam. Sebuah malam yang sangat dingin. Tapi di sisi lain saya bisa mengerti kalo taksi menolak, karena daerah “A” dimana rumah ku berdiri tidak jauh dari ini rumah sakit, mungkin hanya sepeminuman teh dan sudah pasti argo taksi akan memeberikan nominal yang kecil. Tidak sebanding dengan sebuah tidur yang terganggu di malam ini. Mungkin aku berburuk sangka, tetapi kalo memang menolak karena ada pelanggan lain harusnya langung di tolak saja di awal tidak memulai percakapan dengan mau di antar kemana. Akhirnya taksi pun berlalu dan mungkin akan berhenti beberapa tombak ke depan untuk melanjutkan tidur, melanjutkan mimpi, di ujung sebuah malam.

Jalan teramat lengang dini hari ini. Sehingga memudahkan ku untuk menyebrang, karena di depan sana ada beberapa taksi dengan warna yang sama dengan taksi yang tadi. Sampai di taksi seberang jalan, seperti sebelumnya, aku ketuk pintu karena supir masih meringkuk di belakang kemudi, menahan dingin sambil tertidur pulas. Sambil mengucek mata, supir bertanya, mau diantar kemana Mas ?. Bisa tolong antar saya ke daerah ”A” Pak ? jawabku sambil menahan dingin. Mesin dinyalakan, dan taksi segera menembus malam melewati jalan yang sepi. Sedikit rasa gembira ketika sampai di rumah, 6 kali lipat nominal dari argo di taksi aku serahkan sebagai tanda terima kasih untuk mau mengantarkan ku pulang, di ujung malam yang dingin dengan sakit di kepala disertai mual yang pekat.

Advertisements

About kalasenja

sedang mempersiapkan senja paling indah untuk pulang...
This entry was posted in aku dan sekitar. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s