Escape to Papandayan

Ini adalah cerita lama yang belum sempat ditulis.

Pernah merasa jenuh dengan rutinitas kantor ? begitulah yang sedang dialami oleh 6 orang pegawai kantoran sebuah perusahaan asing di bilangan Jakarta Selatan, sekitar akhir 2015.

Akhirnya kami ber-enam memutuskan untuk pergi berlibur bersama dengan syarat no wife dan no children. Kemana kita akan pergi ??,,,setelah berunding dan mencari alternatif tempat liburan yang asik kami memutuskan untuk pergi mendaki gunung Papandayan, Garut. Berikut kisahnya….

Sebelum keberangkatan

Kami disibukkan dengan persiapan melengkapi perlatan mendaki gunung, maklum sudah sangat lama tidak mendaki, terkahir kali waktu jaman kuliah. Untungnya di Depok aku tidak begitu susah menemukannya karena banyak sekali toko outdoor di Depok dan memang seperti itulah polanya , dimana banyak kampus dan mahasiswa pasti banyak toko outdoor, disamping bisnis foto kopi pastinya :).

Carrier dan perlengkapan mendaki

Selain peralatan mendaki, satu hari sebelum berangkat kami juga mesti belanja logistik dan keperluan lainnya selama perjalanan dan untung nya, di sebelah kantor ada supermarket, jadi tidak perlu repot-repot lagi mencari tempat belanja. Hasil belanjaan ini akan di taruh di kantor untuk dibawa besok. Start perjalanan adalah dari kantor, hari Jumat selepas jam kerja, ehem..

berburu logistik sebelum mendaki

Perjalanan Menuju Garut

6 orang dengan barang bawaan yang seabrek dalam satu mobil Fortuner. Desak-desakan pastinya dan garansi anda tidak akan bisa tertidur walau mata sudah mulai lelah. Keseruan perjalanan ditambah dengan obrolan-obrolan ringan yang bisa membuat tertawa dan mengusir kantuk. Hari semakin gelap, magrib telah lewat, kami belum sampai Garut. Makan malam kami habiskan di sebuah warung makan menuju Garut, apa ya namanya, tapi cukup enak lah untuk perut-perut yang lapar.

Makan malam sebelum sampai Garut

Landing on Garut

Kami sampai di Garut sudah cukup larut. Memang seperti rencana awal, sebelum naik Papandayan sehari sebelumnya kami ingin santai-santai dulu di Garut, ya namanya naik gunung hura-hura jadi tidak seperti jaman kuliah dulu yang nestapa :). Untuk itu malam ini kami akan menginap di resort Sumber Alam Garut yang sudah dipesan sebelumnya. Satu villa ramai-ramai. Atur-atur tas, perlengkapan dan pemilihan tempat tidur dan pasangan tidur, selanjutnya kita berendaaaam. Kebetulan villa nya ada pool air panas,,jadilah 6 orang bapak-bapak ini berendam sama-sama  :). Nah selepas berendam, perut pasti lapar donk. Mari keluar menelusuri dinginnya malam Garut.

 

Pagi hari Garut cerah dan sejuk, dan villa Sumber Alam ini (http://www.resort-kampungsumberalam.com/)  sangat bagus untuk bersantai. kalau lah tidak ingat hari ini akan mendaki rasanya akan betah berlama-lama duduk di teras villa sambil menikmati pagi.

Sumber Alam Garut

Sumber Alam Garut

 

Hari Pendakian

Check out dari Sumber Alam kami bergegas menuju ke rumah salah satu orang teman (Bos Rino) yang mana mertuanya adalah orang Garut, jadi kami akan dijamu makan siang dan diberi logistik untuk bekal selama mendaki (tuh kan gimana gak manja pendakian kali ini J). Setelah bersilaturrahmi di rumah Rino, kami melanjutkan perjalanan dan sampai di pos registrasi Papandayan sekitar pukul 11. Isi buku tamu dan bayar uang retribusi . Tak pernahlah aku memulai pendakian di tengah panas begini, biasanya jaman kuliah dulu pendakian selalu dimulai malam sehingga bisa sunrise ketika di puncak, namun karena ini mendaki kategori wisata, hura-hura dan manja ya kita nikmati saja :). Bagi pendaki pemula, atau bagi pendaki yang sudah lama pensiun mendaki Gunung Papandayan yang mempunyai ketinggian 2665 m ini sangat direkomendasikan. Trek yang tidak terlalu berat dan fasilitas yang disediakan gunung ini pun cukup “mewah”. Bayangkan, disini ada guide sekalian porter yang bisa membantu kita menunjukkan jalan sekaligus membawa barang-barang kita. Masih kurang, tenang disini juga ada jasa semacam ojek motor yang bisa bawain logistik kita sampai ke base camp untuk camping nanti. Dan jangan heran, di tengah pendakian kita akan bisa menjumpai warung-warung untuk istirahat lengkap dengan es teh manis, gorengan dan mi rebus :). Seru dan menyenangkan bukan??  Makanya karena trek gunung ini yang bersahabat tidak sedikit pendaki yang saya liat membawa anak kecil.

