Kucing-kucing stasiun

Ayo teman-teman, hari sudah pagi, mari kita segera berkumpul di sini. Sebentar lagi seperti biasa para golongan manusia Jakarta akan segera berlalu lalang, bergegas mengejar hari mereka. Demikian kata Melo, seekor kucing jantan yang menjadi pimpinan para kucing di sebuah stasiun kereta bernama Dukuh Atas. Melo, kucing jantan berwarna abu-abu berwajah wibawa di pilih menjadi pemimpin kaum kucing stasiun ini beberapa waktu lalu, diantara kucing-kucing berbulu hitam yang dominan.

Setiap hari, pagi harinya mereka para kucing akan duduk di tangga sebelah stasiun kereta. Melihat orang-orang berjalan cepat dan terkadang berlari mengejar angkutan umum yang akan mengantarkan mereka ke tempat kerja mereka. Wajah-wajah yang dipenuhi kantuk yang masih menyisa dimata, karena harus berangkat pagi buta dari rumah, bertarung dengan macet dan ramainya kota Jakarta. Namun tak jarang pula Melo dan kawanannya menjumpai wajah-wajah yang tetap segar dan penuh senyum ditengah semrawutnya hari-hari di Jakarta. Dan aktivitas memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang mengejar hari ini sudah menjadi rutinitas dan hiburan bagi para kucing disini. “Me Time” mereka sambil duduk manis menikmati hari di saat orang-orang seperti ketakutan dengan waktu mereka sendiri.

Tami, kucing betina manis berbulu hitam berbalur sedikit warna putih pernah bertanya pada Melo, “kenapa orang-orang di Jakarta yang lewat stasiun ini begitu tergesa-tergesa tiap paginya ?” kenapa mereka tidak bisa berjalan perlahan sambil menikmati pagi. Melo yang punya wawasan lebih luas, menjawab “itu karena mereka ingin segera sampai ke tempat kerja mereka”. Mereka tidak ingin terlambat, kalau jalanan Jakarta tidak macet mungkin mereka akan bisa lebih santai sedikit tapi seperti yang engkau tahu, jalanan Jakarta pagi hari adalah neraka, macet, padat dan sesak. Semua orang ingin segera sampai, dan parahnya lagi jumlah mobil di kota ini pun sudah terlalu banyak sedangkan angkutan umum belum lagi siap, ujar Melo sambil sebentar melirik seorang perempuan dengan headset di kuping dan masker di wajah, tipikal orang-orang pejalan kaki Jakarta, dengusnya.

Tami, bertanya lagi, “ apakah mereka tidak bosan seperti itu tiap hari?” apakah mereka suka seperti itu Melo ?”. Yaaaah jawab Melo, aku berani bertaruh jika kita tanya orang-orang Jakarta yang selalu sibuk tiap paginya itu pasti kebanyakan dari mereka menjawab tidak suka akan kondisi mereka seperti itu. Mereka pasti akan berandai-andai jika punya tempat kerja yang dekat dengan rumah yang bisa ditempuh dalam hitungan menit, dan sebelum kerja mereka masih sempat menonton berita kosong di TV sambil minum kopi atau sambil membaca koran yang beritanya disesuaikan dengan keinginan yang punya media. Atau mereka akan berandai-andai masih sempat mengantarkan anak mereka sekolah baru kemudian berangkat kerja, tidak seperti yang mereka alami tiap hari, jangankan melihat anak mereka ke sekolah, mereka sudah harus keluar rumah saat masih subuh, saat anak-anak mereka masih terlelap tidur dengan mimpi indahnya. Tapi seperti yang kau tau Tami, kadang  dalam hidup itu pilihan tidak banyak. Seperti aku, kalau boleh memilih aku akan memilih jadi burung dari pada kucing, aku bisa terbang bebas kemana aku mau, tidak sering diusir seperti sekarang ini kalau aku main ke warung makan bu Prapti.

Aku katakan padamu Tami, untuk mengejar pilihan yang ideal yang seperti mereka inginkan itu akan susah dan kalau bisa pun mungkin akan membutuhkan waktu yang lama. Sedangkan mereka butuh makan seperti halnya kita, para kucing. Mereka juga butuh uang untuk membiayai sekolah anak-anak mereka dan kebutuhan rumah tangga. Akhirnya dengan pilihan yang sedikit itu apapun akan mereka korbankan walau harus berkejaran dengan hari. Melo menjelaskan panjang lebar sambil menyantap nasi dengan lauk ikan yang diberikan oleh seorang dermawan yang selalu memberi makan rombongan para kucing ini di seputaran stasiun setiap paginya.

“Tapi sampai kapan mereka akan seperti itu ?”, Tami terus bertanya. Ini sudah pertanyaan mu yang ke tiga !!! kata Melo,,kenapa sih kamu tidak diam dan menikmati pagi ini saja. Atau kamu ingin menjadi manusia,,menjadi seperti mereka?. Tapi baiklah aku akan jawab. Sampai kapan mereka seperti itu? Aku juga tidak tau dan tidak perlu tau, mungkin sampai mereka pensiun atau sampai mereka menemukan pilhan hidup yang lebih baik yang lebih manusiawi dan lebih menyenangkan. Tapi yakinlah Tami, mereka itu adalah orang-orang yang tangguh dalam menjalani hidup, aku yakin di setiap langkah kaki mereka yang tergesa-gesa itu terselip doa-doa kepada yang Maha untuk mencukupkan rezeki keluarga mereka, untuk memberikan mereka keselamatan dan pengharapan-pengharapan lainnya. Aku juga yakin hari-hari mereka juga masih banyak diisi senyum, saat mereka pulang ke rumah, saat mereka bertemu dengan keluarga atau saat mereka menghabiskan akhir minggu dengan anak-anak mereka. Kita tidak pernah tahu Tami. Dan perlu kau pahami, hidup ini, sekeras apapun harus disyukuri Tami, yakinlah pasti ada berkah disitu bagi mereka yang mau berfikir. Jika kau bersyukur rezeki mu akan ditambah. Kita hanya perlu berdoa, berikhtiar dan hasilnya nanti akan ditentukan sama yang Maha. Semoga orang-orang yang selalu lalu lalang mengejar hari yang kita lihat setiap pagi itu mengerti akan hal ini, ujar Melo sambil menuruni anak tangga meninggalkan Tami. yang masih menikmati sisa paginya di tengah bisingnya klakson dan derap langkah yang tergesa-gesa. Matahari semakin tinggi.

Advertisements

About kalasenja

sedang mempersiapkan senja paling indah untuk pulang...
This entry was posted in aku dan sekitar, cerpen. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s