Dimensi Bagian 3 (Cerpen-Selesai)

729334-bigthumbnailDitengah kebingungan yang melanda, Pram tiada hentinya memeriksa berkali-kali fasilitas penunjuk arah di hanphone canggihnya, yang baru beberapa minggu dia beli dengan hasil tabungan gajinya. Dan berkali-kali itu pula dia menahan geram, karena sesuai petunjuk, benar adanya, kota ini adalah yang dia tuju, kota di bagian Utara.  Pram melihat ke Timur, gelap yang ia temui. Pagi belum lagi kelihatan. Pram menahan amarah, dia teringat akan cerita Rahwana. Saat itu Rahwana konon menelan matahari bulat- bulat sehingga seisi bumi mejadi gulita. Apakah saat ini Rahwana juga sedang menelan matahari, apakah ia perlu mencari talu dan memukulnya seperti yang orang-orang lakukan dicerita itu. Ah tapi itu hanya cerita dongeng, pikir Pram. Sementara Orang-orang masih berlarian, kebingungan dan cemas karena malam terlalu lama.

Pram berjalan kelelahan, sampai di sebuah perbatasan piggiran kota. Pram menemukan hutan di dekat perbatasan kota itu, seperti menjadi pertanda ini adalah batas kota. Samar-samar Pram melihat ada sosok kakek tua berjanggut dan berambut putih yang sedang asik berbaring di hamparan semak-semak hutan. Pram mendekat, dan memastikan yang sedang dia lihat itu benar manusia adanya. Dan setelah dekat, benar adanya, itu manusia. Kek,,kek!!! kata Pram, ingin membangunkan kakek yang sedang terlelap itu. Dengan malas-malasan dan setengah sadar, Kakek itu membuka matanya. Ada apa anak muda, kenapa kau membangunkan tidur nyenyak ku. Kek, kata Pram, benarkah ini kota Utara, saya datang dari Selatan dan ingin ke Utara untuk menemukan pagi indah yang selama ini saya cari-cari. Khu…khu..khuu!!!, si kakek tua malah tertawa aneh dan terkesan senang akan kebingungan Pram. Anak muda, kata kakek itu setelah tawanya reda. Aku tidak perduli kau datang darimana dan untuk apa. Aku sudah teramat sering menjumpai orang-orang sepertimu dan selalu dengan pertanyaan yang sama. Tapi sudahlah, aku akan berikan jawaban dan petunjuk karena aku senang dengan orang-orang sepertimu yang selalu ingin menemukan jawaban akan sebuah pertanyaan dan kegelisahan yang ada di diri. Kota Utara memang sudah dekat, tapi bukan di sini. Ini barulah awalnya. Kau lihat kalau kota yang kau datangi tadi berbatasan dengan hutan ini, kota yang tadi itu bukanlah kota yang kau inginkan. Lewati hutan ini, berjalan terus lurus mengikuti jalan setapak yang sempit itu. Ingat, berjalanlah lurus, jangan belok, jangan hiraukan persimpangan yang ada, lurus terus ke Utara. Bergegaslah, mumpung masih ada cahaya bulan sedikit yang bisa menuntunmu dalam pekatnya hutan. Pram sudah tidak punya banyak waktu untuk berfikir lagi. Cuma ada 2 pilihan baginya, kembali ke kota tadi, yang masih diliputi malam atau mengikuti arahan sang kakek. Akhirnya Pram membulatkan tekad mengikuti pilihan yang kedua.

Pram berjalan lurus, terus ke Utara melewati jalan setapak yang sempit yang seolah membelah hutan itu. Awalnya dia berjalan pelan, namun begitu matanya sudah mulai terbiasa akan remang, langkah kakinya semakin cepat. Hanya ada suara binatang malam sepanjang langkah kaki Pram. Pram hampir sampai diujung hutan, dari kejauhan dia mulai dapat melihat ada cahaya terang. Pram makin mempercepat langkahnya, nafasnya memburu. Akhirnya sampailah dia diujung hutan itu. Mata nya terpana, tak bisa berkata apa-apa. Dia menemukannya, sebuah pagi yang dari dulu dia impikan, dan pernah ia temukan pada perjalanannya yang pertama. Pandangannya menyebar ke seluruh ruang. Ufuk timur yang cerah. Pagi yang sempurna. Langit hanya berwarna biru cerah dengan beberapa ornamen awan putih, menambah keanggunan. Cahaya matahari menembus sela-sela pepohonan, sebagian cahaya itu bertemu dengan permukaan sungai dan memberikan kilau keperakan yang menari-nari. Angin bertiup pelan dan sejuk membantu sisa sisa embun semalam untuk kembali ke angkasa. Bunga warna warni bermekaran bersatu dengan hijaunya rumput dan pepohonan. Ini pagi yang diimpikan Pram, pagi yang membuatnya bisa melupakan peristiwa peristiwa sebelumnya yang menyakitkan, sehingga beberapa waktu dulu dia sempat membenci pagi dengan segala bentuk dan isinya. Pagi indah yang kuat menyangga sisa sisa malam. Pagi yang ramah dan selalu memberi senyum pada rumput dan pepohonan.

Pram duduk diatas rerumputan, menikmati semua pemandangan pagi itu dengan begitu puas, dengan begitu senang. Hatinya lapang begitu juga dnegan jiwanya. Dan berdoa agar pagi diberikan jatah waktu yang lebih lama dibanding siang atau malam. Sehingga dia pun bisa menikmatinya lebih lama. Pram teringat akan kakek tua tadi, siapa gerangan dia, kenapa dia bisa tahu rahasia pagi di kota ini, kenapa ada pagi setelah hutan di pinggiran kota itu. Berbagai pertanyaan muncul di kepala Pram, namun bisa dia tangguhkan untuk sementara, karena dia masih ingin menikmati keindahan lukisan pagi yang saat ini terhampar di depan matanya, seorang diri.

(Taufiq, 30 November 2015)

Advertisements

About kalasenja

sedang mempersiapkan senja paling indah untuk pulang...
This entry was posted in cerpen. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s