Jawa Barat-Banten, sebuah catatan perjalanan

Mei 2014, adalah bulan yang mungkin bagi para pekerja kantoran adalah bulan yang dirindukan untuk hadir di setiap bulannya. Karena pada bulan Mei tahun ini, tanggal merah selain Sabtu – Minggu banyak yang artinya waktu liburan juga bertambah dari biasanya. Tepatnya di akhir bulan, tanggal merah berselang seling dengan tanggal hitam sehingga kalau kita mengambil cuti 2-3 hari kita bisa libur satu minggu penuh.
Aku pun tidak mau melewatkan kesempatan ini, maka direncanakanlah sebuah perjalanan. Pesertanya hanya aku dan teman kantor, Mas Wawan. Rencana kami adalah mengunjungi situs Gunung Padang di Cianjur, lanjut ke Pelabuhan Ratu dan berakhir di Sawarna, Banten. Kesepakatan waktu yang kami ambil adalah 2-3 hari dari total seminggu libur, sehingga sisanya dapat digunakan untuk liburan bersama keluarga.

Tujuan 1, Situs Megalitikum, Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat

Tempat ketemuan kami di rest area Sentul. Aku naik taksi dari Depok dan sampai sekitar pukul 7 pagi. Mas Wawan sudah lebih dulu sampai. Segera kopi dipesan sambil diskusi singkat tentang rencana perjalanan. Dari rest area Sentu,l perjalanan kami lanjutkan menuju Cianjur via Puncak. Puncak tidak begitu macet kecuali menjelang masuk pintu tol. Hampir 2 jam perjalan yang diselingi obrolan ngalor ngidul, akhirnya sampai ke kota Cianjur. Beberapa hal yang terbayang adalah beras Cianjur dan sebuah tembang lawas dengan lirik…”semalam di Cianjur”,,.:)

Dari Kota Cianjur ke situs Gunung Padang masih butuh waktu 45 menitan. Papan penunjuk arah ke situs ini menurutku kurang begitu jelas dan jumlahnya sedikit. Jalan menuju situs mendaki, berbatu-batu dan sudah mulai di aspal di beberapa bagian walaupun belum begitu bagus. Mungkin program pengaspalan ini baru dimulai seiring dengan makin terkenalnya situs ini. Sejak aktif dilakukannya penelitian situs Gunung Padang oleh tim Arkeolog beberapa tahun belakangan. Penitian yang memberikan informasi adanya kemungkinan bahwa situs Megatilitikum Gunung Padang ini merupakan bagian budaya Piramid. Dan menjadi heboh karena selama ini budaya prasejarah Indonesia tidak mengenal budaya Piramid seperti di Mesir. Selama ini situs ini tidak lebih dari situs megalitikum berupa punden berundak-undak, menhir dan sebagainya. Apabila nanti ternyata hipotesa budaya pyramid ini bener tentunya akan menjadi hal yang sangat penting dalam sejarah Indonesia.

Sesampainya di Gunung Padang, kami menyempatkan diri untuk makan siang dulu di warung-warung yang banyak tersedia di kaki Gunung Padang. Murah meriah dan rasanya nikmat. Info tambahan di sekitar sini juga tersedia homestay bagi pengunjung yang ingin menginap. Untuk naik ke Gunung Padang, kita cuma dikenakan biaya sebesar 2rb rupiah. Karena ingin mendengar lebih banyak tentang situs kami menyewa jasa guide resmi yang disediakan oleh pengelola situs.

Trek yang dilalui cukup terjal, namun sudah disusun sedemikin rupa seperti tangga. Sebenarnya Gunung Padang ini disusun oleh columnar joint atau kekar tiang yang merupakan hasil intrusi gunung berapi tua. Disebut kekar tiang karena bentuknya yang seperti tiang, balok persegi lima. Ada 5 teras dari Gunung ini, yang mungkin tiap tingkatan teras punya arti tertentu. Misalnya teras pertama diperuntukkan untuk penyambutan orang-orang yang ingin melaksanakan ritual di Gunung Padang ini yang memang dulunya tempat ini merupakan tempat melaksankan upacara-upcara zaman Megalitikum. Ditambah lagi posisinya yang langsung menghadap Gunung Gede. Setelah hampir satu jam menikmati situs dan pemandangan sekitarnya, kami memutuskan untuk segera turun dan melanjutkan perjalanan. Hari sudah menunjukkan hampir pukul 4.

IMG_1461

tangga menuju Gunung Padang

IMG_1466

Gunung Padang

IMG_1470

Gunung Padang

Tujuan 2, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat

Malam tiba ketika sampai di Pelabuhan Ratu, sekitar jam 9. Jalur dari Sukabumi menuju Pelabuhan Ratu cukup padat dan macet, karena disepanjang jalaur ini banyak pabrik dan sore hari merupakan waktu para pekerja untuk pulang, belum lagi ditambah dengan kondisi jalan yang berlubang karena sering dilalui truk dan mobil besar. Tujuan pertama adalah mencari tempat makan, karena lapar sudah tak dapat ditahan. Setelah muter-muter akhirnya kami makan di sebuah restoran seafood di tepi laut. Walau makanan setelah dipesan cukup lama baru datang,,namun terbayar dengan rasanya yang lezaat, makan ikan di daerah pantai memang juara. Penginapan yang kami pilih cukup murah dengan fasilitas yang cukup baik. Malam hari di hotel hanya kami habiskan dengan ngobrol sambil ngopi. Keesokan paginya, sebelum sarapan kami sempatkan untuk jalan-jalan dan mengambil foto laut selatan Jawa dari bibir pantai Pelabuhan Ratu.

