Dimensi (Cerpen)

729334-bigthumbnailDia adalah temanku, bukan yang terdekat, dan memang aku tidak punya teman dekat yang oleh orang orang sering disebut dengan istilah sahabat. Bagiku semua teman sama saja, tidak ada yang spesial. Mungkin aku termasuk orang yang tidak terlalu mementingkan hubungan kekerabatan antar teman. Mereka tidak lebih dari sekedar teman ngobrol, teman cerita, teman jalan, teman bisnis dan teman membicarakan orang lain, satu hal yang paling aku benci sebenarnya. Teman terdekatku adalah diri sendiri dan bayanganku, merekalah yang paling mengerti akan diriku, mauku dan pikiranku. Kembali ke dirinya, dia adalah teman kantorku, namanya Andi Satia Pramana Putra, sebuah nama yang bagus dan panjang. Orang-orang sering memanggilnya Andi, tapi aku lebih senang memanggilnya Pram, Andi bagiku nama yang terlalu umum. Umurnya masih sepantaran denganku.

Ada yang berubah dengan Pram akhir akhir ini. Dia selalu datang ke kantor dengan wajah cerah, penuh semangat dan riang. Padahal dulunya ketika pertama kali dia bergabung dengan kantor ini wajahnya selalu murung, suram persis malam yang dingin dan gulita. Aku ingat awal dia masuk, tak ada orang yang akrab dengannya atau sekedar mencoba untuk bersosialisasi, dan dia pun sepertinya tidak perduli, asik dengan dunianya sendiri, dengan wajah suramnya itu. Cuma aku, itupun karena meja kami bersebelahan yang mencoba menyapa nya untuk pertama kali. Bukan apa-apa, karena aku tak tahan saja melihat ada orang di sebelahku tapi tak ada tegur sapa yang terjadi, dia kan bukan patung atau pajangan atau benda mati, akupun demikian. Akhirnya diawali percakapan basa basi, seperti nama, tempat tinggal, status dan tetek bengek lainnya kamipun lama kelamaan bisa cukup akrab. Kami sering menghabis kan waktu istirahat bersama, makan siang atau sekedar menghabiskan beberapa batang rokok dibawah pohon rindang di belakang kantor. Pram menurutku memang termasuk orang pendiam, tetapi cukup enak diajak ngobrol walaupun lebih sering dia mengeluarkan kata serta kalimat yang seperlunya, tidak seperti aku yang kadang menambah bumbu dalam cerita ku sehingga kedengarannya lebih menarik.

Akhirnya pada suatu hari, aku tak tahan dan memberanikan diri untuk bertanya pada Pram, kenapa selama ini mukanya itu muka yang penuh duka , suram seperti malam yang dingin dan gulita. Ketika aku tanyakan itu, dia terdiam cukup lama, hanya menghisap dalam-dalam rokoknya seolah ingin menelan habis habis beban pada dirinya. Akhirnya dia bercerita. Kawanku,..Pram berkata, kau tahu, aku membeci pagi, aku sangat mengutuk terang. Pagi itu awal dari terang benderang yang terik. Pagi itu orang hilir mudik, dan sering berganti kulit. Orang orang itu sering mengenakan topeng untuk hari hari mereka, dan itu mereka awali di pagi hari. Dan aku semakin benci pagi, ketika bapakku pergi meninggalkan aku, adikku dan ibuku. Tanpa sepatah katapun, hanya memperlihatkan punggungnya tanpa menghiraukan panggilan ibu dan tangisan adik perempuanku. Pergi tanpa pernah kembali, meninggalkan dunia yang begini resah kepada kami. Dunia yang serba tidak pasti. Dan pagi semakin menjadi musuh ketika ibu pun pergi meninggalkan kami, tapi tidak seperti bapak, ibu meninggalkan dunia yang damai. Ibu ada di surga sekarang.

