Senja Ke-19

downloadPram sedang ada di jalanan berbukit, di sebuah daerah yang merupakan bagian dari kota tua bernama Barakuda. Saat itu sore hari menjelang senja. Jalan itu dihiasi rerumputan hijau musim penghujan dan pohon-pohon rimbun dengan daun-daun yang bergerak pelan ditiup angin.  Senja bagi Pram selalu mempesona, bagi Pram senja itu spesial karena teori yang dipercayainya senja adalah waktu penanda untuk pulang. Teori pertama. Senja adalah waktu yang menjadi batas antara terang dan gelap, teori kedua. Senja adalah waktu singkat yang agung dan megah dengan warna keemasannya yang berpadu dengan himpunan awan, tapi banyak orang yang mengacuhkannya, teori  Pram yang lain. Pram sering kali menghabiskan senja di tiap kesempatan yang dia punya, sekedar duduk-duduk sambil melihat ke ufuk Barat atau mengendarai motor tuanya sampai panggilan suci itu menggema, masuk ke rumah rumah, menembus jendela. Seperti saat ini, Pram duduk di pinggiran jalan menikmati senja dari ketinggian yang membuatnya bisa menyapu cakrawala barat, dan melihat kota di kejauhan yang mulai menyalakan lampu-lampu, menyambut malam. Ingatan Pram membawanya ke senja beberapa waktu yang lalu ketika ia menghabiskan waktu bersama sepasang masa teduh, kepunyaan Laras. Perempuan manis yang dia jumpai saat berjalan pertama kali di daerah perbukitan itu.

Laras, sudah berapa kali kita menikmati senja ini. Apakah kau pernah menghitungnya..? Tanya Pram. Laras hanya diam dan baru menjawab ketika ada suara anak anak yang bersepeda riang menghampiri mereka. Aku tidak ingat, dan aku rasa itu bukan hal penting yang harus dihitung. Senja itu cukup dinikmati saja, seperti semua teori-teori mu tentang senja yang sering kau ucapkan padaku. Kenapa kau menanyakan itu.  Entahlah, aku sedikit cemas ujar Pram. Aku cemas,, waktu sepertinya makin tak banyak yang aku dan kau miliki untuk menikmati senja yang kita puja ini. Jam untuk hari dari pagi sampai sore itu memang sama, tapi aku merasa senja ini makin singkat, makin pendek, walau indah nya tetap sama. Dan ketika kita melewati  deretan pepohonan sepanjang jalan ini mereka tampak tersenyum mengejek, ingin mengatakan bahwa waktu ku semakin sempit. Laras bingung dan mengerutkan dahi, walau itu tidak mengubah keindahan sepasang mata teduhnya, bagian yang paling disukai Pram pada Laras. Kenapa Pram??, tanya Laras. Bukankah senja ini masih sama dengan senja-senja sebelumnya yang kita lihat, dia datang dengan warna keemasannya, yang tidak akan kita temukan langit begitu indahnya di waktu yang lain. Kalau singkat, memang itulah takdir dari sebuah senja, indah dan singkat. Dan karena itulah dia mempesona. Aku tau Laras, aku mengerti semua itu. Jangan ajarkan tentang senja padaku.

Penghujung 2016, kondisi perekonomian dalam negri terpuruk, mengikuti kondisi dunia, kondisi global. Berimbas ke berbagai sektor usaha, termasuk pertambangan dimana Pram bertahun-tahun sudah mengabdi sebagai buruh paruh waktu disana. Mutasi masih bagus, pemecatan sudah terjadi dimana-mana.

Laras hanya diam, ketika Pram berkata mungkin aku akan dipaksa pergi dari kota tua ini, dia seperti tidak akan membutuhkan ku lagi. Laras semakin terdiam, sepasang mata teduhnya menghantam tembok tembok rumah yang ada di antara deretan pepohonan rimbun itu. Aku tau,,aku mengerti ujar Laras, sambil menggenggam erat tangan Pram, semakin erat. Mengajak Pram menyaksikan senja yang jatuh di kota ini, menyapu cakrawala yang masih berwarna keemasan. Kumpulan burung burung membentuk formasi pulang.  Kota di ujung bawah sana mulai terang benderang seperti kunang kunang. Malam akan segera datang.

(25 Desember 2015)

Advertisements

About kalasenja

sedang mempersiapkan senja paling indah untuk pulang...
This entry was posted in cerpen. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s