Rute

Aku sering nemplok seperti cicak. Ya,,itulah yang sering aku alami ketika hariku selesai dipukul 5 sore. Kereta listrik yang akan membawa ku kembali ke tempat peraduan akan berjalan dengan eloknya. Dan di dalam nya, ratusan orang juga akan sama seperti ku, menutup hari dengan berdesakan di dalam kereta. Seperti sore ini dan seperti kemaren, aku terdesak hingga ke pintu kereta oleh puluhan orang di belakangku yang akan terus bertambah di tiap pemberhentian stasiun. Mungkin kalau difoto dari depan muncullah poseku yang unik dengan badan mepet pintu dan tangan keatas seperti penjahat yang ditangkap polisi dengan napas tersengal bercampur dengan deru nafas lainnya.

Sudirman-Manggarai

Sekelompok anak-anak remaja bermain bola di sebuah lapangan diantara rumah-rumah yang berjejal sempit. Semua riang, semua tertawa diantara gocekan maut dan tendangan keras bola plastik. Sore yang sangat indah punya mereka. Sial,,,aku rasanya ingin ikut main dan mencetak gol.

Manggarai-Tebet

Seorang ibu-ibu mengendong anak kecilnya sambil menunjuk ke arah kereta yang berjalan agak pelan. Mereka berdua tersenyum, entah apa yang disenyumkan, mungkin tumpukan tumpukan orang di depan pintu kereta ini yang seperti cicak yang mereka tertawakan. Atau mungkin si ibu berkata, lihat nak,,”orang-orangan kota” pulang kerja.

Tebet-Cawang

Dua perempuan modis berjalan menyusuri jalan sambil tertawa cekikikan.

Cawang-Kalibata

Apartemen Kalibata berjejer, entah ada kejadian apa saja di dalam sana. Dagangan kaki lima menjadi pagar apartmen ini, memanjakan penghuni dan orang disekitarnya untuk berwisata kuliner. Tinggal di apartemen tapi makan di pinggir jalan bukanlah dosa.

Kalibata-Pasar Minggu

Motor-motor menunggu giliran terbang dibelakang lintasan pintu kereta.

Pasar Minggu- Tanjung Barat

Dulu punya keinginan memiliki rumah di salah satu komplek elit di Tanjung Barat, tapi apa daya, tangan tak sampai. Tak banyak yang turun disini, hanya satu dua.

Tanjung Barat-Lenteng Agung

Ah,,rute penuh kenangan, rute ini adalah rute wajib saat masih mengendarai motor dulu. Tak jarang macetnya akan membuatmu mengutuk hari. Dan kalau sudah menyerah, biasanya warung kopi jadi tempat rehat sejenak sekedar membiarkan senja berlalu.

Lenteng Agung-Univ Pancasila

Beberapa anak kuliahan masuk ke gerbong. Sibuk bercerita tentang tugas-tugas dan kuliah mereka. Selalu seru mendengar kehidupan kampus, waktu dalam genggaman sepenuhnya.

Univ Pancasila-UI

Deretan rimbun pepohonan mulai tersaji. Beberapa motor sudah parkir di stasiun menunggu yang akan dijemput. Kadang bersyukur ada kampus UI di sini, mungkin kalau tidak ada, daerah luas dan hijau ini akan menjadi daerah perumahan, apartemen, pusat perbelanjaan dan komersialisme lainnya. Bukankah selalu seperti itu.

UI-Pondok Cina

Orang-orang bertambah banyak yang turun. Gerbong terasa sedikit lega walau berdesakan itu masih pasti. Ada bekas reruntuhan kios-kios lama yang tersisa dan diubah menjadi lahan parkir untuk mobil.

Pondok Cina-Depok Baru

Akhirnya oksigen normal bisa kuhirup. Orang-orang sepertti air bah berdesakan turun, menunjukkan jika kereta memang dipenuhi oleh orang-orang yang tinggal di seputaran Depok Baru. Anak kecil berteriak lantang, menawarkan tissu seharga 2 ribuan. Awan semakin gelap, hujan sebentar lagi turun.

 

 

 

Advertisements

About kalasenja

sedang mempersiapkan senja paling indah untuk pulang...
This entry was posted in aku dan sekitar. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s