Pagi ku sebenarnya mulai membaik ketika cahaya ibu selalu memberikan seyum dan semangat bagiku dan adikku. Ibu lah yang selalu mengisi pagi kami dengan seduhan teh hangatnya yang sangat nikmat itu. Mengisi dengan berbagi macam aktivitas dapurnya dan menghidangkannya dengan penuh cinta. Pagi bagi ibu adalah awal segalanya, padahal sering aku temukan ibu menangis sesenggukan di malam hari, dalam doanya, entah menangis untuk apa. Mungkin untuk kami, mungkin untuk dirinya sendiri atau mungkin untuk bapak yang entah kemana rimbanya. Tapi paginya, aku akan menemukan ibu yang tersenyum, seolah-olah malam tak ada kejadian apa apa. Namun semua hal indah itu musnah ketika pada suatu pagi ibu kami temukan tidur begitu tenangnya di kamar tanpa bangun lagi. Langit mengabarkan takdir. Kenapa harus pagi, pagi yang seharusnya suka berubah duka. Aku makin mengutuk pagi, hingga hari ini, cerita Pram.

Namun akhir akhir ini seperti yang aku ceritakan diatas, wajah Pram selalu cerah, dan dia lebih sering tersenyum. Dia mulai membuka diri dan berani menyapa orang-orang kantor. Pelan pelan dia mulai bisa akrab dengan yang lain, bukan hanya sama diriku seperti selama ini. Dan aku bertanya kepada Pram pada suatu siang, saat kami menghabiskan beberapa batang rokok dibawah pohon rindang selepas makan siang. Pram,,apa yang terjadi dengan mu, kenapa wajahmu akhir akhir ini menjadi cerah tak muram seperti biasanya, tanya ku.

Dengan mata berbinar, Pram berkata, taukah kau kawanku, aku beberapa hari yang lalu menemukan pagi dalam perjalananku. Pagi yang paling indah yang pernah aku lihat. Pagi yang cerah dan hangat, cahaya matahari masuk ke sela sela daun dan pepohonan. Menguapkan sisa sisa embun tadi malam. Dan ada sebuah jalur sungai yang berkelok kelok membelah pohonan kecil dan rerumputan di kiri kanannya. Dan diatas nya cahaya matahari itu menjadi gumpalan cahaya keperakan yang menari pelan. Dan percayakah kau, di pagi yang aku lihat dan alami itu, tidak tampak sisa sisa malam, padahal malam sebelumnya sangat gelap, dingin dan lama. Angin bertipup pelan, tidak kencang tapi sejuk. Bagiku pagi itu adalah pagi yang penuh senyum tapi selalu kuat menyangga sisa sisa malam seperti yang aku ceritakan tadi. Awan pun hanya tampak satu dua, seolah ingin membiarkan cahaya matahari masuk seluruhnya ke bumi, dan kau tahu, itu membuat langit tampak biru, sebiru-birunya, cerah tanpa cacat. Pagi yang begitu anggun. Pagi itu singkat tapi dia adalah awal detak kehidupan, dan aku mengerti akan ini setelah aku bertemu dengan pagi itu, kau tahu bahwa sebelumnya aku sangat membenci pagi hari, namun kali ini aku menyerah, aku menyukai pagi. Aku menemukan kasih pada pagi ini, cinta apa lagi, suatu hal yang dulu pernah aku punya namun bertahun tahun hilang, sejak deretan peristiwa peristiwa itu. Aku ingin bisa selalu menikmati pagi itu, tapi aku tak bisa karena siang segera datang dan aku harus meneruskan hari hari ku. Tapi tak mengapa, karena besoknya aku masih tetap bisa bertemu dengannya, dan menyaksikan lukisan pagi yang indah itu.

Aku tahu dimana aku dapat menemukannya, kau tahu kawanku, dia ada di utara dari kota ini….

(Taufiq, Depok, September 2015)

Advertisements

About kalasenja

sedang mempersiapkan senja paling indah untuk pulang...
This entry was posted in cerpen. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s