Pembunuhan (Cerpen)

Aku berhasil membunuhnya. Tepat hari ini, disepertiga malam, saat bulan tinggal separuh. Angin dini hari berhembus dingin menusuk tulang, melewati deretan hutan bambu yang tak begitu luas dibelakang kamar. Pembunuhan ini sudah begitu lama aku rencanakan, berhari hari, berminggu, berbulan bahkan bertahun tahun. Niatku pun mengalami pasang surut, kadang dengan semangat menggebu namun kadang aku batalkan ketika suasana hingar bingar itu datang, mempupuskan niat. Tapi malam ini semua tercapai sudah,,aku sudah membunuhnya, tanpa keraguan dan pertanyaan.

Aku ceritakan sedikit, dia yang kubunuh ini adalah sosok gelap yang terang. Dia bisa menjadi baik seperti malaikat tapi seketika bisa berubah menjadi seperti iblis. Baginya kesedihan orang hanyalah hiburan semata, tak lebih dari seperti papan papan reklame yang ada di sepanjang jalanan kota ini. Tak ada itu baik dan buruk, halal dan haram. Semua hal diperbolehkan, prinsip hidupnya adalah kebebasan. Dia terkenal di delapan penjuru mata angin. Dia menguasai malam dengan segala kegaduhan dan kerlap kerlipnya. Dia yang mempunyai siang dengan segala hiruk pikuknya. Baginya tidak ada cerita cerita suci, semua itu tidak bisa membuat tenang, hanya pengantar saat duduk sambil menahan kantuk. Begitulah dia, menguasai hari dan isinya.

Aku mengenalnya pasa suatu malam, di sebuah jalanan yang sepi yang hanya diterangi beberapa lampu merkuri. Aku masih ingat tatapan pertamanya seperti menghina dan disambung dengan senyuman yang menyeringai. Tanpa basa basi dia mendekatiku, membisikkan beberapa kalimat yang membuat ku merinding. Dan setelah itu dia pun berlalu. Besoknya aku bertemu lagi dengannya dan masih dengan situasi yang sama, tatapan menghina dan senyuman yang menyeringai. Kali ini dia kembali membisikkan beberapa kata namun lebih panjang dari sebelumnya, aku masih merinding. Demikian seterusnya, setiap hari aku ketemu di jalanan sepi yang disinari beberapa lampu merkuri itu. Dihadirkan tatapan menghina dan senyum menyeringai. Kalimat yang dibisikkan nya pun makin lama makin panjang dan menakutkan. Namun hari demi hari aku makin terbiasa dengan bisikan kalimatnya, aku tidak merinding lagi malah aku merasa kalimatnya berubah menjadi kalimat yang indah. Tatapan matanya pun menjadi tatapan yang bersahabat dan senyum seringainya itu ah menjadi senyuman seperti yang sering aku lihat di televisi.

Sejak perkenalan itu semuanya berubah. Hari hariku tak lagi sama seperti biasanya. Aku menggilai malam. Tapi bukan malam yang tenang, melainkan malam yang ramai. Aku mencintai siang, bukan siang yang panas dan penuh peluh tapi siang yang remang. Aku mulai terbiasa dengan kesedihan orang orang. Aku malah menganggapnya itu seperti papan reklame yang kulihat dipinggir pinggir jalan kota ini, seperti halnya dia. Aku bahagia, semua orang orang disekitarku terlihat seperti kerdil atau seperti liliput yang tidak berdaya. Aku adalah kuasa. Aku bahagia. Perduli setan dengan orang-orang terdekatku, orang-orang terkasih. Duniaku adalah aku. Perjalanan ini berlangsung berbulan bulan dan bertahun tahun. Dari satu kalender ke kalender berikutnya. Dan sejak saat itu pula aku tidak pernah lagi ketemu dia. Sering aku menduga dia selalu mengikutiku dan bersembunyi diam diam sambil melihat keseharianku, tetap dengan senyum yang menyeringainya itu. Tapi sudahlah aku tak perduli, ada atau tidak nya dia aku dan duniaku adalah yang utama. Ada atau tidaknya dia aku sudah terkenal di delapan penjuru mata angin.