Foto dulu sebelum mendaki 🙂

Trek awal Papandayan yang dipenuhi bebatuan

Beberapa kawah dengan aktivitas gunung api bisa di jumpai di sepanjang trek pendakian

Gigir yang curam dengan beberapa vegetasi di bawahnya

Kawah Papandayan

Spot yang paling saya suka di trek pendakian ini adalah kawasan yang dikenal dengan nama hutan mati. Disini anda akan melihat banyak batang-batang pohon yang berdiri tegak dan tidak ada daunnya, mungkin ini sisa-sisa dari erupsi terakhir yang terjadi di Papandayan. Sungguh pemandaangan yang indah, deretan hutan mati dengan latar belakangnya bukit bukit yang hijau dan menjulang. Kami cukup lama menghabiskan waktu di spot ini, sekedar istirahat dan mengambil foto sebagai rekam jejak pendakian.

Selamat datang di Hutan Mati

Hutan Mati

Hutan Mati

Menjelang sore, kami sampai di base camp untuk para pendaki camping, namanya Pondok Salada. Lagi-lagi saya dibuat kaget, ramai sekali orang di sini, seperti pasar, semua sudut dipenuhi tenda dan orang lalu-lalang. Kalau menilik dari usia, rata-rata mereka kebanyakan anak-anak SMU. Tenda yang kami bawa amatlah besar dengan warna yang mencolok, oranye, akhirnya tenda ini berhasil menjadi pusat perhatian orang-orang, seperti tenda panitia dalam suatu acara :). Malamnya dihabiskan dengan ngopi, makan, ngobrol apa saja. Aku lupa pukul berapa bisa tidur yang pasti tak akan nyenyak. Karena orang begitu ramai, belum lagi diselingi suara gitar atau portable music player. Benar-benar ramai. Tapi suasana yang kami cari berhasil kami dapatkan disini, keakraban, suka cita, persahabatan terjalin selama naik gunung kali ini. Ini adalah salah satu liburan terbaik bersama teman-teman yang pernah aku punya. Satu hal yang menyiksa di camping ground ini adalah ketika anda mau ke toilet. Disini ada beberapa toilet yang khusus disediakan untuk para pendaki, tapi karena pendaki kali ini sangat ramai jadilah anda harus rela antre lama jika ingin ke toilet. Kadang kalau kelamaan aku tuntaskan di semak belukar saja :).

Tak ada yang banyak diperbuat pagi harinya, aku seperti para pengunjung lain berusaha mencari spot terbaik untuk memotret sunrise, namun kurang beruntung, pagi ini cukup mendung sehingga matahari tidak memperlihatkan bentuk terbaiknya. Aku dan teman teman berdiskusi, apakah kita akan ke puncak pagi ini ? dan semuanya sepakat tanpa perdebatan kalau tidak usah ke puncak, kita disini aja di camping ground. Semua berasalan puncak akan ramai dan suasana yang didapat sepertinya sama dengan disini :), padahal alasan sebenarnya adalah malas dan ingin santai- santai saja di tenda.

Sunrise Papandayan

Menjelang siang, tenda dirapikan dan semua perlengkapan disiapkan, kami memutuskan untuk turun. Trek turun berbeda dengan saat naik, lebih berdebu dan karena kita turun maka debunya akan semkin banyak, jadi masker sangat berarti saat ini. Menjelang sampai pos lapor di bawah, untuk menghilangkan haus di bawah terik matahari kita bisa menghampiri penjual es kelapa muda yang siap dengan kelapa segar dan batu esnya 🙂 .

Perjalanan pulang

Menikmati Papandayan sebelum berlalu

Balik Ke Jakarta

Dunia selalu dua sisi, ada gelap ada terang, ada baik ada buruk, demikian juga dengan sebuah perjalanan, ada datang dan ada pulang. Saatnya untuk pulang, sebenarnya pilhan paling arif setelah lelah dan penuh debu sehabis turun dari Papandayan adalah mandi dan berendam di kolam air panas di Garut. Namun karena waktu yang semakin siang kami memutuskan untuk segera pulang dan bersih-bersihnya nanti di restoran sekalian shalat dan makan siang. Berbeda pada saat berangkat dari Jakarta, perjalanan pulang ini tidak terlalu banyak senda gurau di mobil, sepertinya pada kecapean, kecuali bos Rino yang ada di belakang kemudi, tenaganya gak ada habisnya bagaikan kuda :). Malam sudah cukup lama ketika kami sampai di Jakarta, laron-laron lampu kendaraan dan bisingnya kota segera menggantikan isi telinga dan pandangan setelah kemaren dimanjakan olehnya hijaunya pepohonan dan sejuknya pegunungan. Saatnya kembali ke rumah.

Demikian sedikit cerita tentang liburan kali ini yang sangat seru, menyenangkan dan pastinya tak akan terlupa.

The Guys

(terimakasih untuk kawan-kawan yang sudah bersama-sama menikmati indahnya Papandayan : Bos Rino, Om Teguh, Abah Apri, Mas Wawan dan Umam)

 

Advertisements

About kalasenja

sedang mempersiapkan senja paling indah untuk pulang...
This entry was posted in dunia kerja, hobbies, liburan and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s