IMG_1510

Penginapan di Pelabuhan Ratu

 Tujuan 3, Tujuan Utama, Sawarna, Banten

Inilah tujuan Utama dari perjalanan kali ini. Sawarna, sebuah tempat yang beberapa tahun belakangan ini makin ramai dibicarakan dan dikunjungi orang. Karena tempatnya yang Indah,,bahkan ada sebagian orang yang menyebutnya salah satu hidden paradise di Indonesia. Dulu, aku berpikir Sawarna itu adalah nama untuk sebuah pantai. Ternyata Sawarna itu adalah nama untuk sebuah Desa,ya Desa Sawarna. Sebuah Desa di Propinsi Banten yang memiliki potensi wisata yang begitu besar. Satu Desa dengan banyak objek wisata yang Indah. Tempat-tempat yang kami kunjungi selama di Sawarna ini adalah :

1. Pantai Tanjung Layar
Ini adalah objek yang paling terkenal di Sawarna, bisa dibilang sudah menjadi ikon untuk Sawarna. Seperti Kuta untuk Bali atau Senggigi untuk Lombok. Disebut Tanjung layar mungkin karena ada singkapan batu yang menjulang di pinggir pantainya yang menyerupai bentuk layar perahu. Transportasi ke objek-objek wisata yang ada di Sawarna ini Cuma bisa dilewati dengan naik ojek motor, karena jalannya yang berbatu, curam dan belum ada aspal. Cukup minim fasilitas untuk daerah wisata yang sangat Indah ini. Dan kita pun harus menyebrangi jembatan yang biasanya harus bergantian apabila ada motor lain yang mau lewat juga. Bahkan kata mas ojeknya, kalo saat lebaran, kita bisa mengantri sampai 1 jam untuk mendapat giliran melewati jembatan. Cuaca cukup panas, sinar matahari siang memamntul dari air laut yang jernih.

IMG_1538

Ojek adalah transportasi andalan disini..

 

IMG_1556

PantaiTanjung Layar

2. Lagoon Pari
Puas di Tanjung Layar, perjalanan dilanjutkan ke Lagoon Pari. Masih dengan ojek, masih dengan melewati jalan berbatu naik turun, dan masih melewati jembatan gantung. Beda dengan Tanjung layar, Lagoon Pari tidak punya singkapan batuan yang menjulang, tapi airnya lebih tenang, lebih biru,lebih bersih dan pasirnya putih. Sangat tenang dan menyenagkan di tempat ini. Dan pemandangan siang ini bertambah Indah ketika barisan kerbau, berjalan beriringan menyusuri bibir pantai, lengkap dengan penggembalanya. Jujur, ini pertama kalinya aku melihat barisan kerbau di pantai. Dari kejauhan, terlihat tempat berikut yang akan di kunjungi, Karang Taraje, spot terbaik di Sawarna, menurutku.

IMG_1559

Jembatan gantung,,harus antri kalau ada yang datang dari arah berlawanan

IMG_1562

offroad,,siapa takut!!!

IMG_1563

baru pertama kali liat kerbau di pantai,,kok bisa barisnya rapi yak???

 

3. Karang Taraje
Kalau anda suka geologi, suka singkapan,suka endapan laut dalam, spot disini adalah tempatnya. Kita dapat 2 hal sekaligus, ilmu geologi dan keindahan alamnya. Karangnya yang memanjang gagah, dan ketika ombak datang akan membetuk deretan air terjun. Naiklah ke atas karangnya dan duduk santai sambil melihat lautan Hindia yang biru. Di Karang Tareje ini adalah waktu yang paling lama aku habiskan. karena sibuk memperhatikan batuannya, cuaca cukup panas, namun tetap senang di hati. Puas di Karang Tareje, kami melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya, Goa Lalay. Hari menjelang sore.

IMG_9634

barisan karang,,

IMG_1615

4. Goa Lalay
Goa Lalay artinya adalah kelelawar, binatang yang memang menjadi penunggu wajib goa. Dinamakan goa kelelawar karena ada stalaktit yang jika dilihat dan dimajinasikan, menyerupai bentuk kelelawar. Hal yang paling menarik disini bagiku adalah bukan saat ketika menyusuri goany, namun ketika menghabiskan waktu beberapa jam di posko penjagaan sebelum kita memasuki kawasan goa. Waktu sepertinya mengharuskan ku berdiam lama di posko penjagaannya, karena setelah menyusuri goa, hujan turun begitu derasnya. Akhirnya kami berteduh, berbincang dengan akang-akang yang mengelola tempat wisata ini. Di depan ku, hamparan sawah, dan pepohonan seperti menari riang menyambut hujan. Pemandangan yang sempurna. Perbincangan diawali dengan asal muasal Desa Sawarna, kapan desa ini mulai dilirik orang dan menjadi terkenal. Apa yang menyebabkan sampai sekarang, desa yang begini indah, yang menyimpan potensi wisata yang sangat besar masih sangat minim fasilitas dan infrastruktur. Dan sepertinya hanya bergantung pada inisiatif masyarakat setempat untuk memajukannya. Dimana peran pemerintah setempat, dinas pariwisata, pemda dan lain-lain. Dan perbincangan diakhiri dengan masalah batu cincin, batu mulia, seiring dengan hujan yang mulai mereda.

Inilah sedikit catatan tentang perjalanan Jawa-Barat-Banten. Niat hati ingin lebih lama menikmatinya namun kehidupan selanjutnya sudah menunggu.

Advertisements

About kalasenja

sedang mempersiapkan senja paling indah untuk pulang...
This entry was posted in liburan and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Jawa Barat-Banten, sebuah catatan perjalanan

  1. bersapedahan says:

    wah asyikkk …
    dalam satu trip dapat banyak tempat yang indah2 seperti ini
    dari cianjur, pelabuhan ratu dan sampai ke sawarna …perjalanan yang jauh …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s