Kalian tahu, bosan dan takut adalah termasuk sifat sifat alamiah yang sering dimiliki manusia. Dan karena aku masih manusia akupun memilikinya. Ya, aku bosan dengan duniaku ini, dunia yang sebelumnya tak pernah terbayangkan akan aku miliki, hanya pernah aku baca dalam surat kabar kadaluarsa. Ketakutanku membuat aku ingin malam cepat berlalu, tak perlu menunggu sampai berjam jam untuk melihat matahari muncul dari ufuk timur. Ini harus diselesaikan, aku harus ketemu dengan dia, yang dulu sering membisikkan sesuatu ke telingaku. Dia harus bertanggung jawab untuk semua ini. Aku mulai mencari cari informasi dimana gerangan dia berada. Semua pojok kota kumuh ini aku datangi, jalanan, dibawah jembatan, pasar, terminal, lampu kelap kelip sampai gorong gorong aku telusuri. Namun dia tidak berhasil aku temukan, hilang tanpa jejak. Akhirnya setelah beberapa hari, aku temukan dia saat malam hari, dia sedang duduk dengan tenangnya dipinggiran sebuah danau kecil yang bau dan penuh eceng gondok. Dia tetap dengan tatapan mengejek dan seyuman menyeringai ketika melihat ku datang dengan penuh amarah. Tapi amarah yang sudah aku simpan berhasil di redamnya hanya dengan bisikan kalimat lagi, sama halnya seperti dulu. Esoknya kami berjanji untuk ketemu lagi, dan hari ini aku sudah benar benar berniat menghabisinya, namun yang terjadi malah sebaliknya begitu dia memberikan bisikan itu kami malah tertawa tawa bersama di pinggiran danau kecil yang bau, bulan separuh memantul di permukaan air yang gelap.

Akhirnya di malam ke sembilan saat aku datang lagi ke kolam itu dengan penuh emosi dia berkata sambil berlalu pergi, datanglah besok malam ke sebuah rumah di pinggiran kota ini yang di belakangnya ada hutan bambu yang tak begitu luas. Hari ini, malam ini, malam ke sepuluh sejak pertemuan kemaren dan aku sedang dalam perjalanan ke rumah yang dia sebutkan itu. Semua sudah aku siapkan, emosi yang meluap luap, dan tekad yang bulat untuk menghabisinya malam ini, membunuhnya. Aku sudah menyelipkan sebuah belati di pinggangku. Ini adalah keputusan yang akan aku ambil, aku sudah tidak dapat menahannya lagi, hari hari ku tak berbentuk. Aku sampai kerumah itu, pintunya tak terkunci aku masuk terus dan sampai ke sebuah kamar gelap hanya ada cahaya lampu petromak yang mulai meredup. Disitu aku lihat dia berdiri, bicaralah katanya, apa yang kau mau. Aku tak mau bicara lagi, aku khawatir akan bisikan itu, aku langung menerjangnya sambil berteriak aku sudah tak tahan, aku pukul berkali kali wajahnya, perutnya, aku tendang, aku hajar habis habisan tanpa ampun. Dia masih belum menyerah, dia masih dapat bertahan. Aku semakin kehabisan daya dan tenaga, aku ingat dengan belati yang kuselipkan di pinggangku, segera ku ambil dan kutusuk berkali ketubuhnya. Dia belum habis juga, aku ingat perkataan guru ku dulu tentang beberapa potong kalimat suci yang bisa membinasakan makhluk seperti dia ini. Dengan terbata dan susah payah aku lafalkan kalimat itu dan seketika dia menggelepar, bergulingan sambil berteriak dan akhirnya diam. Kepala ku pusing, semua seolah berputar aku merasa mengenali ruagan ini,kamar ini. Bukankah ini kamarku sendiri kamar gelap dengan lampu petromak, kamar yang dibelakangnya terdapat hutan bambu. Menderik derik saat angin malam lewat. Aku lihat di depan cermin yang ada didalam kamar, ada tubuh yang tergeletak kaku, itu tubuhku, itu akuu, aku telah membunuh diriku sendiri tepat di sepertiga malam saat bulan tinggal separuh, dan disampingnya ada sosok lain yang sama dengan wajahku tapi dalam bentuk putih dan bersinar.

(Depok, 11 September 2015, menjelang tengah malam)

 

 

Advertisements

About kalasenja

sedang mempersiapkan senja paling indah untuk pulang...
This entry was posted in cerpen. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s