Dimensi Bagian 2 (Cerpen)

malamPram berangkat dari kota tempat dia tinggal pas saat Azan magrib selesai berkumandang. Dia menggunakan bis malam yang hari itu sangat padat oleh penumpang . Tujuannya hanya satu, ke Utara, ke kota yang selama ini dia tuju, karena disana dia akan bisa menikmati pagi indahnya untuk waktu yang cukup lama, seperti ceritanya padaku beberapa hari yang lalu di kantor saat selepas makan siang. Sengaja ia mengambil cuti kantor untuk perjalanannya ini. Padahal atasannya agak keberatan menyetujui permintaan cuti Pram. Namun dengan janji semua pekerjaan yang deadline akan diselesaikan sebelum pergi, atasan Pram akhirnya setuju. Ketika ditanya mau kemana, Pram hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Pram duduk di dekat jendela yang terbuka tak bisa ditutup seutuhnya, membuat angin malam yang dingin masuk memenuhi ruang hatinya. Beruntung dia mengenakan jaket jeans yang kumuhnya itu. Sehingga dingin sedikit berkurang.

 
Berkali kali dia mencoba tidur tapi tidak bisa, matanya memang tertutup tapi bukan lelap. Otaknya bekerja tak henti membayangkan sesuatu yang akan dia temukan esok hari. Sebuah pagi yang indah yang belum pernah ia temukan lagi sejak deretan peristiwa yang membuat pagi baginya tak ada bagus-bagusnya. Tangis bayi memecah keheningan di dalam bus. Pram akhirnya bisa tidur, ketika sepertiga malam berlalu. Dia bermimpi, mimpi yang membawanya kembali ke masa kecilnya. Masa yang menurut banyak orang adalah mas paling Indah, karena kerja mu hanya makan, tidur dan bermain, Ya bermain, sebuah saat yang sangat dinantikan oleh Pram setiap hari. Selepas sekolah dia dan teman temannya akan bisa melakukan apa saja. Mulai dari menelusuri hutan di kampung mereka, menangkap ikan di sungai atau berburu burung dengan menggunakan ketapel yang mereka buat sendiri dari potongan kayu. Berlarian di padang rumput luas, atau sekedar duduk bergerombol di pinggiran sawah sambil melihat burung burung yang beranjak pulang saat senja datang. Semua itu adalah masa masa Indah bagi Pram, masa yang tak akan pernah tergantikan dan datang kembali. Langit selalu biru masa itu.

 
Pram, terbangun. Sudah cukup lama ia tertidur. Kucekan pada matanya yang pertama membuat ia bisa melihat samar samar tulisan di gerbang depan. Selamat Datang di Kota Utara. Kabut tipis dan dingin menemani pandangannya. Hati nya berdegup dan perasaannya senang karena akhirnya di sudah sampai di kota tujuannya. Tidurnya tadi terasa sangat lama, dan melelahkan. Bus berjalan perlahan menuju pusat kota. Pram seketika panik dan menggigil ketika memperhatikan arloji usang miliknya. Pukul menunjukkan hampir jam 7. Harusnya ini sudah pagi, tapi di luar masih gelap gulita. Malam masih ada. Lengkap dengan wujud pekatnya. Dingin masih menusuk tulang. Seketika orang-orang di dalam bus saling bertanya-tanya, kemana pagi. Dimana ini sekarang. Dari arah depan bus, tampak orang berlarian panik dan ketakutan dalam gelapnya malam. Semua berteriak,,paginya hilang !!! pagi hilang !!! tak ada pagi lagi disini !!! Kota ini mati !!! Matahari entah kemana, di sini akan malam sepanjang hari. Pagi pergi entah kemana. Pram tertegun, tatapannya kosong namun bergerak-gerak mencari tahu, dia kehilangan pagi yang dicarinya. Ini tidak seperti yang dia rencanakan. Orang –orang semakin panik, semakin berteriak. Pram melihat langit, cuma gelap dan pekat yang dia temui. Awan hitam berkumpul.

Pram semakin cemas bercampur marah, pagi nya hilang ??

(Taufiq, Depok, 19 Oktober 2015)

Advertisements

About kalasenja

sedang mempersiapkan senja paling indah untuk pulang...
This entry was posted in cerpen. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s