Birth and Death

Kelahiran dan kematian yang berjarak setipis kertas. Kelahiran dan kematian yang terpisah dalam hitungan detik.

Hari ini, kembali berada di rumah sakit untuk persiapan lahiran anak ke tiga. Pagi sekitar pukul 07.30 aku sudah berdiri di depan kamar operasi. Istri sudah masuk kedalam bersama perawat untuk persiapan persalinan. Waktu anak kedua lahir aku berkesempatan masuk kedalam menemani istri, melihat segala proses keajaiban itu terjadi. Namun kali ini, karena ruang operasi penuh dengan pasien aku tidak diperkenankan masuk. 

Detik, menit berlalu. Kalimat-kalimat suci keluar melewati lorong lorong rumah sakit terus ke langit. Orang-orang lalu lalang dengan berbagai harapan. Rumah sakit sebenarnya adalah satu tempat dengan banyak cerita dan peristiwa. Satu tempat dengan banyak harapan dan pastinya doa doa seperti aku sekarang ini.

30 menit berlalu aku masih menunggu di depan kamar operasi. Seorang dokter muda lewat dengan bergegas, sepertinya akan ada tindakan di dalam. Jas putih itu benar-benar berwibawa. Aku jadi teringat ketika dulu masih sekolah selalu didoktrin ayah ibuku agar menjadi dokter seperti saudara kami yang orang tua dan semua anak-anak nya adalah dokter dan mempunyai kehidupan yang mapan. Ada semacam role model dan prototipe masa depan yang sudah dicanangkan orang tua ku, namun aku selalu menolak dan tidak tertarik dengan alasan yang sangat teramat naif, aku tak mau jadi dokter, pekerjaannya di ruangan dan selalu tampak rapi jawabku. Kadang kalau aku ingat jadi ketawa sendiri, dengan jawaban ala rebeletion anak muda tanggung dan mentah seperti itu.

Pintu kamar operasi terbuka, wajah seorang perawat dengan masker keluar dari balik pintu seraya berucap, suami nyonya Eka..silahkan masuk dan selamat ya bapak..anak nya sudah lahir. Mari ikut saya. Itu adalah kalimat yang paling dinanti hari ini, saat matahari masih dalam awal perjalanannya. Di depanku saat ini,  seorang anak laki-laki mungil dengan tangisan keras telah lahir ke dunia. Pertemuan pertama ini singkat, perawat mempersilahkan aku untuk ke ruang tunggu operasi karena masih ada tindakan lanjutan untuk bayiku. 

Ruang tunggu operasi, disini cukup penuh dengan orang. Aku duduk di kursi baris kedua dari depan. Baru saja duduk, seorang ibu berkerudung masuk ke dalam ruangan dengan wajah sedu sedan. Ia digandeng oleh seorang ibu lainnya, mungkin seorang kerabat. Mereka melewati kursi tempatku duduk. Lamat-lamat aku mendengar ucapan lirih ibu berkerudung itu, suamiku sudah meninggal. Kerabat nya dengan segala upaya mencoba menenangkan

Ruang tunggu operasi, ruang ini menjadi saksi betapa berita kelahiran yang aku miliki berjalan bersamaan dengan berita kematian milik si ibu. Betapa kelahiran dan kematian itu setipis kertas, teramat dekat. Kelahiran disambut suka, kematian disambut duka. Ada yang datang dan begitu pula akan ada yang pergi. Begitulah dunia. Ada saat hari kita lahir di dunia, akan datang pula hari dimana kita akan meninggalkan semuanya, meninggalkan semua hal yang kita miliki dan cintai. Bersiap untuk melakukan perjalan sunyi seorang diri. Tanpa ada siapapun. 

Sungguh, kelahiran dan kematian itu sangat tipis. Menjadi hikmah bagi orang-orang yang berfikir.

Advertisements

About kalasenja

sedang mempersiapkan senja paling indah untuk pulang...
This entry was posted in aku dan sekitar and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s