Duri

Duri, kota kecil nan kaya akan menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah perjalanan hidupku. Tidak lama aku bertugas disini, sekitar 1 tahun, namun bekas yang ditorehkan oleh kota ini cukup dalam dan membekas. Kau tidak akan pernah dapat menduga apa yang akan terjadi di kehidupanmu kelak. Kau tidak akan pernah menduga kau sampai pada titikmu sekarang ini, di hari ini. Demikian juga diriku, tak pernah terbayangkan aku akan bertugas di kota yang dulu ketika saat liburan sekolah sering aku datangi sembari mengunjungi abang. Kota panas, berdebu namun kaya (bukan masyarakatnya-red). Bukanlah hiburan megah yang ditawarkan kota ini, atau bentang alam yang elok yang memanjakan mata. Tapi waktu-waktu luang untuk menajamkan mata hati, pikiran, kesadaran dan cara pandang akan hidup yang diberikan kota ini. Siang adalah untuk mengejar hari sedangkan malam adalah waktu untuk berdiskusi dengan diri sendiri tentang segala hal. Tentang penciptaan, alam raya, masalah-masalah, sosok-sosok dunia, pengakuan, surga neraka dan tentang bayangan gelap kemarin. Banyak hikmah yang diambil dari persinggahaan sebentar ini, persinggahan yang awalnya sangat aku benci dan tak kusukai.

“….boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui,sedang kamu tidak mengetahui” (QS : Al-Baqarah :216)

 

Kumpulan foto-foto dibawah ini adalah sebagai bentuk kenangan akan waktu-waktu menyenangkan yang diberikan selama bertugas di kota ini. Sebuah diorama kemaren untuk menyambut hari depan yang lebih putih.

Wisma Intan, disini segalanya bermula dan berakhir

Lorong wisma, jadi saksi derap derap langkah pagi buta

Teras wisma, tempat diskusi malam hari

The room

Deretan wisma dari kejauhan

Sore hari selepas kantor

The camp

Rasanya ingin gelar tikar dan piknik disini

men sana in corpore sano

The office

Office mates

Break !!!

Banyak hutang budi sama bis kuning ini, Duri-Pekan

Pak Yas dan Pak Tom, teman dalam perjalanan setiap Jumat

Ada sajadah panjang terbentang, Mesjid Ushuluddin. Ternyata tempat paling tenang itu adalah Mesjid

Warung MAU, tempat membeli kebutuhan sehari-hari

Comissary

Tempat ngopi favorit, Zety Cafe

Chopper

Aku juga menemukan mu di sini, Senja !!!

Pulang

 

 

Advertisements

About kalasenja

sedang mempersiapkan senja paling indah untuk pulang...
This entry was posted in dunia kerja. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s